Yang Dibahas: Politik sepekan, HUT TNI AU hingga empat pesawat angkut A400M
Politik sepekan, HUT TNI AU hingga empat pesawat angkut A400M
Jakarta – Dalam seminggu terakhir, berbagai peristiwa politik menjadi sorotan, mulai Senin (6/4) hingga Minggu (12/4) pukul 06.00 WIB. Berikut lima berita penting yang dapat Anda baca pagi ini, yang mencakup momen perayaan HUT TNI Angkatan Udara ke-80 pada 9 April 2026 dan pernyataan TNI AU terkait rencana pembelian empat pesawat angkut A400M.
Penerbangan pesawat presiden dijaga oleh enam jet tempur
Selama perayaan HUT TNI Angkatan Udara, Kamis (9/4), penerbangan Pesawat Kepresidenan Indonesia One diawasi oleh enam pesawat tempur, yaitu empat F-16 Fighting Falcon dan dua KAI T-50 Golden Eagle. Momen ini terjadi saat Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kerja ke Magelang, Jawa Tengah.
KSAU TNI AU menunggu keputusan Kemenhan
Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohamad Tonny Harjono menyatakan bahwa TNI AU sedang menunggu keputusan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) tentang rencana penambahan empat unit pesawat angkut A400M. Pernyataan ini dilayangkan menjelang pembelian alat utama yang diperkirakan memperkuat kapasitas operasional TNI AU.
Presiden menyampaikan optimisme tentang kebangkitan Indonesia
Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa Indonesia telah bangkit menjadi kekuatan besar global, atau ‘rising giant,’ saat meresmikan fasilitas perakitan kendaraan listrik PT VKTR Sakti Industries di Magelang, Jawa Tengah, Kamis (9/4).
Pertemuan presiden soal pengembangan hunian di area rel kereta
Pada Senin (6/4), Presiden Prabowo Subianto mengadakan pertemuan dengan Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, Menteri Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Brian Yuliarto, serta Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia Bobby Rasidin. Topik utama dalam diskusi ini adalah pembangunan hunian di sekitar rel kereta api.
Presiden menekankan pentingnya sikap tegas dalam pembangunan bangsa
Presiden Prabowo mengungkapkan bahwa sikap keras kepala sering kali dibutuhkan oleh sebuah bangsa, terutama saat menghadapi tantangan dan mempertahankan prinsip. Pernyataan ini diucapkan dalam konteks upaya membangun kekuatan nasional yang lebih solid.
