Key Strategy: BI Sulsel gandeng konten kreator perkuat literasi ekonomi syariah
BI Sulsel Gandeng Konten Kreator Perkuat Literasi Ekonomi Syariah
Key Strategy – Kolaborasi Bank Indonesia (BI) Provinsi Sulawesi Selatan dengan para konten kreator menjadi salah satu Key Strategy dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang prinsip, produk, dan layanan keuangan syariah. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari langkah strategis BI untuk mewujudkan Indonesia sebagai pusat ekonomi dan keuangan syariah yang berpengaruh di tingkat global. Dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) Konten Ekonomi dan Keuangan Syariah, BI Sulsel menekankan bahwa Key Strategy ini bertujuan memperluas cakupan informasi melalui media digital yang lebih relevan dan efektif.
Pola Konsumsi Informasi Berubah, Konten Syariah Harus Adaptif
Menurut Deputi Perwakilan Bank Indonesia Sulsel, Aswin Gantina, masyarakat kini lebih mengandalkan media sosial dan platform digital untuk memperoleh pengetahuan. Dengan kecepatan informasi yang meningkat, Key Strategy BI Sulsel dirancang agar pesan syariah mudah diakses, dipahami, dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. “Konten yang kuat tidak selalu efektif tanpa konteks yang tepat. Kami ingin konten kreator dan media tidak hanya menghasilkan konten menarik, tetapi juga mampu menyampaikan pesan ekonomi syariah secara akurat dan informatif,” jelas Aswin. Ia menambahkan, keberhasilan komunikasi syariah bergantung pada kecocokan antara materi dan metode penyampaiannya.
Salah satu tantangan utama dalam penguatan literasi ekonomi syariah adalah kesenjangan antara pendekatan tradisional dengan kebutuhan masyarakat yang dinamis. Kegiatan ToT ini dirancang untuk mengatasi masalah tersebut dengan memperkenalkan pendekatan kreatif dan kontekstual. “Pola konsumsi informasi masyarakat telah berubah. Jika dulu mereka mendapat pemahaman melalui koran dan televisi, kini media digital menjadi sumber utama,” ujar Aswin. Dengan Key Strategy ini, BI Sulsel berharap dapat mengubah cara masyarakat mengakses dan memahami konsep syariah, termasuk prinsip-prinsip seperti riba, hukum tawar-menawar, dan pendistribusian keuntungan.
Peran Konten Kreator dalam Menghadirkan Literasi Ekonomi Syariah
Para konten kreator, influencer, dan media digital diharapkan menjadi mitra strategis dalam Key Strategy BI Sulsel. Mereka diberikan pelatihan untuk menghasilkan konten yang tidak hanya informatif, tetapi juga menarik dan mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Aswin menekankan bahwa konten yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari mampu membangun kepercayaan dan kesadaran terhadap ekonomi syariah. “Konten yang sesuai dengan konteks kehidupan masyarakat akan menjadi kunci dalam meningkatkan partisipasi mereka,” tuturnya.
Konten kreator juga diminta untuk menyoroti keunggulan pembiayaan syariah, seperti cicilan tetap yang tidak terpengaruh langsung oleh fluktuasi suku bunga acuan. Aswin menyebutkan, kegagalan komunikasi syariah sering terjadi karena informasi tidak disampaikan dengan cara yang sesuai. “Dengan Key Strategy ini, kita bisa memastikan pesan syariah tiba di tangan masyarakat dengan cara yang lebih efektif,” jelasnya. Selain itu, kegiatan ini diharapkan mendorong kolaborasi antara lembaga keuangan syariah dan pemangku kepentingan lain dalam menyebarkan pengetahuan secara luas.
Konten Edukasi Digital Sebagai Solusi Literasi Syariah
Dr. Nasrullah Bin Sapa, LC., MM., dari UIN Alauddin Makassar, yang hadir sebagai narasumber, menyoroti pentingnya konten edukasi digital dalam memperkaya pemahaman masyarakat. “Banyak aspek ekonomi syariah yang sehari-hari, seperti zakat, infaq, atau pembayaran cicilan, bisa dijadikan bahan konten edukasi yang mendekati kebutuhan masyarakat,” kata dia. Menurutnya, kolaborasi dengan konten kreator memungkinkan pembelajaran ekonomi syariah lebih interaktif dan menyenangkan.
Aswin Gantina menambahkan, Key Strategy BI Sulsel tidak hanya berfokus pada distribusi informasi, tetapi juga pada transformasi pola pikir masyarakat. “Konten yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari akan menjadi alat untuk memperkuat literasi ekonomi syariah secara berkelanjutan,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa keberhasilan program ini tergantung pada partisipasi aktif konten kreator dan masyarakat. “Kami berharap kegiatan ini bisa menjadi awal dari perubahan positif dalam kesadaran ekonomi syariah di Sulsel,” tutup Aswin.
Kolaborasi BI Sulsel dengan konten kreator diharapkan menjadi Key Strategy yang berkelanjutan. Dengan menggabungkan keahlian profesional BI dan kreativitas konten kreator, program ini diharapkan mampu memperluas jangkauan informasi ekonomi syariah ke berbagai segmen masyarakat. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan memperkuat ekosistem halal dari hulu hingga hilir, terutama dalam sektor kuliner, fesyen, dan pariwisata. Aswin Gantina berharap, Key Strategy ini akan membuka peluang bagi masyarakat Sulsel untuk memahami dan mengaplikasikan prinsip ekonomi syariah secara lebih luas.
Dalam jangka panjang, BI Sulsel berencana menyebarluaskan metode ini ke provinsi lain sebagai bagian dari strategi nasional. “Konten kreator dan media digital menjadi pelaku penting dalam Key Strategy ini. Mereka bisa menjadi penghubung antara kebijakan ekonomi syariah dengan kehidupan masyarakat,” kata Aswin. Ia menyatakan, upaya ini bertujuan menciptakan kesadaran kolektif tentang pentingnya literasi ekonomi syariah, baik dari segi pengetahuan maupun penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
