Solution For: ARC USK: Hilirisasi nilam dalam negeri perlu diperkuat ke pasar global

Solution For – “`html

Solution For: ARC USK Dorong Hilirisasi Nilam ke Pasar Global

Solution For memperkuat industri minyak nilam nasional menjadi prioritas utama. Atsiri Research Center Universitas Syiah Kuala atau ARC USK menegaskan bahwa hilirisasi nilam dalam negeri harus diperkuat agar mampu bersaing di pasar internasional. Solution For ini muncul sebagai respons terhadap tantangan regulasi global yang semakin ketat, terutama dari negara-negara tujuan ekspor utama Indonesia.

Tantangan Regulasi Uni Eropa

Syaifullah Muhammad, Kepala ARC USK, menyampaikan bahwa pasar Uni Eropa memiliki standar regulasi paling ketat untuk industri minyak nilam. Dalam pernyataannya di Banda Aceh pada hari Jumat, ia menjelaskan bahwa Solution For terbaik adalah mempercepat proses hilirisasi komoditas nilam di dalam negeri.

“Industri minyak nilam global menghadapi gelombang regulasi baru yang ketat, terutama dari pasar Uni Eropa. Maka Indonesia perlu memperkuat hilirisasi,” kata Syaifullah Muhammad.

Menurutnya, seluruh elemen pentahelix di Indonesia perlu bekerja sama untuk memperkuat ekosistem rantai pasok dan hilirisasi dalam negeri. Standardisasi industri nilam nasional juga harus diperketat, mulai dari hulu hingga hilir, agar produk Indonesia tetap kompetitif di kancah internasional.

Kunjungan ke Eropa dan Temuan Penting

Baru-baru ini, tim ARC USK melakukan kunjungan ke Prancis sebagai bagian dari upaya memahami perkembangan industri wewangian dunia. Solution For yang ditawarkan melalui kunjungan ini adalah memahami standar internasional secara langsung. Selama berada di benua Eropa, delegasi tersebut sempat mengunjungi perusahaan multinasional wewangian bernama Firmenich.

Selain itu, mereka juga berpartisipasi dalam workshop parfum internasional yang memberikan wawasan berharga. Di sana, tim ARC mendapatkan informasi penting bahwa industri wewangian dunia saat ini berada di bawah pengawasan regulasi yang jauh lebih ketat, khususnya di kawasan Uni Eropa.

Syaifullah menjelaskan beberapa standar baru yang mulai diberlakukan secara masif, antara lain REACH terkait penarikan produk yang tidak patuh dari pasar, CLP untuk standar pelabelan, pemantauan zat tertentu oleh ECHA, hingga aturan kemasan berkelanjutan melalui PPWR dan ISO.

“Diantaranya, ada standar baru seperti REACH terkait penarikan produk yang tidak patuh dari pasar, CLP untuk standar pelabelan, pemantauan zat tertentu oleh ECHA, hingga aturan kemasan berkelanjutan melalui PPWR dan ISO kini mulai diberlakukan secara masif,” ujarnya.

Timeline Implementasi Regulasi

Syaifullah menjelaskan bahwa inisiasi kepatuhan terhadap regulasi tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak tahun 2025. Solution For ini memerlukan persiapan matang karena fase implementasi regulasi berjalan sepanjang tahun 2026, dengan batas akhir pemenuhan kepatuhan atau compliance pada tahun 2028.

Aturan tersebut bakal diberlakukan secara penuh pada tahun 2029 untuk berbagai bahan komponen atau ingredien parfum dunia, termasuk minyak nilam. Regulasi ini, lanjut dia, bakal berdampak langsung terhadap peningkatan standar di berbagai lini produksi.

Salah satu aspek penting adalah kewajiban dokumentasi rantai pasok atau supply chain traceability yang sangat ketat. Hal ini menjadi tantangan serius bagi komoditas nilam Indonesia, khususnya di Aceh, yang sebagian besar proses budidaya dan penyulingannya masih dikelola secara tradisional oleh masyarakat lokal.

Keberlanjutan Industri Nilam Aceh

Situasi ini menjadi alarm dan tantangan serius bagi komoditas nilam Indonesia, khususnya di Aceh, yang sebagian besar proses budidaya dan penyulingannya masih dikelola secara tradisional oleh masyarakat.

Kepatuhan terhadap SOP di setiap lini produksi sudah tidak bisa ditawar lagi. Solution For konkret yang ditawarkan adalah mulai dari pembibitan, teknik budidaya, perawatan tanaman, proses penyulingan, hingga pengemasan dan pelabelan harus memenuhi standar internasional. Syaifullah menegaskan bahwa jika Indonesia gagal memenuhi standar ini, maka konsekuensinya minyak nilam akan ditolak oleh pembeli luar negeri.

“Jika kita gagal memenuhi standar ini, maka konsekuensinya minyak nilam kita akan ditolak oleh pembeli luar negeri,” tegasnya.

Solusi Konkret untuk Masa Depan

Untuk itu, sebagai solusi konkret, Syaifullah mendorong adanya pembinaan intensif yang terintegrasi bagi para petani, penyuling, dan eksportir lokal agar mampu beradaptasi dengan standar tinggi yang diminta pasar global. Karena, kunci pertahanan ekonomi nilam nasional juga terletak pada percepatan hilirisasi.

Oleh sebab itu, Indonesia harus memperkuat hilirisasi dalam negeri. Solution For ini memungkinkan Indonesia menetapkan standar nasional sendiri untuk minyak nilam dan produk turunannya. Syaifullah menambahkan bahwa melalui sentuhan teknologi purifikasi dan formulasi, Indonesia bisa memproses minyak atsiri ini menjadi produk bernilai tambah tinggi yang siap bersaing di pasar global.

“`