MUI usung semangat persatuan umat ciptakan negara kuat lewat KUII ke-8
Kongres Umat Islam Indonesia Ke-8: Menyatukan Kekuatan untuk Indonesia yang Lebih Kuat
Ayobantudonasi.com – Jakarta kembali menjadi pusat perhatian ketika Majelis Ulama Indonesia menyelenggarakan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) edisi kedelapan pada tahun 2026. Acara monumental ini berlangsung pada hari Jumat dengan misi mulia untuk memperkuat persatuan umat Islam, memakmurkan kehidupan beragama, serta membangun peradaban Islam yang lebih kokoh di seluruh nusantara. Kehadiran ratusan tokoh dan perwakilan dari berbagai organisasi menjadi bukti nyata antusiasme masyarakat terhadap forum permusyawaratan penting ini.
Sejarah Panjang Kongres Umat Islam Indonesia
Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, yang hadir membuka acara secara resmi, menyampaikan pesan penting terkait nilai historis penyelenggaraan KUII. Ia mengingatkan bahwa Kongres Umat Islam pertama kali diselenggarakan pada bulan Februari tahun 1943 di Kota Yogyakarta. Saat itu, para tokoh Islam terkemuka berkumpul di tengah kegalauan masyarakat menghadapi masa transisi dari penjajahan Belanda menuju pendudukan Jepang. Pertemuan tersebut berhasil menyatukan tekad dan gelora semangat untuk meraih kemerdekaan Indonesia.
“Dari kongres pertama hingga ke-8 hari ini, inti utamanya adalah bagaimana menyatukan komponen umat Islam sebagai bagian terbesar di Indonesia. Sebab, jika umat Islam bersatu, bangsa berdaulat, maka negara pasti akan kuat,” kata Muzani.
Menurut Muzani, persatuan umat merupakan kunci utama untuk mengatasi segala bentuk ketertinggalan. Hal ini mencakup masalah ekonomi umat maupun pengembangan sumber daya manusia di tengah berbagai tantangan bangsa saat ini. Ia menegaskan bahwa umat dan bangsa tidak mungkin dipisahkan satu sama lain. Umat adalah bangsa, dan bangsa adalah umat. Itulah semangat dari Kongres Umat Islam yang ke-8.
Tema dan Tujuan Kongres Kedelapan
Dalam kegiatan tersebut, KH Marsudi Syuhud sebagai Ketua Panitia sekaligus anggota Steering Committee KUII ke-8 memaparkan bahwa kongres kali ini secara khusus mengusung tema Umat Bersatu, Bangsa Berdaulat, Negara Kuat. Kongres ini bertujuan untuk memperkuat seluruh elemen umat dalam mewujudkan penyamaan pola pikir keagamaan dan koordinasi gerakan untuk sinergi dan kolaborasi membangun umat, bangsa, dan negara.
Wakil Ketua Umum MUI itu menjelaskan forum permusyawaratan ini juga dirancang untuk memperkokoh peran elemen umat Islam dalam menyelesaikan masalah-masalah keumatan dan kebangsaan secara konstruktif, kritis, aplikatif, dan solutif. Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya memperkuat persatuan bangsa melalui ukhuah Islamiah dan ukhuah wathaniah demi mencapai tujuan berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
“Kongres ini adalah untuk mewujudkan kualitas umat terbaik khairu ummah dalam berbagai aspek kehidupan, khususnya dalam aspek agama, sosial, peradaban, pendidikan, sains, teknologi, ekonomi, kesejahteraan, media, informasi, siber, politik, hukum, ketahanan dan pertahanan nasional,” ucap Marsudi Syuhud.
Partisipasi Luas dari Berbagai Kalangan
Guna mencapai rumusan yang komprehensif, penyelenggaraan KUII ke-8 ini melibatkan lebih dari 450 peserta. Peserta tersebut terdiri atas jajaran pimpinan MUI Pusat, perwakilan komisi dan badan lembaga, unsur pemerintah, hingga perwakilan dari 87 organisasi kemasyarakatan (ormas) sosial keagamaan. Kehadiran berbagai pihak ini menunjukkan bahwa KUII bukan hanya milik umat Islam saja, tetapi juga menjadi wadah bagi seluruh komponen bangsa untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional.
Kongres ini diharapkan dapat menjadi momentum penting bagi umat Islam Indonesia untuk terus bergerak maju. Dengan semangat persatuan yang kuat, umat Islam diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata dalam berbagai sektor kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui forum ini, berbagai gagasan dan solusi dapat dirumuskan bersama untuk menghadapi tantangan masa depan yang semakin kompleks.
Sejalan dengan cita-cita besar tersebut, KUII ke-8 menjadi bukti bahwa umat Islam Indonesia masih memiliki kekuatan untuk bersatu dan bergerak maju. Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah dan organisasi kemasyarakatan, kongres ini diharapkan dapat menghasilkan rekomendasi dan kebijakan yang bermanfaat bagi kemajuan umat dan bangsa Indonesia secara keseluruhan.
