Meeting Results: Indonesia- China bahas potensi kerja sama AI dan ekonomi digital
Indonesia-China Bahas Potensi Kerja Sama AI dan Ekonomi Digital
Meeting Results – Beijing, ANTARA – Pertemuan antara dua lembaga penelitian Indonesia dan Tiongkok menjadi fokus utama dalam acara “China-Indonesia Digital Economy Forum: From Vision to Action” yang diadakan di Jakarta pada Kamis (11/6). Kegiatan ini menggambarkan komitmen kedua negara dalam mengembangkan kolaborasi di bidang ekonomi digital dan kecerdasan buatan (AI). Forum tersebut diinisiasi oleh Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial, dan Budaya Indonesia-China (AICCC) dari pihak Indonesia serta China Development Institute (CDI) dari Provinsi Guangdong, Tiongkok.
Transformasi Digital Menjadi Prioritas
Ketua AICCC, Sudrajat, dalam pernyataannya mengatakan bahwa acara ini merupakan implementasi dari kerja sama ekonomi dan hubungan antar masyarakat. Menurutnya, ekonomi digital tidak hanya berkaitan dengan kemajuan teknologi, tetapi juga berfokus pada bagaimana memperkuat daya saing masyarakat, menciptakan peluang kerja, serta membentuk masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. “Kita perlu memastikan bahwa teknologi ini menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, bukan sekadar menciptakan pasar,” tambah Sudrajat.
“Hari ini adalah langkah penting untuk memperkuat ekonomi digital sebagai aspek utama pembangunan di masa depan. Teknologi bukan hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga mengubah cara kita hidup dan berinteraksi,” kata Sudrajat dalam keterangan yang diterima ANTARA, Jumat.
Forum tersebut dihadiri oleh sekitar 40 peserta yang berasal dari berbagai lembaga penelitian, pelaku industri, serta organisasi terkait. Sudrajat juga menekankan bahwa jumlah pengguna ekonomi digital di Indonesia terus meningkat, sehingga menjadi peluang besar untuk mengembangkan inisiatif yang berdampak luas. “Kita perlu memanfaatkan potensi ini dengan strategi yang tepat, termasuk integrasi teknologi dan pelatihan sumber daya manusia,” ujarnya.
China sebagai Pendorong Transformasi Digital
Wakil Presiden CDI, Guo Wanda, menyatakan bahwa keberadaan populasi muda di Indonesia yang semakin signifikan, dipadukan dengan peningkatan akses internet, menciptakan kebutuhan transisi ke era digital. “Kondisi ini memberikan peluang luas bagi sinergi antara Tiongkok dan Indonesia, terutama dalam mengembangkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan lokal,” katanya.
“Kebutuhan transformasi digital di berbagai sektor menjadi pintu masuk untuk kolaborasi yang saling menguntungkan. Tiongkok dapat membagikan keahlian teknologi, sementara Indonesia memiliki data yang menjadi fondasi penting bagi pengembangan solusi cerdas,” ujar Guo Wanda.
Menurut Guo, kecerdasan buatan (AI) merupakan prioritas strategis Tiongkok dalam lima tahun ke depan. Teknologi ini akan diterapkan secara luas untuk memperkuat berbagai sektor, termasuk lembaga think tank. “Kerja sama di bidang AI tidak hanya untuk pengembangan perangkat keras, tetapi juga untuk pemanfaatan algoritma yang bisa mengotomatisasi proses dan meningkatkan produktivitas,” imbuhnya.
Kolaborasi dalam Semikonduktor dan Teknologi AI
Dalam sesi yang sama, Fanny Liao, Direktur Komunikasi Strategis Tencent, perusahaan teknologi besar Tiongkok, menyampaikan pandangan bahwa penyebaran teknologi menjadi tujuan utama kecerdasan buatan. Menurut Fanny, saat model bahasa besar (LLM) yang mengandalkan data teks berkualitas tinggi menjadi lebih mudah diakses, pengembang dan pelaku usaha akan secara alami menerapkannya.
