Humaniora

Dinsos: Siswa Sekolah Rakyat Sulsel mulai unjuk potensi diri

Foto : Rina Kurniawan - ayobantudonasi.com
Daftar Isi
  1. Sebelum Masuk Sekolah Rakyat, Bakat Mereka Terkubur; Kini Panggung Jadi Ruang Ekspresi
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Sebelum Masuk Sekolah Rakyat, Bakat Mereka Terkubur; Kini Panggung Jadi Ruang Ekspresi

Ayobantudonasi.com – Dinsos – Makassar — Selama kurang lebih satu tahun terakhir, sekelompok siswa Sekolah Rakyat di Sulawesi Selatan telah membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan batas akhir bagi kemampuan intelektual dan kreatif mereka. Kepala Dinas Sosial Sulsel, Abdul Malik Faisal, mengungkapkan bahwa para pelajar tersebut kini mulai menampilkan kemampuan di bidang seni, inovasi teknologi sederhana, hingga penguasaan bahasa asing — hal yang sebelumnya tidak pernah mereka miliki kesempatan untuk mengasah.

Penilaian ini disampaikan Malik Faisal di Makassar pada Selasa, merujuk pada perkembangan yang tercatat sejak program rintisan Sekolah Rakyat berjalan di provinsi tersebut. Ia menyebut bahwa bakat yang muncul bukan sekadar kemampuan dasar, melainkan spektrum yang luas: dari vokal, pembacaan puisi, hingga gagasan teknis seperti pembuatan lampu bertenaga cahaya matahari.

Bahasa Asing: Pintu yang Sebelumnya Tertutup

Salah satu temuan paling mencolok dari observasi satu tahun terakhir adalah kemampuan berbahasa asing yang ditunjukkan sejumlah siswa tingkat SMA. Malik Faisal menegaskan bahwa penguasaan Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, dan Bahasa Inggris oleh para pelajar ini bukan hasil kebetulan, melainkan konsekuensi langsung dari akses pendidikan yang selama ini mereka tidak miliki.

“Siswa SMA ini ada yang bisa Bahasa Mandarin, Bahasa Jepang, kemudian Bahasa Inggris juga bagus. Ini artinya mereka kemarin (sebelum masuk Sekolah Rakyat) agak terhambat karena tidak ada kesempatan. Sekarang setelah mereka dapat kesempatan, baru kita lihat.”

Pernyataan tersebut menggarisbawahi sebuah realitas struktural: banyak anak dari keluarga prasejahtera di Sulsel tumbuh tanpa akses ke kursus bahasa, bimbingan akademik, atau lingkungan yang merangsang eksplorasi intelektual. Ketika kesempatan itu akhirnya terbuka melalui Sekolah Rakyat, potensi yang selama ini tertidur langsung teraktivasi.

Panggung sebagai Ruang Belajar Sosial

Di luar aspek akademis, Malik Faisal menyoroti perubahan psikologis yang dialami para siswa. Anak-anak yang sebelumnya tidak memiliki ruang untuk bersuara kini tampil di panggung, berbicara di depan umum, dan mengekspresikan diri secara terbuka. Bagi seorang pejabat yang mengawasi program sosial, perubahan semacam itu dianggap indikator keberhasilan yang tidak kalah penting dari nilai ujian.

“Siswa yang sudah rintisan satu tahun ini, kita lihat bagaimana anak-anak ini itu bisa tampil, dia berani bicara di panggung dan itu hal yang membanggakan.”

Perubahan perilaku ini sejalan dengan literatur pendidikan yang menunjukkan bahwa anak dari latar belakang marginal sering mengalami hambatan kepercayaan diri yang bersifat kumulatif. Ketika lingkungan sekolah menyediakan panggung, mentor, dan pengakuan, hambatan tersebut dapat diurai dalam waktu relatif singkat.

Misi Inti: Memangkas Jarak Ketimpangan

Malik Faisal menegaskan bahwa seluruh desain Sekolah Rakyat di Sulsel berorientasi pada satu tujuan terukur: memperkecil jarak kualitas pendidikan antara anak dari keluarga mampu yang bersekolah di institusi umum dan anak dari keluarga prasejahtera. Ia menolak narasi bahwa program ini sekadar “memberi bantuan”; yang diukur adalah kesetaraan hasil belajar ketika kedua kelompok mendapat akses yang setara.

“Yang kami mau ukur sekarang adalah bagaimana jarak ketimpangan antara anak dari keluarga prasejahtera atau tidak mampu dengan anak-anak yang mampu saat mereka sama-sama mendapatkan pendidikan berkualitas.”

Konteks lokal memperkuat urgensi misi ini. Sulawesi Selatan memiliki disparitas akses pendidikan yang tajam antara kawasan perkotaan Makassar dan daerah pedesaan atau pesisir. Anak-anak dari keluarga nelayan, buruh harian, atau pedagang kecil sering kali tidak memiliki dukungan akademik di rumah, sehingga kualitas pembelajaran mereka tertinggal jauh dari rekan sebaya di sekolah swasta atau negeri unggulan. Sekolah Rakyat hadir sebagai mekanisme korektif yang menempatkan mereka dalam lingkungan dengan standar pengajaran yang setara.

Peran Guru dan Tenaga Pendidik

Malik Faisal secara khusus memberikan apresiasi kepada para guru dan tenaga kependidikan yang terlibat dalam operasional Sekolah Rakyat. Ia menekankan bahwa peran mereka melampaui fungsi mengajar konvensional: mereka juga menjaga, mengawasi, dan memberikan pendampingan ekstra agar setiap siswa memperoleh kualitas pendidikan yang memadai. Tanpa komitmen personal dari pendidik, potensi yang baru terbuka tidak akan berkembang menjadi kompetensi nyata.

Dengan demikian, satu tahun rintisan Sekolah Rakyat di Sulsel bukan sekadar catatan statistik tentang jumlah siswa yang terdaftar. Ia merupakan bukti awal bahwa ketika hambatan struktural dihilangkan, kapasitas anak-anak dari keluarga prasejahtera dapat meledak secara positif — di panggung seni, di laboratorium inovasi sederhana, dan di ruang kelas bahasa asing. Tantangan ke depan, sebagaimana didefinisikan oleh Dinsos Sulsel, adalah memastikan bahwa ledakan tersebut bersifat berkelanjutan dan terukur, bukan sekadar fenomena musiman.

Frequently Asked Questions

What is Dinsos?

Dinsos is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Dinsos matter?

Dinsos matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Rina Kurniawan - ayobantudonasi.com

Rina Kurniawan - ayobantudonasi.com

Rina Kurniawan berkontribusi sebagai penulis yang menyoroti peran individu dalam gerakan sosial dan donasi. Dengan gaya penulisan yang informatif dan empatik, Rina membantu pembaca memahami urgensi berbagi serta dampaknya bagi masyarakat luas.