Balai Karantina NTB perketat pengawasan ternak melalui uji PCR

Balai Karantina NTB Intensifkan Pemeriksaan Ternak dengan Teknologi PCR

Balai Karantina NTB perketat pengawasan ternak – Mataram – Dalam upaya mengendalikan penyebaran penyakit mulut dan kuku (PMK), Balai Karantina Nusa Tenggara Barat (NTB) memperketat protokol pemeriksaan terhadap hewan ternak yang dikirim keluar daerah. Langkah ini dimulai dengan penerapan uji Polymerase Chain Reaction (PCR) di Pelabuhan Badas, Kabupaten Sumbawa, sebagai langkah preventif untuk memastikan kesehatan binatang sebelum mereka berpindah ke wilayah lain. Kepala Balai Karantina NTB, Ina Soelistyani, menjelaskan bahwa adanya alat PCR tersebut bertujuan mendeteksi virus secara dini, terutama pada hewan yang belum menunjukkan gejala penyakit.

Volume Pengiriman Ternak yang Tinggi Menjadi Fokus

Dari laporan aplikasi Best Trust, yang dikelola oleh Badan Karantina Indonesia, diketahui bahwa jumlah ternak yang dilepas dari Sumbawa hingga 24 April 2026 mencapai 6.362 ekor sapi. Data ini mencerminkan tingginya permintaan untuk pengiriman hewan ternak ke berbagai daerah di Indonesia. Ina Soelistyani menegaskan bahwa dengan volume pengiriman yang besar, risiko penularan PMK semakin meningkat, sehingga pengawasan harus diperketat. “Kami ingin memastikan bahwa setiap ternak yang dipindahkan memiliki kondisi kesehatan optimal,” ujarnya, Rabu, di Mataram.

PMK, yang menyebabkan kematian pada hewan ruminansia, memiliki dampak signifikan terhadap usaha peternak kecil. Mereka mengandalkan sapi sebagai aset utama untuk menopang penghasilan keluarga. Jika penyakit ini menyebar, banyak peternak akan mengalami kerugian besar. Untuk mengurangi risiko ini, Balai Karantina NTB memutuskan menerapkan tes PCR di pelabuhan utama, dengan harapan mampu memutus rantai penyebaran sejak awal.

PCR Memungkinkan Deteksi Lebih Akurat

Uji PCR, yang digunakan untuk mengidentifikasi keberadaan virus melalui analisis DNA, memiliki keunggulan dalam mendeteksi penyakit sebelum gejala fisik terlihat. Petugas laboratorium di Satuan Pelayanan Pelabuhan Badas mengatakan bahwa teknologi ini memberikan akurasi tinggi, sehingga meminimalkan kemungkinan hewan yang terjangkit terlewatkan. “Dengan metode ini, kami bisa memastikan bahwa hewan yang dilepas ke luar daerah tidak membawa risiko infeksi ke wilayah tujuan,” tambahnya.

Karantina NTB juga menjelaskan bahwa penggunaan PCR memperkuat keberhasilan tracking kesehatan hewan. Asal-usul dan status penyakit dari setiap individu tercatat secara detail melalui hasil uji yang resmi. Proses ini memastikan bahwa setiap sapi yang dikirim memiliki sertifikat bebas penyakit, sehingga meminimalisir kemungkinan penyebaran PMK ke daerah lain. “Hasil PCR menjadi dasar utama dalam penerbitan Laporan Hasil Uji, yang berguna sebagai bukti keamanan untuk distribusi,” ujar Ina.

Hasil Pemeriksaan sebagai Bukti Kepatuhan

Dokumen Laporan Hasil Uji diterbitkan setelah hewan ternak melewati prosedur karantina secara ketat. Dokumen ini tidak hanya menunjukkan bahwa hewan tersebut telah diperiksa, tetapi juga menjadi bukti bahwa mereka layak dikirim ke luar wilayah. Priono, petugas karantina setempat, menambahkan bahwa pemeriksaan fisik saja tidak cukup untuk mengatasi ancaman PMK. “PCR memberi kami keunggulan dalam menemukan hewan yang sakit meskipun belum terlihat gejalanya secara kasat mata,” ujarnya.

