Pemain “Nobody Loves Kay” ajak Gen Z pegang nilai Pancasila

Pemain “Nobody Loves Kay” Ajak Gen Z Pegang Nilai Pancasila

Pemain Nobody Loves Kay ajak Gen Z – Di tengah era digital yang pesat, aktor Bima Azriel menekankan pentingnya generasi muda Indonesia tetap memegang teguh nilai-nilai Pancasila. Ia mengatakan Hari Lahir Pancasila menjadi kesempatan untuk mengenang sejarah bangsa dan memperkuat komitmen terhadap prinsip-prinsip dasar negara. Saat berkunjung ke ANTARA Heritage Center di Jakarta, Selasa (26/5), Bima menyampaikan bahwa hari tersebut tidak hanya memperingati kelahiran ideologi Pancasila, tetapi juga mengajak masyarakat untuk bersyukur atas perjalanan bangsa menuju kemerdekaan.

Pegangan Mendasar dalam Kehidupan Sehari-hari

Bima Azriel menilai nilai Pancasila tidak hanya relevan dalam konteks sejarah, tetapi juga menjadi pedoman praktis dalam kehidupan sosial dan individu. Menurutnya, prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab menjadi yang paling sering dihayati dalam rutinitas sehari-hari. Ia mencontohkan hal ini melalui kebiasaan menghargai sesama, menjaga sopan santun, serta berusaha menjalin harmoni dengan orang lain. “Kita tidak bisa memisahkan Pancasila dari kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai itu bukan hanya teori, tapi juga tindakan nyata yang harus dijalani setiap orang,” ujarnya.

“Menurut aku sebuah hari yang memang bersejarah dan layak untuk dirayakan bersama, karena kita menghargai sejarah terbentuknya Pancasila sampai seperti terbentuknya Indonesia sekarang,” kata Bima saat berbicara di ANTARA Heritage Center.

Dalam wawancara tersebut, Bima juga menyatakan keyakinan bahwa generasi muda masih memiliki komitmen kuat terhadap nilai Pancasila. Meski ia mengakui ada sebagian individu yang menyimpang, ia percaya kebanyakan anak muda tetap menerapkan prinsip-prinsip tersebut. “Meskipun teknologi berkembang cepat, Pancasila tetap menjadi fondasi yang tidak bisa tergantikan. Generasi muda harus terus memperkuat pemahaman tentang makna nilai-nilai itu,” tegasnya.

Sebagai pemain film “Nobody Loves Kay”, Bima merasa memiliki tanggung jawab tambahan untuk menginspirasi pemuda. Ia berharap film yang ia bintangi bisa menjadi media edukasi bagi penonton, terutama Gen Z, agar lebih mengenal Pancasila secara mendalam. “Dengan menghadirkan karakter Kay, film ini menyoroti pentingnya keadilan, persatuan, dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Pedoman untuk Kehidupan Bermasyarakat

Senada dengan Bima, Nurhayati atau Ayastrophile, mantan anggota grup JKT48, menegaskan bahwa Pancasila adalah pedoman utama dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menyampaikan bahwa nilai-nilai itu membentuk identitas seorang warga negara Indonesia, terlepas dari latar belakang budaya atau agama. “Pancasila adalah kunci untuk membangun masyarakat yang harmonis,” ujarnya.

“Sebagai warga negara Indonesia yang baik tentu harus punya pedoman dan pedoman kita itu Pancasila sebagai ideologi negara,” kata Ayastrophile saat berbicara tentang peran Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Ayatrophile menyebutkan bahwa dalam praktiknya, ia lebih sering mengaplikasikan nilai keadilan sosial. Ia menjelaskan bahwa keadilan menjadi pilar utama dalam menangani berbagai perbedaan di masyarakat. “Menerapkan keadilan berarti memperlakukan orang lain dengan baik, merasa setiap individu memiliki hak yang sama, dan mencoba membangun hubungan yang seimbang,” katanya.

Menurut Ayastrophile, meskipun generasi muda saat ini terpapar budaya luar dan berbagai pengaruh global, mereka tetap mampu menjaga nilai-nilai Pancasila. Ia menyoroti peran pendidikan dan media dalam membentuk kesadaran akan prinsip-prinsip tersebut. “Meski kita berbeda suku, agama, atau latar belakang, Pancasila mengingatkan kita bahwa kita satu bangsa. Itu adalah jembatan untuk menjaga persatuan,” ujarnya.

Di tengah dinamika globalisasi, Bima dan Ayastrophile sepakat bahwa Pancasila tetap relevan. Mereka menyampaikan bahwa nilai-nilai seperti persatuan, keadilan, dan kesetaraan bisa diimplementasikan dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari keluarga hingga lingkungan kerja. “Pancasila bukan sekadar simbol, tapi juga bentuk komitmen untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik,” kata Bima.

Para selebriti ini menyoroti perlunya kolaborasi antara institusi pendidikan, media, dan masyarakat dalam melestarikan nilai-nilai Pancasila. Mereka menekankan bahwa Gen Z, sebagai generasi yang penuh inovasi, juga harus menjadi pelaku perubahan positif. “Kita harus memastikan bahwa teknologi dan budaya modern tidak menggerus prinsip-prinsip Pancasila, tetapi justru memperkuatnya,” tambah Ayastrophile.

Dalam pandangan mereka, Pancasila adalah warisan yang tidak boleh terlupakan. Bahkan di tengah keterbukaan informasi dan kemajuan teknologi, prinsip-prinsip dasar ini tetap menjadi pedoman yang mendasar. “Nilai-nilai Pancasila adalah jantung dari identitas bangsa. Jika generasi muda melupakannya, kita akan kehilangan arah,” kata Bima.

Ayatrophile menambahkan bahwa keberagaman yang ada di Indonesia adalah kekuatan, asalkan dikelola dengan keadilan. Ia mengingatkan bahwa keberagaman itu tidak bisa diabaikan, karena Pancasila secara eksplisit menyatakan bahwa semua bangsa Indonesia memiliki satu tujuan bersama. “Kita harus terus berpedoman dengan Pancasila, terutama saat menghadapi tantangan yang kompleks,” ujarnya.

Kedua selebriti ini sepakat bahwa tanggung jawab mengajak Gen Z mengingat Pancasila bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tugas bersama. Mereka menegaskan bahwa anak muda harus proaktif dalam memperkenalkan nilai-nilai tersebut ke berbagai lapisan masyarakat. “Saya percaya bahwa Gen Z bisa menjadi bagian dari solusi, selama mereka terus belajar dan berlatih menghayati Pancasila,” pungkas Bima Azriel.