DVI kirim 16 sampel DNA korban bus ALS di Muratara ke Mabes Polri
DVI Kirim 16 Sampel DNA Korban Bus ALS di Muratara ke Mabes Polri
DVI kirim 16 sampel DNA korban – Di Palembang, tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusdokkes Polri melakukan pengiriman 16 sampel DNA dari korban kecelakaan Bus Antar Lintas Sumatera (ALS) yang terjadi di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Sumatera Selatan. Sampel tersebut dikirim melalui jalur udara pada hari kedua operasi identifikasi, sebagai upaya mempercepat proses pemeriksaan untuk menentukan identitas para korban. Kepala RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, Kombes Pol Budi Susanto, menjelaskan bahwa sampel yang dikirim terdiri dari 16 postmortem dan 8 antemortem, yang didapat dari enam nomor data keluarga korban.
Proses Pemeriksaan dan Pengambilan Sampel
Kombes Pol Budi Susanto menambahkan, dalam 16 sampel postmortem yang dikirim, dua di antaranya diambil secara ganda. Hal ini dilakukan untuk memastikan akurasi hasil pemeriksaan, karena kondisi jenazah yang ditemukan sulit dikenali. “Kita ambil double sampel karena kondisi jenazah tidak mudah diketahui, sehingga pemeriksaan dilakukan lebih hati-hati,” ujarnya.
“Hari ini sampel DNA sudah kami kirimkan ke Mabes Polri, Laboratorium Pusdokkes Mabes Polri via udara, dari 16 sampel postmortem dan delapan sampel untuk enam nomor data antemortem,” katanya.
Proses identifikasi korban masih berlangsung intensif. Tim DVI terus mencocokkan data postmortem dengan data antemortem yang diperoleh dari keluarga korban melalui posko DVI dan layanan hotline. Dalam upayanya, tim mengandalkan informasi yang diberikan oleh pihak keluarga, termasuk data genetik untuk mempercepat proses matching. “Kita jemput bola untuk meminta bantuan tim DVI di daerah mengambil contoh sampel DNA keluarga inti ataupun properti yang biasa dipakai korban,” kata Budi.
Temuan di Kantong Jenazah
Dalam pemeriksaan ulang terhadap 16 kantong jenazah yang diterima di RS Bhayangkara Moh Hasan Palembang, tim DVI menemukan total 17 tubuh korban. Hasil pendalaman menunjukkan adanya satu bagian tubuh tambahan yang diduga merupakan anak berusia di bawah lima tahun. “Pada hasil pendalaman hari ini kami menemukan bahwa dalam satu kantong jenazah terdapat dua bagian tubuh yang menempel di daerah ketiak,” ujarnya.
Kombes Pol Budi Susanto mengatakan, hingga hari kedua operasi, identitas korban belum bisa ditetapkan secara pasti. Tim masih menunggu hasil pemeriksaan DNA dari laboratorium di Mabes Polri. Meski demikian, pihaknya memastikan bahwa setiap sampel telah diproses sesuai standar, guna meningkatkan keandalan identifikasi. “Proses ini membutuhkan waktu, tapi kami terus berupaya untuk segera menyelesaikannya,” tambahnya.
Koordinasi dengan Wilayah Lain
Budi Susanto menjelaskan bahwa tim DVI juga melakukan koordinasi dengan jajaran kepolisian di Aceh, Sumatera Utara, dan Jawa Tengah. Tujuan dari kerja sama tersebut adalah untuk mempercepat pengambilan sampel DNA dari keluarga korban yang berada di luar wilayah Sumatera Selatan. “Koordinasi ini sangat penting, karena beberapa korban berasal dari daerah lain dan informasi keluarga tidak selalu mudah diperoleh,” katanya.
“Kita jemput bola untuk meminta bantuan tim DVI di daerah mengambil contoh sampel DNA keluarga inti ataupun properti yang biasa dipakai korban,” kata Budi.