Menurut Priono, dengan tes PCR, petugas dapat mengidentifikasi virus yang menyebabkan PMK lebih awal, sehingga upaya pencegahan bisa dilakukan sebelum hewan tersebut menularkan penyakit. “Ini membantu kami mengurangi penyebaran PMK di berbagai daerah,” jelasnya. Keberhasilan penerapan PCR juga berdampak pada efisiensi pengawasan, karena memungkinkan identifikasi penyakit secara cepat dan akurat, tanpa perlu menunggu gejala muncul.

Penyesuaian Proses Pengawasan untuk Meningkatkan Efektivitas

Penerapan PCR di Pelabuhan Badas bukan hanya sekadar perbaikan dalam teknik pemeriksaan, tetapi juga transformasi dalam sistem pengawasan kesehatan hewan. Ina Soelistyani menyebutkan bahwa metode ini memberikan keuntungan dalam mengendalikan penyebaran penyakit. “Dengan adanya alat PCR, kami bisa memastikan bahwa setiap hewan yang dilepas ke luar daerah aman dan tidak membawa virus,” katanya.

Menurut data yang diperoleh, volume pengiriman ternak dari Sumbawa mencapai 6.362 ekor sapi dalam 296 kali pengiriman. Jumlah ini menunjukkan bahwa Sumbawa menjadi salah satu pusat pengiriman hewan ternak di wilayah NTB. Karenanya, penguatan pengawasan di pelabuhan utama diperlukan untuk mengurangi risiko penyebaran PMK ke wilayah lain. “Ini adalah upaya preventif untuk menjaga kestabilan produksi ternak dan ekonomi masyarakat,” imbuh Ina.

Sebagai bagian dari langkah pencegahan, Balai Karantina NTB juga memberikan saran kepada peternak untuk meningkatkan kesehatan hewan secara rutin. Ina menuturkan bahwa pemeriksaan PCR menjadi salah satu sarana utama dalam memastikan bahwa hewan ternak tidak membawa virus sebelum dikirim ke luar daerah. “Kami berharap alat PCR ini menjadi alat bantu yang efektif dalam menjaga kesehatan populasi ternak,” kata dia.

Manfaat Teknologi PCR dalam Proteksi Ternak

Metode uji PCR memberikan manfaat besar dalam mengendalikan PMK. Selain mendeteksi virus secara dini, tes ini juga memudahkan proses dokumentasi kesehatan hewan. Petugas karantina dapat mencatat hasil uji secara elektronik, sehingga mempercepat prosedur pengiriman. Dengan demikian, hewan ternak dapat sampai ke tempat tujuan dengan lebih cepat, tanpa mengorbankan kualitas pemeriksaan.

Priono menjelaskan bahwa penggunaan teknologi PCR juga membantu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem karantina. “Dengan hasil uji yang jelas, peternak merasa lebih yakin bahwa hewan mereka aman dan layak dikirim,” katanya. Proses ini tidak hanya memberikan manfaat bagi peternak, tetapi juga berkontribusi pada stabilitas pasokan daging dan susu di pasar nasional.

Langkah Balai Karantina NTB ini diharapkan bisa menjadi contoh bagi daerah lain yang juga menghadapi tantangan serupa. Dengan penerapan PCR, pengawasan terhadap ternak bisa dilakukan secara lebih intensif dan sistematis, sehingga mengurangi risiko penyakit menyebar. “Kami terus berupaya meningkatkan kapasitas pemeriksaan untuk menjamin keamanan hewan ternak di seluruh NTB,” pungkas Priono.

Dengan adanya alat PCR di Pelabuhan Badas, Balai Karantina NTB memperkuat sistem pengawasan lalu lintas ternak. Teknologi ini bukan hanya membantu dalam mendeteksi penyakit, tetapi juga menjadi standar baru dalam prosedur karantina.