What Happened During: Pemerintah apresiasi tadisi lama “Kenduri Sko” di Jambi tetap lestari
Pemerintah Apresiasi Tradisi Lama “Kenduri Sko” di Jambi Tetap Terjaga
What Happened During – Kota Sungai Penuh, Jambi (ANTARA) – Gubernur Jambi Al Haris memberikan penghargaan kepada masyarakat setempat atas upaya mereka dalam mempertahankan ritual adat “Kenduri Sko”, yang merupakan tradisi lama suku Kerinci. Pernyataan itu diungkapkan saat gubernur menghadiri acara Kenduri Sko Enam Luhah di Tanah Mendapo, Sabtu. Acara ini dianggap sebagai bentuk kebudayaan sakral yang masih hidup hingga hari ini, meski kini telah diakui sebagai bagian dari kota.
Ritual Adat Kenduri Sko: Simbol Kebudayaan yang Terus Dihidupkan
Kenduri Sko, sebagaimana dijelaskan oleh Gubernur Al Haris, adalah upacara adat yang berperan penting dalam menegaskan identitas budaya masyarakat suku Kerinci. Acara ini tidak hanya berfungsi sebagai cara untuk memperkuat gelar adat, tetapi juga sebagai ekspresi rasa syukur atas hasil pertanian dan alam. Dalam kesempatan tersebut, Al Haris menekankan bahwa adat bukan sekadar ritual, tetapi juga mewakili pola pikir dan nilai kehidupan masyarakat setempat.
“Adat adalah cara kita memahami hidup, menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan sang pencipta. Ia menunjukkan bagaimana adat dan agama saling memperkuat,” kata Al Haris.
Pernyataan gubernur menggarisbawahi pentingnya keberlanjutan tradisi dalam konteks modernisasi. Ia menilai bahwa penyelenggaraan Kenduri Sko kali ini memiliki makna historis karena diadakan setelah Sungai Penuh resmi menjadi kota. Terakhir, ritual ini dijalankan 19 tahun silam, ketika daerah tersebut masih merupakan bagian dari Kabupaten Kerinci. Hal ini menunjukkan semangat pelestarian budaya yang terus berjalan meski lingkungan sosialnya berubah.
Momen Sejarah dalam Perayaan Budaya
Gubernur Al Haris mengungkapkan bahwa acara Kenduri Sko menjadi momen penting dalam memperkuat hubungan antara masyarakat kota dan kabupaten. Sebelum dimekarkan menjadi dua wilayah, Sungai Penuh dan Kerinci adalah satu kesatuan. Kini, meski status administratif berbeda, kegiatan adat ini tetap menjembatani keduanya. Dengan demikian, penampilan ritual ini menjadi bukti bahwa kebudayaan masyarakat Kerinci belum luntur meski dalam suasana kota.
Dalam kesempatan tersebut, gubernur juga menyoroti peran para pemangku adat, tokoh masyarakat, serta generasi muda. Ia mengapresiasi upaya mereka dalam menghidupkan kembali tradisi. Menurutnya, sinergi antara tokoh adat, keluarga, dan masyarakat mampu membangkitkan kebanggaan terhadap warisan budaya. Dengan mempertahankan nilai-nilai seperti gotong royong dan musyawarah, masyarakat bisa menjaga keseimbangan antara tradisi dan kemajuan.
Peluang Budaya dalam Masa Kini
Al Haris berharap acara Kenduri Sko dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa memiliki budaya di kalangan generasi muda. Ia menambahkan, kegiatan adat ini juga mampu bertindak sebagai penyaring pengaruh negatif dari globalisasi, digitalisasi, dan kemajuan teknologi. “Budaya lokal harus tetap menjadi tuan rumah di wilayahnya sendiri, bukan sekadar ikut-ikutan tren dunia,” tegas gubernur.
