Wagub Sulteng pastikan Asrama Haji Transit Palu siap sambut JCH

Wagub Sulteng Pastikan Asrama Haji Transit Palu Siap Sambut JCH

Wagub Sulteng pastikan Asrama Haji Transit – Palu, Sulawesi Tengah, menjadi salah satu pusat persiapan keberangkatan jamaah calon haji (JCH) di Indonesia. Wakil Gubernur Sulteng, Reny A Lamadjido, memastikan bahwa Asrama Haji Transit Palu telah siap melayani JCH asal provinsi tersebut menjelang musim haji 2026. Pernyataan ini disampaikannya saat melakukan inspeksi ke fasilitas tersebut pada Rabu, 10 Mei. Reny menegaskan bahwa pemerintah daerah secara aktif melakukan pemeriksaan guna memastikan semua sistem berjalan lancar sebelum JCH dimobilisasi ke Embarkasi Balikpapan.

Inspeksi dan Penyempurnaan Fasilitas

Dalam kunjungan kerjanya, Reny tidak hanya mengawasi infrastruktur fisik Asrama Haji Transit Palu, tetapi juga memastikan kesiapan staf dan rencana logistik. Fasilitas utama yang dilihat mencakup kamar tempat tinggal, kantin, dapur, serta armada bus yang akan digunakan untuk mengangkut jamaah. “Kita telah mengoptimalkan semua unit agar mampu menangani kebutuhan jamaah dengan maksimal,” tuturnya. Kebutuhan tersebut mencakup kenyamanan selama masa transit, ketersediaan makanan yang sehat, dan keamanan dalam perjalanan ke bandara.

“Kita pastikan semua siap dan jamaah terlayani dengan baik,” ujar Reny saat meninjau Asrama Haji Transit Palu.

Pemerintah Sulteng menekankan bahwa Asrama Haji Transit Palu tidak hanya menjadi tempat istirahat, tetapi juga menjadi sentral informasi dan koordinasi untuk JCH. Reny menjelaskan bahwa seluruh fasilitas dirancang untuk mengurangi risiko gangguan selama proses mobilisasi, terutama bagi jamaah yang berusia lanjut atau memiliki keterbatasan fisik.

Kloter Calon Haji dan Jumlah Pelayanan

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Sulteng, Muchlis Aseng, mengungkapkan bahwa jumlah JCH yang akan diberangkatkan pada musim haji tahun ini mencapai 1.751 orang. Jumlah tersebut terbagi dalam lima kelompok terbang (kloter), yaitu Kloter 9-BPN hingga Kloter 13-BPN. Dalam kesempatan itu, Muchlis menjelaskan bahwa Asrama Haji Transit Palu mampu menampung sekitar 400 orang, yang cukup untuk menyambut satu kloter. “Kloter 9 akan masuk pada 7 Mei dan diberangkatkan ke Embarkasi Balikpapan pada 8 Mei,” katanya.

“Kloter 13 nantinya akan bergabung dengan sebagian jamaah dari Kalimantan Timur,” ujarnya.

Peninjauan kloter juga menjadi fokus diskusi. Muchlis menegaskan bahwa pemisahan kloter bertujuan memudahkan pengelolaan logistik dan penyelesaian administrasi. “Setiap kloter memiliki skedul yang terstruktur agar tidak terjadi penumpukan di satu titik waktu,” tambahnya. Selain itu, jumlah kloter yang disiapkan mencerminkan rencana penyebaran penumpang ke berbagai embarkasi, termasuk Balikpapan, yang menjadi titik akhir pembekalan JCH.

Kesiapan untuk Jamaah Lanjut Usia

Salah satu aspek penting dalam persiapan ini adalah penanganan jamaah lanjut usia (lansia). Muchlis menyebutkan bahwa sekitar 351 calon haji dalam kategori lansia, atau sekitar 20 persen dari total JCH, telah terdaftar. Jamaah tertua di antaranya adalah seorang warga Kota Palu yang berusia 93 tahun. “Kita memperhatikan kebutuhan khusus mereka, termasuk akses ke ruang istirahat dan layanan medis yang lebih intensif,” jelas Muchlis.

Persiapan khusus untuk lansia mencakup pemilihan kamar yang memiliki fasilitas lengkap, seperti tempat tidur khusus, pencahayaan ramah usia, dan akses ke kamar mandi yang mudah. Selain itu, staf Asrama Haji Transit Palu dilatih untuk memberikan perawatan yang lebih lembut kepada jamaah yang memerlukan bantuan. Muchlis menambahkan bahwa tim medis akan standby di lokasi selama masa transit untuk menangani kondisi kesehatan yang mungkin muncul.

Program Kesehatan dan Mental

Sebagai bagian dari strategi pemerintah Sulteng, kloter JCH juga diberi kesempatan untuk mengikuti program kesehatan dan mental sebelum keberangkatan. Muchlis mengimbau seluruh jamaah untuk menjaga kebugaran fisik, terutama dengan rutin berolahraga dan konsumsi makanan bergizi. “Kesehatan menjadi prioritas utama, terlebih bagi jamaah yang berusia di atas 60 tahun,” katanya.

Program kesehatan meliputi pemeriksaan medis sebelum keberangkatan, seperti tes darah, pemeriksaan jantung, dan evaluasi kondisi umum. Selain itu, terdapat pelatihan teknik pernapasan, pemanasan tubuh, dan pengaturan ritme aktivitas harian. “Kita juga menyediakan bimbingan psikolog untuk membantu jamaah mengatasi rasa cemas sebelum berangkat,” tambah Muchlis. Persiapan ini dirasa penting karena proses haji membutuhkan daya tahan fisik dan mental yang tinggi.

Komitmen Pemerintah dan Koordinasi Nasional

Reny A Lamadjido mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Sulteng berkomitmen untuk menjadi penyelenggara haji yang lebih baik di tahun mendatang. “Kita ingin memastikan bahwa seluruh proses keberangkatan JCH dari daerah ini tidak hanya tepat waktu, tetapi juga nyaman dan aman,” tuturnya. Koordinasi dengan Kementerian Haji dan Umrah serta pihak terkait di Balikpapan menjadi bagian penting dalam mencapai tujuan tersebut.

Asrama Haji Transit Palu juga menjadi contoh keberhasilan pengelolaan fasilitas yang mengutamakan kenyamanan. Reny menyebutkan bahwa ada rencana peningkatan kapasitas untuk musim haji berikutnya, termasuk penambahan unit kamar dan peningkatan jumlah armada bus. “Kita ingin mengakomodasi JCH lebih banyak lagi seiring pertumbuhan jumlah pendaftar,” katanya. Penambahan fasilitas ini diharapkan mampu mengurangi beban logistik dan meningkatkan kualitas layanan.

Proses Mobilisasi dan Langkah Selanjutnya

Proses mobilisasi JCH akan dimulai seiring berjalannya waktu. Kloter 9 menjadi yang pertama, yang direncanakan masuk Asrama Haji Transit Palu pada 7 Mei dan diberangkatkan