Main Agenda: BKPM ungkap sejumlah program strategis di 2027

BKPM Ungkap Program Strategis untuk Tahun 2027

Main Agenda – Menjelang tahun 2027, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merencanakan sejumlah inisiatif strategis untuk memperkuat ekosistem investasi nasional, mendorong pertumbuhan pembangunan yang merata, serta mempercepat agenda hilirisasi. Dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI di Jakarta, Senin (10 Mei 2026), Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menegaskan komitmen pihaknya untuk melanjutkan program yang sudah berjalan pada tahun sebelumnya sekaligus mempercepat realisasi prioritas di tahun berikutnya. Menurut Rosan, program-program ini bertujuan meningkatkan daya saing Indonesia dalam menarik investasi asing, sekaligus memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi melalui pengelolaan sumber daya yang lebih efektif.

Penguatan Teknologi dalam Sistem OSS

Salah satu program utama yang akan diterapkan pada 2027 adalah pengembangan sistem Online Single Submission (OSS) dengan integrasi teknologi kecerdasan buatan (AI), big data, dan blockchain. Langkah ini dirancang untuk meningkatkan akurasi, transparansi, serta keandalan proses pelayanan investasi. Rosan menekankan bahwa penerapan teknologi ini tidak hanya mempercepat pengurusan izin, tetapi juga meminimalkan kesalahan manusiawi, sehingga membuat prosedur lebih efisien dan terstandar. Dengan adanya AI, sistem dapat menganalisis data secara real-time, sementara blockchain berperan dalam memastikan keamanan dan integritas dokumen yang diproses.

Integrasi RDTR ke Sistem OSS

Dalam upaya mempercepat proses perizinan investasi, BKPM juga akan memperluas integrasi Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) dari kabupaten dan kota ke dalam sistem OSS. Pihaknya menyebutkan bahwa target integrasi RDTR pada 2027 mencakup 400 daerah tambahan, sehingga totalnya mencapai 800 kabupaten/kota. Saat ini, hingga 8 Juni 2026, telah terdapat 570 RDTR yang terintegrasi, meliputi 38 provinsi dan 300 kota. Integrasi ini diharapkan memudahkan investor dalam mengakses informasi tata ruang, serta mengurangi waktu dan biaya yang diperlukan untuk menyelesaikan prosedur izin.

Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK)

Program Kemudahan Investasi Langsung Konstruksi (KLIK) menjadi salah satu fokus BKPM di 2027. Rosan menjelaskan bahwa program ini bertujuan mengoptimalkan proses penanaman modal, khususnya dalam sektor infrastruktur dan konstruksi. Dengan adanya KLIK, pemerintah berharap memberikan kemudahan bagi investor yang ingin langsung memulai proyek konstruksi tanpa perlu melalui langkah tambahan. Selain itu, BKPM juga akan memperkuat perencanaan kebijakan penanaman modal, termasuk pengembangan kebijakan yang lebih fleksibel dan berorientasi pada kebutuhan daerah-daerah tertentu.

Peran Indonesian Investment Promotion Center (IIPC) di Tiongkok

Dalam rangka memperluas promosi dan fasilitasi investasi, BKPM berencana memperkuat peran Indonesian Investment Promotion Center (IIPC) di Tiongkok. Langkah ini mencakup penambahan kantor perwakilan di kota Guangzhou, selain yang sudah ada di Beijing. “Kami juga berencana memperkuat lembaga IIPC di Tiongkok dengan menambah perwakilan kami di Guangzhou, selain di Beijing karena kami juga sudah berada di Beijing sebagai pusat manufaktur dan perdagangan global di Tiongkok Selatan, mengingat investasi dari Tiongkok ini mengalami peningkatan yang cukup baik dan cukup signifikan,” kata Rosan. Penambahan kantor perwakilan di Guangzhou diharapkan menjadi titik tolak untuk menarik lebih banyak investor dari wilayah tersebut, yang memiliki potensi pertumbuhan ekonomi tinggi.

Agenda Hilirisasi Nasional

Besides teknologi dan integrasi tata ruang, penguatan tata kelola investasi nasional menjadi prioritas BKPM di 2027. Rosan menuturkan bahwa upaya ini dilakukan melalui penguatan ekosistem hilirisasi, terutama dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam. Program ini mencakup percepatan penerbitan Rancangan Peraturan Presiden (RPerpres) tentang hilirisasi investasi strategis, serta pengawalan terhadap 18 proyek hilirisasi prioritas yang telah ditetapkan. Selain itu, BKPM juga fokus pada percepatan realisasi investasi pada 28 komoditas strategis nasional, seperti minyak bumi, gas alam, dan batu bara, untuk memastikan ketergantungan ekonomi bisa diminimalkan.

Pengembangan Ekosistem Investasi

Agar ekosistem investasi nasional lebih kuat, BKPM berencana menambahkan fasilitas digital yang lebih canggih ke dalam sistem OSS. Teknologi AI akan digunakan untuk mengotomatisasi pengajuan izin, sementara big data membantu dalam analisis risiko dan peluang investasi. Blockchain, di sisi lain, akan memastikan semua dokumen yang diproses tidak dapat dimanipulasi. Selain itu, program ini juga bertujuan memperkuat kerja sama dengan lembaga pemerintah daerah serta sektor swasta, sehingga membangun kepercayaan bersama dalam menjalankan proyek investasi.

Strategi untuk Meningkatkan Daya Tarik Investasi

Menurut Rosan, penguatan ekosistem investasi nasional tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada aspek kebijakan. Ia menyebutkan bahwa BKPM akan memperbaiki regulasi yang relevan agar lebih mendukung pengembangan sektor hilirisasi. Dengan adanya kebijakan yang lebih terpadu, pemerintah berharap mendorong investasi ke berbagai daerah, termasuk daerah-daerah yang sebelumnya kurang mendapat perhatian. Selain itu, BKPM juga berencana meningkatkan koordinasi dengan institusi keuangan internasional, sehingga memperkuat kerja sama dalam menarik modal asing.

Langkah Konkrit untuk Tahun 2027

Dalam rangka mencapai target tahunan, BKPM menyiapkan berbagai langkah konkrit. Peningkatan kapasitas OSS menjadi prioritas utama, dengan target selesai pada akhir 2026. Proses integrasi RDTR juga akan dipercepat melalui kolaborasi dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Dalam sambutan Rosan, ia menekankan bahwa penerapan RDTR di 400 kabupaten/kota akan membuka akses informasi yang lebih luas bagi investor, terutama di daerah-daerah yang membutuhkan dukungan pemerintah.

Kemitraan dengan Investor Asing

Rosan juga menyoroti pentingnya kemitraan dengan investor asing dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menyebutkan bahwa