Koordinasi dengan tim DVI di daerah lain juga membantu dalam mengumpulkan data tambahan, seperti informasi tentang peralatan yang sering digunakan oleh korban, seperti barang pribadi atau dokumen identitas. “Dengan adanya data dari keluarga dan properti, kita bisa memperkuat proses identifikasi,” imbuhnya. Tim juga memperhatikan kondisi lingkungan tempat kejadian, termasuk kondisi jenazah yang terkena dampak kecelakaan berat.
Pengaruh Kondisi Jenazah
Sejumlah jenazah yang ditemukan dalam kecelakaan tersebut mengalami kerusakan yang signifikan, sehingga memerlukan analisis lebih lanjut. Budi Susanto menyebutkan bahwa hal ini memengaruhi kecepatan proses identifikasi, terutama untuk korban yang tidak dapat dienamkan langsung oleh keluarga. “Karena kondisi jenazah tidak ideal, kita harus memastikan bahwa setiap sampel dianalisis secara menyeluruh,” katanya.
“Dari 16 itu kita ambil ada dua double sampelnya, karena memang mengingat kondisi jenazah itu sulit untuk dikenali, jadi untuk memastikan kita double-kan pemeriksaannya,” katanya menjelaskan.
DVI juga memperhatikan detail lain, seperti lingkungan sekitar tempat kejadian, kondisi udara, dan keberadaan saksi. Data ini dibutuhkan untuk memperkuat analisis DNA dan menemukan hubungan antara korban dengan alat transportasi. “Kami mencoba mengumpulkan semua informasi yang relevan, agar hasil identifikasi bisa lebih akurat,” tambah Budi.
Kondisi Jumlah Korban
Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan bahwa dari 17 jenazah yang ditemukan, 13 di antaranya teridentifikasi sebagai laki-laki dewasa, tiga korban perempuan dewasa, dan satu jenazah anak-anak yang belum diketahui jenis kelaminnya. Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa identifikasi korban anak-anak masih memerlukan proses lebih lanjut, karena tidak ada data antemortem yang lengkap.
Identifikasi korban menjadi bagian penting dalam investigasi kecelakaan Bus ALS. DVI mengatakan bahwa setiap sampel DNA harus diproses secara hati-hati, terutama jika korban tidak dikenali oleh keluarga. “Kita tidak ingin ada kesalahan dalam mengidentifikasi, karena itu sangat berpengaruh terhadap keberhasilan penyelidikan,” kata Budi.
Pengembangan Proses Identifikasi
Proses identifikasi korban di Muratara tidak hanya bergantung pada sampel DNA, tetapi juga pada kerja sama dengan berbagai pihak. Kombes Pol Budi Susanto menekankan bahwa tim DVI terus berupaya mempercepat pemeriksaan, baik melalui metode DNA maupun pencocokan data antemortem. “Kami memperhatikan setiap detail, termasuk kondisi jenazah dan informasi dari keluarga,” ujarnya.
Dalam beberapa hari terakhir, tim DVI juga memperluas cakupan pemeriksaan, termasuk memeriksa kondisi tempat penyimpanan jenazah dan lingkungan sekitar. Hasil ini membantu memastikan bahwa tidak ada korban yang terlewatkan dalam proses identifikasi. “Dengan pemeriksaan intensif, kita bisa menemukan semua korban yang terlibat dalam kecelakaan tersebut,” katanya.
Pengiriman sampel DNA ke Mabes Polri diharapkan dapat mempercepat proses identifikasi, terutama untuk korban yang belum memiliki data antemortem. Budi Susanto menjelaskan bahwa dengan adanya laboratorium yang lebih lengkap, tim DVI bisa memperoleh hasil yang lebih cepat dan akurat. “Hasil DNA akan menjadi dasar untuk menentukan identitas korban secara pasti,” katanya.
Sebagai bagian dari upaya identifikasi, tim DVI juga melakukan pengecekan ulang terhadap kantong
