Visit Agenda: Iran peringatkan AS tidak keluarkan pernyataan kontradiktif dengan MoU

Iran Mengingatkan AS Hindari Pernyataan yang Bertentangan dengan MoU

Visit Agenda – Dari Teheran, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Republik Islam Iran, Esmaeil Baqaei, memberi peringatan kepada Amerika Serikat terkait keseragaman dalam menyampaikan pernyataan dan penafsiran terhadap Nota Kesepahaman (MoU) yang bertujuan mengakhiri perang. Dalam unggahan di media sosial X pada Rabu (24/6), Baqaei menyatakan bahwa tindakan AS yang mengeluarkan pernyataan berlawanan dengan isi MoU hanya memperkuat ketidakpercayaan pemerintah Iran terhadap pemerintahan Washington. Ia menekankan bahwa MoU ini merupakan langkah strategis yang diharapkan dapat membawa perdamaian, tetapi pernyataan terpisah dari AS justru menimbulkan kebingungan dan kecurigaan di kalangan masyarakat Iran.

Mou sebagai Langkah Diplomasi

MoU yang ditandatangani antara Iran dan Amerika Serikat sebelumnya diharapkan menjadi titik balik dalam hubungan bilateral yang terpuruk akibat serangkaian konflik selama beberapa dekade. Dalam komentarnya, Baqaei menegaskan bahwa MoU ini tidak hanya dibuat sebagai bentuk kompromi, tetapi juga dianggap sebagai perjanjian yang mengandung komitmen kuat untuk mengakhiri perang. Meski demikian, ia mengakui bahwa Iran tetap mempertahankan skeptisisme terhadap pihak AS, terutama karena sejarah mereka yang sering kali mengingkari janji-janji sebelumnya.

“Kepemimpinan AS selama ini belum pernah menunjukkan keseriusan dalam menjalankan perjanjiannya kepada Iran. Pernyataan yang bertentangan dengan MoU hanya menambah ketidakpercayaan masyarakat kita,” ujar Baqaei dalam cuitannya.

Ia menambahkan bahwa MoU tersebut telah menjadi dasar untuk mengembangkan dialog antara kedua negara, meskipun masih ada tantangan. Meski Iran mengakui adanya kecurigaan, mereka tetap mempercayai proses diplomatik yang sedang berlangsung dan berharap AS mampu menunjukkan konsistensi dalam menjalankan komitmen. “Kami percaya bahwa MoU ini dapat menjadi langkah awal yang penting, tetapi AS harus memastikan bahwa tindakannya tidak mengecewakan,” tegas Baqaei.

Waspada terhadap Ancaman yang Masih Berlangsung

Menurut Baqaei, MoU tidak bisa menghilangkan ancaman yang selama ini mengintai Iran. Ia menyoroti bahwa konflik dengan AS masih memiliki dampak yang nyata, baik secara politik maupun ekonomi, meski perjanjian tersebut telah ditandatangani. “Meski proses ini berjalan, kita tidak boleh lupa bahwa tekanan dari pihak AS belum berkurang,” jelasnya. Karena itu, Iran akan terus memantau tindakan AS dengan hati-hati, khususnya dalam 18 bulan terakhir, di mana terjadi perubahan dramatis dalam hubungan bilateral.

Dalam konteks ini, Baqaei menyatakan bahwa MoU menjadi bukti bahwa Iran tetap menjunjung tinggi prinsip negosiasi. “Kita tidak mengabaikan kepentingan nasional, tetapi MoU ini membuktikan bahwa Iran bersedia mengambil langkah konsisten untuk mencapai perdamaian,” tambahnya. Ia juga menekankan bahwa setiap pihak harus memenuhi kewajibannya sesuai dengan naskah yang telah ditulis jelas dalam perjanjian, agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda.

Impak Pernyataan AS pada Masyarakat Iran

Baqaei menyoroti bahwa pernyataan dari pejabat AS yang bertentangan dengan MoU justru memperkuat kecemasan masyarakat Iran. “Kebanyakan warga percaya bahwa MoU ini akan membawa perubahan positif, tetapi pernyataan yang kontradiktif dari AS membuat mereka meragukan langkah tersebut,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa kebanyakan orang mengingatkan bahwa AS sering kali mengubah pendirian secara mendadak, seperti dalam beberapa keputusan terkait penghentian perang dan sanksi ekonomi.

“Pernyataan yang bertentangan dengan isi MoU tidak membantu mengurangi rasa ketidakpercayaan yang telah terbangun. Justru, ini menjadi pengingat atas kepatuhan sebelumnya yang sering kali diabaikan,” tutur Baqaei.

Dalam menyusun langkah masa depan, Iran akan menggabungkan pengalaman historis dan keadaan terkini. Baqaei menyatakan bahwa negara ini memahami bahwa MoU adalah langkah awal, dan keberhasilan perjanjian akan tergantung pada kemampuan AS untuk menjaga konsistensi. “Kita siap untuk mengambil tindakan tambahan jika kebutuhan itu muncul, tetapi harus dengan dasar yang jelas dan konsisten,” jelasnya. Ia juga menekankan bahwa MoU bukan hanya perjanjian formal, tetapi juga simbol keseriusan kedua belah pihak dalam menyelesaikan konflik.

Komitmen yang Perlu Dipertahankan

Baqaei mengingatkan bahwa asas komitmen untuk komitmen membutuhkan tindakan nyata dari kedua pihak. “Jika AS tidak memenuhi kewajibannya, maka MoU akan menjadi sesuatu yang tidak lebih dari sebuah dokumen,” katanya. Ia menegaskan bahwa MoU harus diikuti dengan kebijakan konkret, bukan hanya janji yang tidak terlaksana. “Pernyataan yang mengubah makna MoU hanya memperlihatkan ketidakmampuan Washington untuk menjaga kepercayaan,” tambahnya.

Sebagai contoh, Baqaei menyoroti konsistensi dalam pendirian AS terkait langkah penarikan pasukan dari Suriah atau Iran.