Sungai Mentaya meluap – enam desa di Kotawaringin Timur terendam banjir
Sungai Mentaya Meluap, Enam Desa di Kotawaringin Timur Terendam Banjir
Sungai Mentaya meluap – Sampit, Kalimantan Tengah – Pada 16 Mei 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotawaringin Timur sedang melakukan evaluasi cepat terhadap wilayah yang terkena banjir. Kepala Pelaksana BPBD, Multazam, menjelaskan bahwa banjir yang terjadi sejak Kamis (14/5) di daerah utara kabupaten tersebut masih mengancam enam desa, meskipun sebagian dari mereka mulai mengalami penurunan air. Banjir ini berdampak signifikan pada infrastruktur dan kehidupan warga setempat.
“Dampak banjir meluap mencakup 99 Kepala Keluarga (KK) dan 219 orang, serta merendam tiga tempat ibadah, enam sekolah, satu gedung pemerintahan, 1.500 meter jalan desa, dan 154 rumah,” ungkap Multazam kepada media, Sabtu (16/5) malam.
Berdasarkan data yang dikumpulkan, banjir meluap terjadi di Desa Sungai Hanya (Kecamatan Antang Kalang), Tumbang Mujan (Kecamatan Tualan Hulu), Tumbang Sangai (Kecamatan Telaga Antang), Bawan (Kecamatan Mentaya Hulu), Tanjung Jariangau (Kecamatan Mentaya Hulu), dan Kawan Baru (Kecamatan Mentaya Hulu). Wilayah tersebut terletak di bagian hulu Sungai Mentaya, sehingga aliran air yang tergenang memperparah kondisi bencana.
Dalam upaya mengurangi risiko, BPBD terus memantau debit air dan berkoordinasi dengan sejumlah pihak, termasuk camat, Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa, serta sukarelawan yang berada di daerah terdampak. Tim Reaksi Cepat BPBD (TRC) aktif dalam aktivitas pemantauan, dengan memastikan bahwa setiap pergerakan air banjir estafet dapat ditangani secara cepat dan terarah.
Perluasan banjir juga terjadi di Kelurahan Kuala Kuayan (Kecamatan Mentaya Hulu). Di sana, luapan air mulai menggenangi beberapa ruas jalan, seperti Jalan Pelangkong, Jalur Kuayan-Bawan, dan Kuayan-Sapiri. Gang Rawa Indah juga menjadi daerah yang terdampak, dengan kedalaman air mencapai 25–75 cm di atas permukaan jalan. Kondisi ini memicu kekhawatiran terhadap mobilitas warga dan operasional kegiatan sehari-hari.
Multazam menambahkan bahwa daerah yang berada di tepi Sungai Mentaya sangat rentan terhadap banjir. Hal ini disebabkan oleh kondisi topografi yang datar dan drainase yang tidak memadai. Pihaknya berupaya untuk mengoptimalkan peran sukarelawan dan petugas lapangan guna mempercepat respons bencana. “Koordinasi dengan pihak terkait harus dilakukan secara rutin untuk memastikan kebutuhan warga terpenuhi,” kata Multazam.
Dalam rangka mempersiapkan dampak lanjutan, BPBD juga fokus pada siaga darurat di Desa Hanjalipan, Kecamatan Kota Besi. Desa ini diprediksi menjadi titik akhir aliran air banjir estafet, berdasarkan data sebelumnya. “Kami sedang memastikan persiapan kesiapsiagaan terhadap kemungkinan luapan air yang semakin besar,” jelas Multazam. Pemantauan intensif dilakukan di wilayah tersebut, termasuk pengecekan kondisi infrastruktur dan ketersediaan logistik darurat.
Terpisah, BPBD juga sedang menilai kerusakan akibat longsor di Desa Tumbang Mujam. Penilaian ini dilakukan setelah genangan air mulai surut, sehingga mengungkapkan potensi erosi tanah di beberapa titik. Koordinasi dengan perangkat teknis daerah dilakukan secara berkala untuk mempercepat penanganan darurat. “Kerusakan di daerah longsor perlu dianalisis agar rencana rehabilitasi bisa diatur dengan tepat,” kata Multazam.
Berdasarkan data BMKG Stamet Haj8 Asan Sampit, curah hujan di Kotawaringin Timur akan mengalami penurunan pada Dasarian III Mei 2026. Hal ini memberi harapan bahwa banjir yang sedang berlangsung akan berkurang intensitasnya. Namun, Multazam mengingatkan bahwa rasa waspada tetap diperlukan, terutama di wilayah yang terdampak paling parah.
Banjir meluap di Sungai Mentaya memiliki pola yang khas. Menurut data masa lalu, aliran air bencana cenderung bergerak dari hulu ke hilir, dengan dampak yang meningkat secara bertahap. Desa-desa yang berada di bantaran sungai menjadi korban utama, terutama ketika hujan deras berlangsung dalam durasi lama. “Kami mengantisipasi kemungkinan peningkatan banjir di beberapa titik yang belum tergenang,” kata Multazam.
Di sisi lain, upaya rehabilitasi dan evakuasi sedang berjalan. Pemerintah setempat bekerja sama dengan BPBD dan organisasi masyarakat untuk menyalurkan bantuan, termasuk perlengkapan kebutuhan pokok, tempat tidur darurat, dan alat komunikasi. Multazam menegaskan bahwa keterlibatan masyarakat sangat vital dalam mengatasi bencana ini. “Warga harus aktif dalam mengungsi dan membantu menyiapkan tempat penampungan,” ujarnya.
BPBD juga memperhatikan kondisi keamanan di sekitar daerah tergenang. Petugas telah melakukan pemeriksaan terhadap bangunan yang mungkin rusak akibat tekanan air, serta memastikan bahwa jalan-jalan utama tetap dapat dilewati. Kepala Pelaksana BPBD menyebutkan bahwa respons darurat diatur secara terpadu, dengan adanya rencana pemetaan risiko dan peningkatan kapasitas penanggulangan bencana.
Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat, BPBD mengadakan sosialisasi terkait tindakan yang harus dilakukan saat terjadi banjir. Pelatihan evakuasi, penegakan protokol keselamatan, dan pembagian informasi real-time menjadi fokus utama. “Kami ingin meminimalkan korban jiwa dengan memastikan setiap warga mengetahui langkah-langkah yang tepat,” tutur Multazam.
Kondisi cuaca yang terus dipantau juga menjadi indikator penting dalam perencanaan mitigasi. Meski curah hujan akan berkurang pada Dasarian III Mei 2026, hujan lebat yang terjadi beberapa hari terakhir tetap berpotensi menimbulkan kenaikan kembali level banjir. BPBD terus mengumpulkan data dari lapangan untuk memberi informasi yang akurat kepada masyarakat.
Untuk mencegah penyebaran bencana, BPBD bekerja sama dengan pihak terkait memastikan drainase terjaga dan jembatan serta jalan yang rusak segera diperbaiki. Upaya ini bertujuan agar aliran air tidak terhambat dan bisa memudahkan distribusi bantuan. “Pemulihan infrastruktur menjadi bagian penting dalam pemulihan masyarakat,” kata Multazam.
Di tengah situasi ini, Multazam