“Model bahasa besar akan menjadi dasar untuk mendorong inovasi dalam berbagai bidang. Kita bisa menggunakannya untuk mempercepat proses digitalisasi, terutama di sektor-sektor yang membutuhkan integrasi teknologi tinggi,” kata Fanny Liao.
Di sisi lain, Trio Adiono, Dosen ITB dan Ketua Indonesia Chip Design Collaborative Center (ICDEC), mengungkapkan bahwa semikonduktor dan AI sudah termasuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Indonesia periode 2025–2029. “Kami menitikberatkan pada industri semikonduktor fabless, yang berfokus pada desain chip. Pasar ini sangat potensial karena menawarkan keuntungan yang lebih besar dibandingkan sektor semikonduktor lainnya,” jelas Trio.
Trio juga menambahkan bahwa kerja sama dengan Tiongkok menjadi strategi utama untuk mendorong pengembangan industri semikonduktor di Indonesia. “Kolaborasi dengan Tiongkok bisa membantu kami memperoleh teknologi terkini, sementara Indonesia dapat memberikan data tropis yang kaya serta tenaga kerja yang memadai untuk implementasinya,” katanya.
Tiga Peluang Kerja Sama yang Menarik
Menurut Trio, tiga bidang utama yang menjadi peluang kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok adalah kontrol baterai kendaraan listrik, layanan kesehatan, dan pertanian cerdas. “Indonesia memiliki keunggulan dalam menyediakan data tropis yang bisa digunakan untuk pengembangan algoritma AI, sementara Tiongkok bisa memberikan solusi teknis dan infrastruktur IoT untuk meningkatkan efisiensi,” ujarnya.
“Kolaborasi di bidang baterai kendaraan listrik akan menjadi penunjang utama keberlanjutan energi. Tiongkok memiliki pengalaman dalam merancang baterai berkapasitas tinggi, sementara Indonesia bisa memberikan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang siap digunakan,” kata Trio.
Dalam bidang kesehatan, Trio menyoroti bahwa masalah kesejahteraan masyarakat Indonesia masih memerlukan perbaikan signifikan. “Kita bisa memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi diagnosis, mengelola data pasien, serta meningkatkan akses layanan kesehatan di daerah terpencil,” tambahnya.
Sementara itu, pertanian cerdas dianggap sebagai bidang kritis karena ketahanan pangan masih menjadi tantangan utama. “Teknologi AI dapat membantu meningkatkan efisiensi produksi, mengurangi pemborosan, dan mengoptimalkan distribusi hasil pertanian. Ini sangat relevan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang terus berkembang,” jelas Trio.
Perspektif Global dalam Perkembangan Ekonomi Digital
Kegiatan ini juga menjadi wadah untuk mendiskusikan peran ekonomi digital dalam skala global. Sudrajat menekankan bahwa inisiatif ekonomi digital tidak hanya berdampak pada sektor-sektor tertentu, tetapi juga menciptakan ekosistem yang lebih luas. “Kita perlu membangun jaringan internasional dengan pihak-pihak yang memiliki kompetensi di bidang teknologi, agar Indonesia bisa menjadi bagian dari inovasi global,” katanya.
Dalam konteks ini, Tiongkok dikenal sebagai negara yang memiliki kemajuan signifikan dalam bidang AI dan teknologi digital. Selain itu, Tiongkok juga memiliki pengalaman dalam pengembangan infrastruktur digital yang bisa menjadi referensi bagi Indonesia. “Kolaborasi antara kedua negara bisa menjadi model untuk negara-negara berkembang lainnya, terutama dalam menerapkan teknologi secara tepat dan berkelanjutan,” tutur Sudrajat.
Acara ini diharapkan menjadi awal dari perjanjian kerja sama yang lebih konkret. Mulai dari penyelenggaraan pelatihan teknologi, hingga pendirian pusat penelitian bersama di berbagai bidang. “Kita perlu mengidentifikasi kebutuhan spesifik masing-masing negara, lalu merancang strategi yang saling melengkapi,” pungkas Sudrajat. Dengan pendekatan yang terencana, ekonomi digital dan AI diharapkan mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat Indonesia secara signifikan.