Di sisi lain, Wali Kota Sungai Penuh Alfin Bakar menyatakan dukungan penuh terhadap penyelenggaraan acara tahun ini. Ia menilai kegiatan ini bisa menjadi salah satu agenda budaya utama yang memberi nilai tambah bagi pariwisata. “Kenduri Sko bukan hanya melestarikan tradisi, tetapi juga membuka peluang promosi budaya lokal,” ujarnya.
“Melalui Kenduri Sko, masyarakat tidak hanya mempertahankan identitas budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga menanamkan nilai gotong royong, musyawarah, penghormatan kepada leluhur, serta falsafah adat sebagai fondasi kehidupan masyarakat Kerinci,” kata Alfin Bakar.
Alfin mengharapkan kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga adat, dan seluruh elemen masyarakat agar acara ini terus berkembang. Ia menekankan pentingnya sinergi dalam membangun kegiatan budaya yang bermakna. Dengan momentum ini, masyarakat bisa merasakan kembali kekuatan adat sebagai pengikat sosial dan identitas.
Langkah Strategis untuk Konservasi Budaya
Dalam rilis resmi, Gubernur Al Haris juga mengimbau agar rumah adat dan empat simbol adat lainnya dipegang oleh lembaga tunggal, yaitu Lembaga Adat Sakti Alam Kerinci. Tujuan dari pengelompokan ini adalah menjaga keberlanjutan adat serta memastikan simbol-simbol tradisi tetap berperan dalam pembangunan daerah. “Kita perlu menjamin bahwa budaya lokal tidak tertutam oleh pengaruh luar, tetapi tetap menjadi bagian dari identitas masyarakat,” imbuh gubernur.
Kenduri Sko dianggap sebagai contoh kecil bagaimana kebudayaan bisa bertahan dalam perubahan. Pemangku adat, orang tua, dan generasi muda yang terlibat dalam penyelenggaraan acara ini dianggap sebagai garda terdepan dalam melestarikan tradisi. Dengan tetap berpegang pada nilai-nilai adat, masyarakat tidak hanya mengingatkan akan akar budaya, tetapi juga memperkuat keharmonisan antar komunitas.
Selain itu, acara ini diharapkan mampu menjadi jembatan antara generasi lama dan muda. Dengan mengakui pentingnya adat, masyarakat kota bisa memahami bahwa tradisi bukan sekadar hiasan, tetapi juga kekuatan yang mendorong kebersamaan. Sebagai bentuk kebanggaan, ritual ini menjadi bukti bahwa budaya lokal masih mampu bersaing dalam dunia yang semakin global.
Masa Depan Budaya dan Pengembangan Pariwisata
Kehadiran acara Kenduri Sko di Kota Sungai Penuh tidak hanya melestarikan kebudayaan, tetapi juga meningkatkan daya tarik pariwisata budaya. Dengan bantuan pemerintah daerah dan lembaga adat, event ini diharapkan bisa menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang tertarik pada kearifan lokal. “Kenduri Sko mampu memperkuat eksistensi budaya di tengah tuntutan modernisasi,” tambah Alfin Bakar.
Pemerintah daerah juga berharap kegiatan ini menjadi model keberhasilan dalam pelestarian budaya. Dengan adanya lembaga adat tunggal, kegiatan seperti Kenduri Sko bisa dijalankan secara terstruktur dan berkelanjutan. Gubernur menilai bahwa keberhasilan ini akan memperkuat hubungan antara pemerintah dan masyarakat, sekaligus mendorong kebangkitan minat terhadap kebudayaan tradisional.
Dalam konteks yang lebih luas, Gubernur Al Haris menegaskan bahwa adat tidak bisa dipandang sebagai hambatan, tetapi sebagai pengikat yang memperkuat persatuan. “Kita perlu melestarikan tradisi sebagai bentuk penghargaan terhadap leluhur dan budaya yang telah mewariskan nilai-nilai hidup,” pungkasnya. Acara ini, demikian menurut gubernur, menjadi semangat baru dalam menghadapi tantangan zaman.
Sebagai bentuk
