Key Discussion: Xi Jinping dan Kim Jong Un tegaskan persahabatan, tidak bahas nuklir

Pertemuan Xi Jinping dan Kim Jong Un: Fokus pada Persahabatan, Tidak Bahas Nuklir

Key Discussion – Di Tokyo, Presiden Tiongkok Xi Jinping dan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, Selasa, secara resmi menyatakan komitmen mereka untuk memperkuat hubungan bilateral yang telah berlangsung sejak dulu. Media resmi Tiongoko melaporkan bahwa kedua pemimpin menekankan pentingnya mengembangkan kerja sama generasional, menjaga konsistensi dalam persahabatan, dan menghindari isu-isu yang mungkin memicu ketegangan, termasuk program nuklir Pyongyang.

Simbol Kekuatan dan Persahabatan

Sebelum mengakhiri kunjungan dua hari mereka di Korea Utara, yang merupakan pertemuan pertama sejak 2019, Xi Jinping menghadiri upacara penghormatan di Menara Persahabatan China-Korea Utara. Menara ini dibangun untuk mengenang peran Tiongkok dalam Perang Korea 1950–1953, saat negara itu mendukung Korea Utara melawan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Xi didampingi Kim Jong Un dalam acara tersebut, menurut Xinhua. Kedua pemimpin juga melakukan kunjungan ke Sekolah Pelatihan Kader Pusat Partai Buruh Korea Utara, di mana mereka secara bersama menanam pohon cemara sebagai tanda kebersamaan.

Perjanjian 1961: Dasar Hubungan Kekeluargaan

Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Bantuan Timbal Balik Tiongkok-Korea Utara, yang ditandatangani pada 1961, menjadi fondasi hubungan kedua negara. Dokumen ini menetapkan komitmen untuk saling memberi dukungan militer dan bantuan ekonomi jika salah satu negara mengalami serangan senjata. Pada kesempatan pertemuan di Pyongyang, Kim Jong Un dan Xi Jinping sepakat meningkatkan komunikasi strategis serta memperluas pertukaran di berbagai bidang, termasuk peringatan 65 tahun perjanjian tersebut.

Beijing dan Pyongyang: Kembali ke Jalur Kerja Sama

Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengumumkan dalam pernyataan Senin bahwa pertemuan Xi dan Kim tidak menyebutkan program nuklir Korea Utara. Ini mengindikasikan bahwa Beijing sengaja memfokuskan dialog pada aspek kebudayaan dan politik, bukan isu militernya. Selama beberapa bulan terakhir, Beijing juga mengurangi kritik terbuka terhadap Pyongyang, meskipun Gedung Putih menegaskan bahwa Tujuan Denuklirisasi Korea Utara tetap menjadi fokus bersama dengan Trump dalam pertemuan Mei lalu.

“Beijing siap meningkatkan pertukaran di bidang diplomasi, penegakan hukum, militer, serta sektor lainnya,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lin Jian dalam konferensi pers Selasa.

Analisis Ahli: Perubahan dalam Sikap Beijing?

Menurut Profesor Ilmu Politik dari Universitas Nasional Gyeongsang, Park Jong Chol, pertemuan tersebut menunjukkan bahwa Tiongkok masih berkomitmen untuk denuklirisasi Korea Utara. Namun, ia meyakinkan bahwa Beijing mungkin memperluas kebijakan yang lebih fleksibel, termasuk menerima senjata nuklir yang sudah diproduksi Pyongyang, sekaligus mendorong penghentian produksi lebih lanjut. “Xi Jinping dan Kim Jong Un kemungkinan telah mencapai kesepakatan baru, meski tidak diungkap secara eksplisit,” tambah Park.

Seorang pejabat dari Kementerian Unifikasi Korea Selatan menyatakan bahwa pertemuan ini menandai langkah pertama kali dalam beberapa tahun terakhir untuk menyebutkan pertukaran militer antara Tiongkok dan Korea Utara secara terbuka. Kim Jong Un, sejak menggantikan ayahnya Kim Jong Il pada Desember 2011, dianggap memperkuat hubungan dengan Tiongkok melalui aksesi militer dan politik. Pertemuan ini juga melibatkan Menteri Pertahanan Tiongkok Dong Jun, yang didampingi Xi selama kunjungan ke Pyongyang.

Stabilitas Relasi Tiongkok-Korea Utara

Konteks historis Perang Korea 1950–1953 menjadi penekanan utama dalam pernyataan kedua pemimpin. Saat itu, Tiongkok dan Korea Utara berperan sebagai sekutu dalam melawan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dipimpin Amerika Serikat. Kini, hubungan kedua negara memperlihatkan perbaikan setelah terjadi kejauhanan akibat kerja sama militer Korea Utara dengan Rusia, termasuk pengiriman pasukan untuk mendukung perang di Ukraina.

Dalam kunjungan dua hari tersebut, Xi Jinping menghadiri jamuan penyambutan dan menyaksikan pertunjukan seni bersama Kim Jong Un. Hal ini menunjukkan upaya Tiongkok untuk menjaga atmosfer persahabatan, sekaligus memperkuat ikatan emosional yang dipandang sebagai “saudara sedarah.” Meskipun tidak ada kesepakatan konkrit tentang denuklirisasi, pernyataan yang dikeluarkan oleh KCNA menggambarkan pertemuan sebagai momentum untuk “membuka babak baru” dalam hubungan bilateral.

Impak pada Dinamika Regional

Kerja sama antara Tiongkok dan Korea Utara memicu perdebatan di kalangan analis internasional. Sebagian menilai bahwa Tiongkok secara aktif mendukung stabilitas Korea Utara, sementara sebagian lain khawatir tentang peningkatan ketergantungan Pyongyang pada Beijing. Pertemuan tersebut juga memberikan ruang bagi Korea Utara untuk memperlihatkan kemajuan politik, meski isu nuklir tetap menjadi faktor kritis dalam dinamika hubungan dengan negara-negara lain.

Sementara Kim Jong Un dan Xi Jinping fokus pada perayaan historis, pertemuan ini secara implisit menegaskan bahwa Tiongkok tetap menjadi pihak penentu dalam kebijakan Korea Utara. Dengan meningkatkan interaksi militer dan diplomatik, Beijing mencoba membangun kepercayaan, sementara Korea Utara mengharapkan dukungan yang lebih signifikan. Meski demikian, langkah-langkah ini masih menunggu penjelasan lebih lanjut untuk menilai dampaknya terhadap proses denuklirisasi dan keamanan regional.

Kesimpulan: Menjaga Keseimbangan dalam Diplomasi

Pertemuan Xi Jinping dan Kim Jong Un menjadi contoh dari upaya Tiongkok untuk memperkuat hubungan dengan Korea Utara dalam konteks dinamika politik global. Dengan menghindari perdebatan nuklir dan memperhatikan perayaan sejarah, kedua negara mengambil langkah-langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan ekonomi, keamanan, dan hubungan persahabatan. Meski kebijakan militer mereka menimbulkan perhatian, kerja sama ini dinilai sebagai bagian dari strategi Beijing untuk mengendalikan situasi di Semenanjung Korea.