Key Strategy: Petani Banyuwangi olah buah naga afkir jadi produk bernilai tambah

Petani Banyuwangi Kelola Buah Naga Afkir Jadi Produk Ber nilai Tambah

Key Strategy – Banyuwangi – Kelompok Tani Sinar Cabe di Desa Sumbermulyo, Kecamatan Pasanggaran, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, telah menemukan solusi inovatif untuk mengatasi masalah buah naga yang tidak laku di pasaran. Buah-buah yang mengalami kerusakan fisik ringan, seperti pecah akibat benturan atau pengemasan, kini diolah menjadi produk bernilai tambah untuk meminimalkan pemborosan hasil panen.

Transformasi Buah Naga Afkir

Ketua kelompok tani, Sumartini, menjelaskan bahwa buah naga yang tidak memenuhi standar pasar segar sering kali dianggap sebagai produk reject. “Buah-buah yang belum bisa menghasilkan keuntungan adalah yang terbuang, tapi mereka tetap bisa dimanfaatkan,” katanya saat diwawancara di Banyuwangi, Jumat. Ia menambahkan, buah naga dengan kerusakan fisik kecil, meski masih layak konsumsi, sulit laku di pasaran karena ketidaksempurnaan penampilan.

“Yang reject itu buah yang pecah sedikit, tapi masih bagus. Kena benturan, pecah, itu sudah tidak laku di pasaran,” ujar Sumartini.

Untuk mengoptimalkan penggunaan hasil panen, kelompok tani melakukan penyortiran berdasarkan ukuran, bobot, kadar gula, dan kondisi fisik. Buah berkualitas terbaik dikelompokkan ke dalam kategori grade A untuk dijual ke pasar modern, sedangkan grade B dan C diperuntukkan bagi segmen lain dengan harga lebih rendah. Sementara buah afkir, yang mengalami kerusakan ringan, diperlakukan secara berbeda.

Sumartini menjelaskan bahwa buah naga afkir diolah menjadi sale buah naga melalui kerja sama dengan mitra usaha. Proses pengeringan dilakukan oleh petani, sementara pengolahan lebih lanjut diakui oleh pihak ketiga. Produksi sale buah naga dimulai bulan Maret 2024 hingga Juni 2026, dengan total 19.125 kemasan yang telah terjual habis. Harga jual per kemasan mencapai Rp24.000, dengan total pendapatan sekitar Rp459 juta sejak dimulai.

Inisiatif Pengembangan Produk Olahan

Kelompok tani tidak hanya memproduksi sale buah naga, tetapi juga mengembangkan dodol dan bolu buah naga. Dodol diproduksi sesuai permintaan, sedangkan bolu masih dalam tahap pengembangan. “Produksi dodol dilakukan berdasarkan pesanan, sementara bolu masih butuh pematangan,” ungkap Sumartini.

Dalam upaya memperluas pemasaran, kelompok tani juga mengirim sampel produk buah naga kering ke Belanda pada 2025. Langkah ini bagian dari penjajakan pasar, meski produk tersebut belum dipasarkan secara komersial. Selain itu, buah naga yang tidak terjual diterapkan sebagai bahan baku pupuk organik cair, sehingga limbah bisa diubah menjadi sumber daya ekonomi.

“Kita sekelompok punya inisiatif, buah-buah yang tidak laku kita bikin pupuk organik cair untuk diaplikasikan lagi ke buah naga,” jelas Sumartini.

Proses transformasi ini mendapat bantuan dari Yayasan Astra–Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Koordinator YDBA di Banyuwangi, Azzuhri Tri Ahara, menyebutkan bahwa pendampingan dimulai dari Program Desa Sejahtera Astra (DSA) yang masuk ke Desa Sumbermulyo untuk meningkatkan akses pasar ketika harga buah naga turun. Program ini semakin berkembang, menyentuh berbagai aspek seperti budidaya, pengelolaan usaha, dan pascapanen.

“Pendampingan kemudian diperluas mulai dari penguatan budidaya, administrasi kelompok, kelembagaan, legalitas usaha, penanganan pascapanen, hingga pengembangan produk olahan,” ucap Azzuhri.

Sejak November 2021, YDBA memperkuat pendampingan dengan pendirian cabang di Banyuwangi. Upaya ini membantu kelompok tani mengembangkan standar operasional prosedur (SOP) di seluruh tahapan produksi, mulai dari penyortiran, grading, hingga pengemasan. Selain itu, kelompok tani mendapatkan dukungan dalam pemenuhan hak kekayaan intelektual (HAKI) dan izin pangan industri rumah tangga (PIRT).

Peningkatan Produksi dan Pemasaran

Proses pendampingan dari YDBA juga mendorong petani memproduksi pupuk organik dan agen hayati secara mandiri. Dengan sistem 5R, pengendalian hama dan penyakit menjadi lebih efektif, serta manajemen produksi terstruktur. Hasilnya, buah naga organik yang dihasilkan memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan buah konvensional.

“Grade A1 buah naga organik dijual dengan harga sekitar Rp22.000 per kilogram, sedangkan buah biasa di pasaran hanya Rp17.000 per kg,” kata Sumartini. Kenaikan harga ini berdampak signifikan pada pendapatan petani, karena mereka bisa memperoleh keuntungan lebih dari hasil panen yang sebelumnya terbuang.

Keberlanjutan Budidaya dan Ekonomi

Dengan metode pengolahan yang lebih sistematis, kelompok tani tidak hanya meningkatkan nilai tambah hasil tanam, tetapi juga memperkuat keberlanjutan budidaya organik. Limbah dari buah naga afkir dimanfaatkan sebagai pupuk cair, yang memberikan manfaat ganda. “Sampah buah naga jadi bahan baku untuk pupuk, sehingga lingkungan tetap hijau dan ekonomi petani tetap berjalan,” tambah Sumartini.

Keberhasilan inisiatif ini membuktikan bahwa inovasi dalam pengolahan hasil pertanian bisa mengubah situasi. Dari buah yang sebelumnya terbuang, kini menjadi produk yang diminati di berbagai wilayah, termasuk Jawa Timur, Bali, dan Yogyakarta. Distribusi melalui lokapasar dan gerai ritel modern memperluasjangkauan pasar, memastikan produk bisa terserap secara optimal.

Harapan untuk Masa Depan

Sumartini optimis bahwa kebijakan ini akan terus berkembang. “Semuanya harus bisa dimanfaatkan, jadi tidak ada yang terbuang,” tegasnya. Ia berharap pendapatan petani terus meningkat dengan adanya variasi produk dan pengelolaan yang lebih baik. Seiring waktu, kelompok tani juga terus memperluas jaringan distribusi dan menjajaki pasar internasional.

Azzuhri menegaskan bahwa pendampingan YDBA tidak hanya fokus pada pemasaran, tetapi juga pada peningkatan kualitas produksi. “Kita membantu petani membangun kelembagaan yang kuat, sehingga mereka bisa mengelola usaha secara mandiri,” ujarnya. Langkah ini membuka peluang bagi petani untuk terus berkembang, baik secara ekonomi maupun teknis budidaya.

Program DSA telah membuktikan bahwa kolaborasi antara lembaga swadiri dan organisasi pendamping bisa menghasilkan perubahan signifikan. Dengan adanya SOP yang terstandarisasi, ketahanan produk dan kualitas pasar meningkat, mendorong kelompok tani menghasilkan lebih banyak keuntungan. Sumartini menilai bahwa inisiatif ini tidak hanya membantu petani, tetapi juga memberikan contoh untuk wilayah lain.