New Policy: Nezar: Sumber daya mineral bisa jadi instrumen diplomasi digital
New Policy: Mineral Kritis sebagai Diplomasi Digital Indonesia
New Policy – Dalam konteks persaingan global yang semakin ketat untuk menguasai teknologi kecerdasan artifisial, kekayaan mineral kritis yang dimiliki Indonesia berpotensi menjadi instrumen diplomasi digital yang sangat menguntungkan. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, yang menekankan bahwa posisi strategis Indonesia tidak hanya terletak pada pasar digitalnya, tetapi juga pada sumber daya alam yang menjadi fondasi teknologi masa depan. Melalui New Policy ini, Indonesia dapat memanfaatkan keunggulan kompetitifnya untuk memperkuat posisi di kancah internasional.
Kontribusi Mineral terhadap Rantai Pasok Teknologi Global
Acara Jakarta Geopolitical Forum yang diselenggarakan di Jakarta Selatan pada Kamis, 9 Juli, menjadi wadah bagi Nezar untuk menguraikan visi Indonesia dalam ekosistem teknologi dunia. Ia menjelaskan bahwa negara ini memiliki keunggulan kompetitif karena ketersediaan mineral-mineral esensial yang dibutuhkan untuk pengembangan teknologi mutakhir. Menurut Nezar, Indonesia harus memanfaatkan kekayaan alam ini untuk menegosiasikan akses yang lebih baik ke komputasi, transfer teknologi, dan kemitraan manufaktur. New Policy yang ditawarkan ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk memaksimalkan potensi sumber daya mineral.
“Indonesia perlu menggunakan mineral kritis untuk menegosiasikan akses yang lebih baik ke komputasi, transfer teknologi, dan kemitraan manufaktur,” ujarnya dalam keterangan pers kementerian yang dikonfirmasi pada hari Jumat. Pernyataan ini menjadi bagian penting dari New Policy yang sedang dikembangkan untuk memperkuat diplomasi digital Indonesia.
Secara spesifik, Nezar menyebutkan bahwa Indonesia memegang cadangan nikel terbesar di dunia. Kepemilikan ini secara signifikan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok produksi baterai global yang semakin berkembang. Selain nikel, negara ini juga merupakan produsen kobalt terbesar kedua di dunia. Kobalt merupakan material kunci yang sangat penting untuk baterai berkinerja tinggi serta semikonduktor canggih yang menjadi komponen vital dalam berbagai perangkat teknologi modern. Melalui New Policy, kedua mineral ini akan menjadi tulang punggung strategi diplomasi digital.
Pernyataan Nezar juga mencakup posisi Indonesia sebagai eksportir bijih tembaga terbesar ketiga di dunia. Tembaga merupakan mineral penting yang digunakan dalam sistem pengkabelan dan pendinginan pusat data yang menampung infrastruktur kecerdasan artifisial. Dengan kombinasi ketiga mineral tersebut, Indonesia memiliki fondasi yang kuat untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga pemain kunci dalam ekosistem AI global. New Policy ini diharapkan dapat membuka peluang investasi yang lebih besar dari berbagai negara mitra.
Strategi Diplomasi Digital di Tengah Rivalitas Global
Di tengah persaingan antara Amerika Serikat dan China, Nezar mengemukakan bahwa Indonesia harus menentukan jalur strategis sendiri melalui diplomasi digital. Kekayaan sumber daya mineral kritis, pasar digital yang besar, bonus demografi, kapasitas komputasi, talenta digital, dan kemampuan industri menjadi modal utama bagi Indonesia. Menurut Nezar, Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi pasar atau pemasok bahan mentah bagi negara-negara lain. New Policy yang diusulkan ini bertujuan untuk mengubah paradigma tersebut menjadi kenyataan.
Menurut pandangan Nezar, keunggulan suatu negara tidak lagi ditentukan oleh siapa yang pertama menemukan teknologi, tetapi oleh kemampuan membangun talenta, kemampuan komputasi, basis data, dan industri. Hal ini menunjukkan pergeseran paradigma dalam persaingan teknologi global yang kini lebih menekankan pada ekosistem yang komprehensif. Melalui New Policy, Indonesia dapat membangun ketahanan digital yang lebih kuat di tengah ketidakpastian geopolitik dunia.
“Kekuatan digital pada akhirnya bukan hanya tentang teknologi semata. Ini tentang kemauan politik, kemauan untuk mempertahankan strategi lintas pemerintahan, untuk membangun institusi secara bertahap, dan memutuskan masa depan geopolitik baru Indonesia,” demikian Nezar Patria. Pernyataan ini menjadi fondasi dari New Policy yang akan diimplementasikan secara bertahap oleh pemerintah Indonesia.
Menuju Indonesia Emas 2045
Nezar menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia menjadi kekuatan teknologi strategis menuju Indonesia Emas 2045 bergantung pada konsistensi dalam membangun infrastruktur digital, pusat data, talenta, dan institusi yang kuat. Oleh karena itu, pemerintah memprioritaskan diplomasi chip, peningkatan penyediaan energi untuk pusat data, pengembangan talenta AI dan semikonduktor, penguatan kedaulatan data, serta pengembangan AI yang sesuai dengan konteks Indonesia. New Policy ini menjadi langkah konkret untuk mewujudkan visi tersebut.
Langkah-langkah strategis ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya mengandalkan kekayaan alam, tetapi juga membangun ekosistem teknologi yang berkelanjutan. Dengan pendekatan holistik yang menggabungkan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan kebijakan pemerintah, Indonesia berharap dapat menjadi pemain utama dalam lanskap teknologi global di masa depan. Melalui New Policy, Indonesia siap menghadapi tantangan dan peluang di era digital yang semakin kompetitif.
