Key Strategy: Dirut baru PTPN I siapkan lima pilar transformasi perusahaan

Dirut Baru PTPN I Siapkan Lima Pilar Transformasi Perusahaan

Key Strategy – Jakarta, Sabtu (25 Mei 2024) – PTPN I, salah satu perusahaan agribisnis terkemuka, kini memiliki kepemimpinan baru yang memulai proses revolusi internal. Abdul Rivai Ras, yang baru menjabat sebagai Direktur Utama (Dirut), telah menyusun lima arah utama untuk mereformasi operasional perusahaan. Transformasi ini bertujuan memperkuat sistem pengelolaan korporasi dan meningkatkan daya saing di tengah tantangan industri perkebunan yang semakin dinamis.

Lima Strategi Utama Transformasi

Menurut Rivai, lima pilar yang menjadi dasar perubahan ini mencakup penguatan tata kelola perusahaan, peningkatan manajemen risiko, penerapan transformasi digital, optimalisasi pengelolaan aset, serta pengembangan hubungan kelembagaan. “Amanah ini bukan hanya tentang memimpin perusahaan perkebunan, tetapi tentang mempercepat proses perubahan agar PTPN I menjadi entitas yang lebih modern, profesional, dan adaptif,” jelasnya dalam pernyataan resmi.

“Transformasi adalah kerja bersama. Mari kita jadikan momentum ini sebagai kesempatan membangun perusahaan yang semakin profesional, semakin modern, semakin kompetitif, dan semakin membanggakan,” tambah Rivai.

Dalam menjelaskan visinya, Rivai menekankan bahwa industri perkebunan kini menghadapi tantangan yang lebih kompleks. “Kita tidak hanya perlu meningkatkan produksi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan global, termasuk persaingan internasional, dampak perubahan iklim, dan kebutuhan digitalisasi,” tuturnya.

Tata Kelola dan Manajemen Risiko

Rivai menyatakan bahwa tata kelola perusahaan merupakan fondasi kritis untuk pertumbuhan yang berkelanjutan. “Proses bisnis harus berjalan transparan, akuntabel, disiplin, dan didukung oleh sistem manajemen risiko yang matang,” katanya. Hal ini penting karena PTPN I mengelola aset negara dalam skala besar, sehingga setiap keputusan harus dipertimbangkan secara hati-hati untuk menjaga keberlanjutan operasional.

Dalam rangka mendukung ini, pembentukan Direktorat Keuangan dan Manajemen Risiko di dalam struktur direksi baru dianggap sebagai langkah strategis. Direktorat ini diperkenalkan untuk menghadapi berbagai risiko, seperti fluktuasi harga komoditas, perubahan regulasi internasional, dan penerapan prinsip ESG (Environmental, Social, dan Governance) dalam operasional perusahaan.

“Perusahaan tidak bisa hanya fokus pada laba. Kami juga harus mengelola risiko secara sistematis agar keberlanjutan usaha tetap terjaga,” ujarnya.

Digitalisasi sebagai Penyelaras Operasional

Dalam bidang teknologi, Rivai menekankan bahwa transformasi digital bukan hanya tentang adopsi alat atau software, tetapi juga pergeseran mindset dalam cara kerja dan pengambilan keputusan. “Digitalisasi akan membantu meningkatkan efisiensi, mempercepat respons bisnis, serta memperkuat transparansi di seluruh rantai operasional,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa perubahan budaya kerja menjadi faktor penentu dalam suksesnya transformasi digital. “Kami ingin menciptakan lingkungan di mana keputusan diambil dengan data yang akurat dan alat-alat teknologi terkini,” tambah Rivai. Selain itu, ia menggarisbawahi bahwa digitalisasi akan mempercepat inovasi dalam proses produksi dan distribusi, yang krusial untuk menghadapi persaingan di pasar global.

Optimalisasi Aset Negara

Rivai juga menyatakan bahwa optimalisasi aset menjadi salah satu prioritas utama transformasi. “Kami ingin memastikan setiap sumber daya yang dikelola dapat memberikan kontribusi maksimal bagi perusahaan, masyarakat, dan negara,” katanya. Dalam konteks ini, pengelolaan aset negara akan ditingkatkan melalui strategi yang lebih terukur, seperti investasi pada teknologi pemrosesan dan pengembangan sumber daya manusia.

Keberhasilan optimalisasi ini diharapkan dapat meningkatkan nilai ekonomi yang dihasilkan oleh perusahaan. Rivai menegaskan bahwa perusahaan harus menjadi penyalur nilai tambah yang tidak hanya terlihat dari profit, tetapi juga dari dampak sosial dan lingkungan yang dibawa ke berbagai tingkat.

Kolaborasi dengan Pemangku Kepentingan

Rivai menyatakan bahwa transisi PTPN I ke era modern tidak bisa tercapai sendirian. “Kami membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, regulator, DPR, lembaga hukum, akademisi, pelaku usaha, hingga masyarakat sekitar,” katanya. Kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang saling mendukung dan mengurangi risiko di berbagai lini.

Dalam proses transformasi, Rivai berharap bahwa semua pihak dapat berpartisipasi aktif. “Kolaborasi yang solid akan membawa keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan tanggung jawab sosial,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya keberlanjutan ekosistem, baik dalam hal lingkungan maupun masyarakat, sebagai bagian dari visi perusahaan.

Kebijakan yang diusung oleh Dirut baru ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju transformasi yang lebih menyeluruh. Dengan lima pilar yang dijelaskan, PTPN I ditargetkan menjadi korporasi agribisnis yang mampu bersaing di tingkat global sekaligus menjaga keseimbangan antara profitabilitas dan kontribusi sosial. Rivai berharap, perusahaan dapat menjadi contoh yang inspiratif bagi industri perkebunan lainnya.