Bahlil pasok kebutuhan gas industri di Jabar dari Maluku hingga Papua
Bahlil Pasok Kebutuhan Gas Industri di Jabar dari Maluku Hingga Papua
Bahlil pasok kebutuhan gas industri di Jabar – Tuban, Jawa Timur (ANTARA) – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa pihaknya sedang memastikan pasokan gas industri untuk daerah-daerah seperti Jawa Barat, Banten, dan Jakarta melalui penggunaan LNG (Liquefied Natural Gas). Menurut Bahlil, kebutuhan gas industri yang semakin tinggi di kawasan tersebut mengharuskan pengisian kekurangan melalui pengambilan LNG dari berbagai wilayah seperti Maluku, Sulawesi, Papua, dan Kalimantan. Pernyataan ini disampaikannya setelah melakukan peresmian Mini LNG Plant PT Sumber Aneka Gas di Tuban, Jawa Timur, pada hari Kamis.
Lifting Gas dan Pasokan LNG
“Karena terjadi penurunan lifting, kemudian kekurangannya itu diisi dengan LNG yang diambil dari Maluku, Sulawesi, Papua dan Kalimantan,” kata Bahlil. Ia menjelaskan bahwa penurunan lifting gas di kawasan Jabar, Banten, serta Jakarta menjadi penyebab utama kenaikan harga gas industri yang dialami para pelaku usaha di sana. Lifting gas, atau volume gas yang diproduksi dan dialirkan, menurun sehingga memengaruhi pasokan gas pipa. Hal ini mendorong kebutuhan industri gas untuk dipenuhi dengan pasokan LNG sebagai alternatif. “Itu yang membuat harga ada penyesuaian,” lanjut Bahlil.
“Karena terjadi penurunan lifting, kemudian kekurangannya itu diisi dengan LNG yang diambil dari Maluku, Sulawesi, Papua dan Kalimantan,” ujar Bahlil setelah meresmikan Mini LNG Plant PT Sumber Aneka Gas di Tuban, Jawa Timur, Kamis.
Menurut Bahlil, harga gas industri di kawasan Jawa Timur masih relatif stabil. Namun, di wilayah Jawa Barat, Banten, Bekasi, serta Jakarta, kenaikan harga terjadi karena menurunnya lifting gas. Situasi ini berdampak pada distribusi gas pipa, sehingga perlu diisi dengan pasokan LNG dari daerah lain. Pemenuhan kebutuhan gas industri melalui LNG menjadi solusi sementara untuk menjaga stabilitas pasokan di tengah krisis lifting. Meskipun terjadi penyesuaian harga, Bahlil menegaskan bahwa pasokan LNG akan terus dipertahankan untuk memenuhi kebutuhan industri.
Respons Dewan Perwakilan Rakyat
Kenaikan harga gas industri tidak hanya memengaruhi operasional perusahaan, tetapi juga berpotensi menyebabkan pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa sektor. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengatakan dewan telah memperhatikan laporan mengenai risiko PHK terhadap lebih dari 50 ribu orang di salah satu pabrik keramik di Bekasi, Jawa Barat. Laporan ini disampaikan oleh Ketua Umum KSPSI (Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) Andi Gani Nena Wea, yang menyatakan bahwa PHK berpotensi terjadi dalam 7-10 hari ke depan di pabrik keramik terbesar di Bekasi.
“Ya, jadi setelah kontak nanti saya juga sudah janjian dengan perwakilan dari teman-teman serikat pekerja yang terdampak. Kemudian untuk bertemu dengan Dirut Pertamina, mungkin besok, untuk kemudian membicarakan solusi mengenai perusahaan-perusahaan tadi yang mungkin bisa berdampak terhadap 55 ribu karyawan,” ujar Dasco.
Dasco menyampaikan bahwa dewan siap melakukan mitigasi untuk mengatasi dampak kenaikan harga gas industri. Ia berjanji akan berkoordinasi dengan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) guna mencari solusi penyesuaian harga yang bisa diakses oleh perusahaan-perusahaan terdampak. Dengan adanya kerja sama antara pihak pemerintah dan pengusaha, diharapkan PHK dapat diminimalkan atau dihindari. “Aman, aman semuanya. Untuk ekspor LNG nggak ada yang dipotong,” tambah Bahlil, menegaskan bahwa tidak ada rencana pemangkasan kuota ekspor LNG di semester II 2026.
Analisis Kebutuhan Gas dan Solusi Jangka Panjang
Bahlil menjelaskan bahwa pasokan LNG dari berbagai daerah merupakan strategi jangka pendek untuk mengatasi krisis lifting gas. Namun, ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah sedang berupaya meningkatkan produksi gas secara bertahap. Pemangkasan kuota ekspor LNG pernah terjadi pada 2025 sebagai upaya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi pada semester II 2026, kebijakan tersebut akan diperbaiki. “Tidak ada pemangkasan kuota ekspor LNG pada semester II 2026,” ujarnya.
Kenaikan harga gas industri berdampak signifikan terhadap sektor manufaktur dan industri di Jawa Barat. Industri keramik, misalnya, menjadi salah satu sektor yang terancam karena biaya produksi meningkat. Bahlil menegaskan bahwa pasokan LNG akan tetap menjadi bagian dari strategi pasokan gas nasional hingga ada peningkatan volume lifting dari sumber lokal. Ia juga meminta perusahaan-perusahaan yang terdampak untuk bekerja sama dalam mencari solusi yang optimal.
Dasco menambahkan bahwa pihak DPR akan terus memantau situasi ini dan memberikan dukungan jika diperlukan. Ia menekankan pentingnya komunikasi antara pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja dalam mengatasi tantangan ekonomi akibat kenaikan harga bahan bakar. “Dewan akan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengurangi dampak negatif PHK,” ujarnya.
Perspektif Ekonomi dan Kebijakan Energi
Perubahan harga gas industri menunjukkan dinamika pasokan energi di Indonesia. Meski pasokan LNG dari daerah lain menjadi solusi sementara, pemerintah tetap berkomitmen untuk memperbaiki sistem distribusi gas pipa. Bahlil menegaskan bahwa kebutuhan industri tidak akan terganggu, sebab pasokan LNG akan tetap dipastikan. Di sisi lain, kenaikan harga gas juga menjadi perhatian utama bagi industri-industri yang rentan terhadap fluktuasi harga.
Situasi ini mengingatkan bahwa ketergantungan pada pasokan LNG dapat menjadi risiko jika lifting gas tidak stabil. Pemerintah perlu memastikan ketersediaan sumber daya energi yang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan industri, sekaligus menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor. Dasco menilai bahwa kenaikan harga gas industri harus diimbangi dengan kebijakan yang melindungi para pekerja, terutama di daerah-daerah yang rentan.
Sebagai langkah antisipatif, pemerintah bersama PT Pertamina (Persero) akan menggelar diskusi untuk menyesuaikan harga gas industri. Diskusi ini bertujuan mengidentifikasi solusi terbaik, baik melalui peningkatan pasokan LNG maupun penyesuaian harga bahan bakar. Bahlil menilai bahwa kenaikan harga tidak akan berdampak permanen selama ada kebijakan yang tepat. “Kita harus bersama-sama mencari jalan keluar agar industri tetap bisa berkembang,” tutur Bahlil dalam wawancara terpisah.
Dengan adanya pasokan LNG yang terus dijaga, pemerintah berharap stabilitas pasokan energi dapat terjaga. Namun, perlu ada peningkatan produksi gas dari sumber lokal untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan
