Anggota DPR desak Kemenlu gerak cepat selamatkan WNI ditangkap Israel
Anggota DPR Desak Kemenlu Gerak Cepat Selamatkan WNI Ditangkap Israel
Anggota DPR desak Kemenlu gerak cepat – Dari Jakarta, anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) TB Hasanuddin meminta pemerintah segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan sejumlah warga negara Indonesia (WNI) yang ditahan militer Israel saat melakukan misi kemanusiaan bersama kapal Global Sumud Flotilla 2.0 menuju Gaza, Palestina. Ia menekankan perlunya Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) memanfaatkan jalur diplomatik rahasia serta instrumen multilateral guna memastikan keselamatan seluruh WNI yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
Pelanggaran Hukum Internasional
Hasanuddin menyatakan, tindakan Angkatan Laut Israel yang menangkap kapal sipil yang membawa bantuan kemanusiaan dan jurnalis di perairan internasional melanggar prinsip kebebasan navigasi yang diakui dalam hukum internasional. Selain itu, ia menyoroti pengabaian terhadap Konvensi Jenewa dan Hukum Humaniter Internasional, yang mengharuskan perlindungan terhadap relawan dan individu yang menjalankan tugas kemanusiaan.
“Penangkapan terhadap relawan kemanusiaan dan jurnalis sipil di perairan internasional tidak dapat dibenarkan. Ini bukan hanya menyangkut keselamatan WNI, tetapi juga menyangkut penghormatan terhadap hukum internasional dan perlindungan terhadap misi kemanusiaan,” katanya.
Menurut Hasanuddin, Israel melakukan serangan terhadap kapal yang sedang melaksanakan tugas kemanusiaan, yang berpotensi merusak kepercayaan internasional terhadap upaya penyelamatan korban konflik. Ia berharap pemerintah dapat mempercepat upaya diplomasi untuk menegaskan komitmen Indonesia terhadap keadilan dan hak asasi manusia.
Kemenlu RI Segera Bereaksi
Sebelumnya, Kemenlu RI telah merespons aksi Israel yang menghambat konvoi flotilla kemanusiaan ke Jalur Gaza. Juru Bicara Kemenlu, Yvonne Mewengkang, menyampaikan bahwa pemerintah mengecam keras tindakan militer yang mengakibatkan penangkapan terhadap sejumlah WNI. Menurut pernyataan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Senin (18/5), insiden tersebut terjadi di perairan Siprus, yang berada di bagian timur Laut Mediterania.
“Kemenlu RI mengecam keras tindakan militer Israel yang telah mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam rombongan misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0,” kata Yvonne dalam pernyataan resmi.
Yvonne menegaskan bahwa Kemenlu telah memantau kejadian tersebut dan siap melakukan intervensi untuk mengamankan WNI yang terkena dampak. Meski demikian, ia menyoroti pentingnya koordinasi dengan organisasi internasional seperti Komite Palang Merah Internasional (ICRC) untuk memastikan langkah-langkah yang diambil efektif dan berimbang.
Kondisi WNI yang Ditemukan
Dalam konvoi GSF 2.0, sembilan WNI dilaporkan telah ditahan oleh militer Israel. Mereka terdiri dari berbagai profesi, seperti aktivis dan jurnalis, yang turut serta dalam upaya mendukung rakyat Palestina. Hasanuddin menekankan bahwa pemerintah wajib bertindak segera untuk mencegah lebih banyak korban dan memulihkan kondisi para WNI yang terjebak di perairan Gaza.
Menurut dia, penangkapan ini menggambarkan serangan yang tidak hanya mengancam nyawa WNI, tetapi juga menunjukkan keengganan Israel terhadap prinsip-prinsip internasional. Hasanuddin menyarankan perlunya memperkuat tekanan politik internasional melalui forum seperti Dewan Keamanan PBB, guna menegaskan bahwa kebebasan navigasi di laut adalah hak yang tidak dapat dipermasalahkan.
Dukungan untuk Misi Kemanusiaan
Hasanuddin berargumen bahwa misi kemanusiaan yang dijalankan oleh Indonesia dan negara-negara lain merupakan bentuk kontribusi aktif dalam perdamaian global. Ia menegaskan bahwa kewajiban konstitusional pemerintah adalah melindungi warga negaranya, termasuk mereka yang berada di luar negeri dan menjalankan tugas sosial atau kemanusiaan.
Dalam pernyataannya, anggota DPR menyebutkan bahwa peristiwa ini menjadi momentum untuk menegaskan komitmen Indonesia terhadap keadilan internasional. “Indonesia perlu menggalang dukungan di Dewan Keamanan PBB, serta meminta Palang Merah Internasional melakukan intervensi langsung demi memastikan kondisi para WNI,” ujarnya.
Hasanuddin menambahkan bahwa tindakan Israel dalam menangkap kapal flotilla tidak hanya merugikan WNI, tetapi juga merusak citra Indonesia sebagai negara yang aktif dalam upaya memperbaiki kondisi kemanusiaan di kawasan Timur Tengah. Ia meminta Kemenlu tidak hanya bereaksi secara cepat, tetapi juga menyiapkan rencana jangka panjang untuk mencegah insiden serupa terjadi di masa depan.
Dalam konteks geopolitik yang kompleks, Hasanuddin menyoroti perlunya pemerintah Indonesia menjalin komunikasi lebih intens dengan negara-negara lain untuk memperkuat posisi tegas dalam menuntut hak-hak WNI. Ia juga menekankan pentingnya mengajukan pertanyaan kepada Israel mengenai alasan penangkapan tersebut serta menyelidiki apakah ada korban yang tidak terlihat dari tindakan mereka.
Sebagai bentuk respons, Kemenlu RI berkomitmen untuk menyelidiki situasi di lapangan serta melaporkan hasilnya kepada publik. Namun, Hasanuddin menambahkan bahwa tindakan diplomasi yang diambil harus didahului oleh upaya penyelamatan nyata, terutama terhadap WNI yang telah terjebak dalam konflik. Ia yakin, dengan kecepatan dan kejelasan dalam respons, Indonesia dapat memperkuat peran dan reputasinya di kancah internasional.
Dalam beberapa hari terakhir, masyarakat internasional menyoroti kejadian tersebut sebagai indikasi dari ketegangan yang semakin meningkat di wilayah Palestina. Hasanuddin menegaskan bahwa selain menjamin keselamatan WNI, pemerintah juga harus meninjau kembali mekanisme kerja sama dengan negara-negara lain yang terlibat dalam misi kemanusiaan.
Penyelamatan WNI ini tidak hanya menjadi tanggung jawab Kemenlu, tetapi juga terkait dengan kebijakan luar negeri Indonesia dalam memperkuat hubungan bilateral dan multilateral. Hasanuddin berharap pemerintah dapat menjadi contoh tegas dalam melindungi kepentingan warga negara Indonesia di berbagai belahan dunia, terutama dalam situasi darurat atau konflik internasional.
