Topics Covered: KBRI Bern dorong kerja sama ekonomi digital Indonesia-Swiss

KBRI Bern Dorong Kerja Sama Ekonomi Digital Indonesia-Swiss

Topics Covered – Kantor Perwakilan Republik Indonesia di Bern menggencarkan upaya memperkuat kerja sama ekonomi digital antara Indonesia dan Swiss melalui serangkaian acara yang diadakan di Zug, Swiss. Forum bisnis yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan 75 tahun hubungan diplomatik kedua negara ini bertujuan untuk memperluas kolaborasi dalam sektor digital yang berkembang pesat. Acara tersebut diselenggarakan pada Kamis, 25 Juni, oleh KBRI Bern bersama mitra-mitra lokal di Swiss, sebagai platform untuk menyoroti potensi ekonomi digital Indonesia.

Kolaborasi Berbasis Teknologi

Duta Besar Indonesia untuk Swiss, Ngurah Swajaya, dalam keterangan resmi menyatakan bahwa kegiatan ini bertujuan mengajak inovator dari kedua negara untuk berinteraksi dan saling berkolaborasi. “Dengan pesatnya pertumbuhan ekosistem digital Indonesia serta peran AI yang semakin dominan dalam menentukan kemajuan berbagai sektor, saat ini adalah waktu yang tepat bagi para pelaku industri digital dari kedua negara untuk bekerja sama,” katanya. Ngurah menekankan bahwa Indonesia, sebagai pasar terbesar di ASEAN dan salah satu negara dengan ekosistem digital terkuat di dunia, memiliki peluang besar untuk bermitra dengan inovasi teknologi Swiss, terutama di bidang infrastruktur digital, keuangan digital, dan kecerdasan buatan (AI).

“Kegiatan ini mempertemukan potensi digital kedua negara yang saling melengkapi, bahkan diadakan di pusat kripto dan blockchain terbesar Eropa, Kanton Zug,” ujar Ngurah. Acara ini menunjukkan komitmen Indonesia untuk meningkatkan keterlibatan dalam pasar global melalui teknologi digital, serta memperkuat jaringan kerja antara pelaku bisnis dan pemerintah.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia di London, IGP Wira Kusuma, menjelaskan bahwa kondisi ekonomi makro Indonesia tetap stabil, sehingga menjadi fondasi kuat bagi inisiatif digital. “Pertumbuhan inovasi sistem pembayaran digital, termasuk perluasan QRIS di kawasan Asia, menunjukkan bahwa Indonesia terus bergerak maju dalam transformasi ekonomi digital,” ujarnya. Kusuma menambahkan bahwa forum ini memperlihatkan pentingnya ekonomi digital sebagai salah satu pilar utama dalam pertumbuhan ekonomi ke depan.

Potensi Pelatihan dan Ekspansi Bisnis

Salah satu topik utama yang dibahas dalam forum ini adalah pelatihan tenaga kerja digital. Nongsa Digital Park, lembaga yang berlokasi di Batam, mengusulkan program pelatihan dengan standar Swiss kepada perusahaan-perusahaan di negara itu. “Dengan pelatihan yang sesuai dengan standar Swiss, perusahaan akan lebih mudah menembus pasar Indonesia, baik dalam bidang produksi fisik maupun fintech,” jelas Marco Bardelli, Chief Business Officer Nongsa Digital Park. Acara ini juga memberikan kesempatan untuk membangun kemitraan strategis antara kedua negara dalam pengembangan teknologi digital.

“Penerapan teknologi digital bisa mencakup berbagai aspek, seperti pengelolaan data, pengembangan infrastruktur, hingga inovasi keuangan. Kemitraan ini diharapkan dapat memperkuat kedaulatan digital Indonesia dan memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” kata Marco. Poin ini menjadi fokus utama dalam diskusi antara delegasi dari kedua negara.

Forum bisnis ini tidak hanya menyoroti sektor digital, tetapi juga mengangkat isu penting seperti fintech, blockchain, dan masa depan keuangan. Direktur Kerja Sama Ekonomi Kanton Zug, Silvia Thalmann-Gut, menekankan bahwa kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan lembaga riset sangat penting untuk menciptakan kebijakan yang mendukung iklim investasi. “Kerja sama ini juga membantu meningkatkan kepercayaan investor, baik dari Swiss maupun Indonesia, terhadap potensi pasar digital di kedua negara,” ujarnya.

Potensi dan Tantangan

Ngurah Swajaya menjelaskan bahwa meskipun ekonomi digital Indonesia memiliki pertumbuhan yang signifikan, potensi kerja sama dengan Swiss masih belum dimanfaatkan secara optimal. “Interaksi antara pelaku industri digital kedua negara masih terbatas, sehingga forum seperti ini menjadi langkah penting untuk memperkuat hubungan dan membangun jaringan,” katanya. Ia menambahkan bahwa pendekatan kolaboratif akan membuka peluang baru dalam pengembangan sektor digital, khususnya di bidang keuangan dan AI.

“Ekosistem digital Indonesia diproyeksikan mencapai hampir 180 miliar dolar AS pada 2030. Dengan kerja sama yang lebih intensif, kedua negara bisa saling melengkapi dalam menghadapi tantangan dan peluang pasar global,” ujar Ngurah. Acara ini juga menjadi ajang untuk menjaring investor dan memperkenalkan potensi Indonesia dalam bidang teknologi.

Di sisi lain, Forum tersebut membahas aspek-aspek kritis seperti infrastruktur digital dan pusat data yang menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi digital. Dalam diskusi terpisah, IGP Wira Kusuma menyampaikan bahwa pengembangan teknologi pembayaran digital, seperti QRIS, menunjukkan keberhasilan Indonesia dalam memperluas penggunaan sistem yang modern. “QRIS sedang diperluas di kawasan Asia, termasuk negara-negara tetangga, yang menunjukkan keterbukaan Indonesia terhadap inovasi,” ujarnya.

Salah satu harapan utama dari forum ini adalah membangun kolaborasi yang berkelanjutan antara Indonesia dan Swiss. “Kerja sama ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi juga tentang pertukaran ide dan pengembangan kebijakan yang mendukung pertumbuhan sektor digital kedua negara,” kata Ngurah. Dengan mengadakan forum tahunan ini, KBRI Bern berharap bisa memperkuat hubungan ekonomi dan bisnis dengan Swiss serta Liechtenstein, dua negara yang menjadi mitra penting dalam perkembangan digital.

Di Zug, yang dikenal sebagai pusat kripto dan blockchain terbesar Eropa, forum ini diharapkan menjadi langkah awal dari kerja sama jangka panjang. Ngurah menambahkan bahwa Indonesia memiliki sumber daya manusia yang potensial, sementara Swiss menawarkan teknologi dan inovasi yang canggih. “Dengan memadukan kekuatan kedua negara, kita bisa menciptakan ekosistem digital yang lebih baik, terutama di Asia Tenggara,” ujarnya.

Sebagai bagian dari rangkaian acara peringatan 75 tahun hubungan diplomatik, forum ini menyatukan puluhan CEO perusahaan digital, praktisi, akademisi, serta pemangku kebijakan dari kedua negara. Diskusi tentang AI dan digital innovation menjadi fokus utama, mengingat teknologi ini semakin menjadi bagian penting dari pertumbuhan ekonomi. “Kita harus berfikir kreatif dalam mengintegrasikan AI ke dalam berbagai sektor, termasuk pertanian, kesehatan, dan transportasi,” tambah Ngurah.