Topics Covered: Menjaga rumah Orangutan di hutan gambut Tabalong
Menjaga Rumah Orangutan di Hutan Gambut Tabalong
Topics Covered – Kalimantan Selatan, khususnya di Desa Habau, Kecamatan Banua Lawas, masih menjadi tempat tinggal bagi sejumlah orangutan yang berada di luar kawasan konservasi. Wilayah hutan gambut yang luas di sana menjadi area yang sangat vital untuk keberlanjutan spesies endemik tersebut. Meski dikelilingi oleh hutan yang rapat, orangutan berhasil bertahan di bentang alam yang dianggap sebagai habitat alami mereka. Konservasi di kawasan ini tidak hanya berupa pengamatan, tetapi juga menunjukkan bahwa ekosistem masih berfungsi dengan baik, sebagaimana dinyatakan oleh para pejabat lingkungan hidup.
Salah satu upaya konservasi yang dilakukan adalah pengusulan Areal Preservasi kepada Kementerian Kehutanan. Langkah ini diambil oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Selatan, bekerja sama dengan pemerintah daerah serta berbagai pihak terkait. Tujuan utamanya adalah menjaga ketersediaan habitat orangutan di Kalimantan Selatan, yang saat ini sedang menghadapi ancaman perubahan lingkungan. Heri Sofian, Pengendali Ekosistem Hutan (PEH) BKSDA Kalsel, menjelaskan bahwa proses usulan masih dalam tahap persiapan. Kelompok kerja telah dibentuk, dengan aktivitas seperti pengumpulan data dan pemutakhiran informasi sebagai dasar untuk menyusun rencana.
“Kawasan yang diusulkan adalah Areal Penggunaan Lain, tetapi potensinya sebagai habitat orangutan sangat besar,” ujar Heri Sofian.
Kawasan tersebut menurutnya memiliki fungsi ekologis penting. Sebagai lahan gambut yang potensial, wilayah itu bisa menjadi tempat berlindung bagi banyak spesies. Dengan luas sekitar 3.000 hektare, area ini diperkirakan masih memadai untuk menjaga populasi orangutan. Selain itu, kondisi lingkungan di sana secara umum tergolong baik, sehingga perlu dilindungi sebelum tekanan ekologis semakin berat. Konservasi orangutan bukan hanya isu nasional, tetapi kini menjadi perhatian internasional.
Usaha menjaga keberlanjutan habitat orangutan telah berlangsung selama satu dekade terakhir. Sejak 2015, BKSDA Kalsel bersama Dinas Kehutanan Kalsel, pemerintah daerah, dan masyarakat secara rutin melakukan pemantauan di wilayah perbatasan Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Tabalong, hingga Kabupaten Barito Timur. Dalam aktivitas terbaru di Desa Habau, tim konservasi menemukan sejumlah titik sarang yang menunjukkan keberadaan orangutan. Pemantauan juga dilakukan dengan pesawat nirawak, meski rintangan dari tutupan tajuk pohon membuat identifikasi lebih sulit.
Pemantauan gabungan sejak 2020 menunjukkan bahwa kerapatan sarang orangutan di Tabalong mencapai 84,88 per kilometer persegi. Angka ini menunjukkan bahwa keberadaan spesies tersebut cukup signifikan. Diperkirakan populasi orangutan di wilayah itu sekitar 7,73 individu. Sementara di Hulu Sungai Utara, data menunjukkan kerapatan 121,36 sarang per kilometer persegi dengan estimasi populasi sekitar 12,45 individu. Angka-angka ini memberikan gambaran bahwa orangutan masih memiliki ruang hidup yang layak dihormati.
Hutan gambut tidak hanya menjadi tempat berlindung bagi orangutan, tetapi juga berperan dalam menyerap karbon dan menjaga keseimbangan iklim. Ekosistem ini memerlukan perlindungan ekstra, karena perubahan penggunaan lahan bisa mengancam keberlanjutan kehidupan mereka. BKSDA Kalsel menekankan bahwa keberhasilan konservasi tidak bisa dicapai tanpa dukungan dari berbagai pihak. Peran masyarakat setempat, lembaga penelitian, dan pemerintah menjadi kunci dalam menjaga bentang alam ini.
Pemantauan secara berkala juga membantu mengidentifikasi ancaman yang mengintai. Misalnya, deforestasi dan penggunaan lahan yang tidak berkelanjutan menjadi tantangan besar. Namun, adanya sarang orangutan yang ditemukan menunjukkan bahwa ekosistem belum kehilangan daya dukungnya. Selain itu, data ini bisa menjadi dasar untuk mengevaluasi keberhasilan kebijakan konservasi di daerah tersebut. BKSDA Kalsel berharap dengan pengusulan Areal Preservasi, kawasan ini akan mendapatkan perlindungan yang lebih kuat.
Mengingat pentingnya hutan gambut bagi kehidupan orangutan dan ekosistem lain, langkah-langkah konservasi harus terus diperkuat. Pemangku kepentingan menilai bahwa proposal ini bukan sekadar prosedur administratif, tetapi bagian dari upaya menyelamatkan lingkungan yang vital. Selain itu, pengusulan ini juga berdampak pada penopang ekonomi masyarakat lokal, seperti pariwisata alam dan pertanian berkelanjutan.
Harapan untuk menjaga habitat orangutan terus terang di Kalimantan Selatan. Keberhasilan pelestarian hutan gambut bisa menjadi contoh baik bagi wilayah lain yang menghadapi situasi serupa. Dengan konsistensi upaya konservasi, orangutan di Desa Habau dan sekitarnya masih memiliki peluang untuk bertahan. Bahkan, kawasan ini bisa menjadi tempat penting dalam konservasi global, mengingat peran orangutan sebagai indikator kesehatan hutan tropis.
Konservasi orangutan tidak cukup hanya berhenti pada pengamatan. Tindakan nyata seperti pengusulan Areal Preservasi menjadi langkah strategis untuk memastikan habitat mereka tetap lestari. Dengan dukungan semua pihak, lingkungan yang sempurna bagi kehidupan orangutan bisa terus dipertahankan, sekaligus menjadi contoh keberhasilan ekosistem yang bisa diapresiasi secara internasional.
