New Policy: Menyambung asa penyintas bencana di Surantiah Parak Pisang
Menyambung Asa Penyintas Bencana di Surantiah Parak Pisang
Malam yang Mengubah Segalanya
New Policy – Pagi yang lembap di bulan Juli terpecah oleh suara palu yang berirama. Di sekitar kubangan, burung bangau mulai mencari makan setelah hujan semalam melunakkan permukaan tanah. Genangan air bekas ban kendaraan menampilkan pemandangan tenang, dengan ikan-ikan rutiang yang bergerak lincah di antara celah-celah batu. Di sudut Perumahan Graha Bumi Sejahtera, tepatnya di Korong Surantiah Parak Pisang, Nagari Sungai Buluh Utara, Kecamatan Batang Anai, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Ronandi tampak sibuk. Pria berusia 60 tahun ini sedang memasang pintu sebuah bangunan kecil yang berdiri di samping rumahnya.
Bangunan tersebut terletak paling belakang kompleks, berjarak sekitar 140 meter dari gerbang utama. Posisinya yang jauh dari rumah-rumah tetangga lainnya membuatnya terlihat lebih terpencil. Dengan modal kayu, papan, dan atap seng, Ronandi berhasil membangun shelter setinggi tiga meter dengan dimensi tiga kali dua meter. Di dalamnya sudah terpasang karpet dan lampu darurat. Ke depannya, ia berencana menambahkan kompartemen khusus untuk menyimpan pakaian serta persediaan makanan jika bencana kembali datang.
Shelter untuk Bertahan Hidup
Shelter yang dibangun Ronandi bukan sekadar tempat berlindung biasa, melainkan sarana untuk bertahan hidup. Ia merupakan salah satu dari puluhan warga yang menjadi penyintas banjir bandang yang menerjang kawasan tersebut pada November 2025. Dari sekitar 27 rumah yang ada di kompleks itu, dua rumah mengalami kerusakan berat setelah dinding belakangnya jebol diterjang arus deras. Rumah-rumah lainnya terendam hingga ke atap, menyisakan lumpur setinggi sekitar 60 sentimeter di setiap sudut.
Dari kejauhan, terdengar deru kendaraan yang melintas di jalan tol di seberang Sungai Batang Anai. Meskipun jarak sungai ke perumahan mencapai sekitar 400 meter, ketika meluap, air tetap mampu mencapai permukiman. Lumpur di rumah Ronandi telah lama dibersihkan, namun kenangan tentang derasnya banjir belum pernah benar-benar hilang dari ingatan.
Tiga Kali Menghadapi Banjir
Selama tinggal di sana, Ronandi telah tiga kali mengalami banjir. Ia mengingat dengan jelas setiap kejadian yang pernah terjadi.
Banjir terparah tahun 2025 lalu. Air sampai atap rumah dan semua barang habis terendam. Tapi banjir tahun 2024 justru hampir membuat saya dan istri pasrah karena nyaris tidak bisa menyelamatkan diri,
ujarnya sambil turun dari shelter yang baru selesai dibangun.
Banjir pada 2024 memang tidak setinggi banjir setahun kemudian. Tinggi air diperkirakan sekitar 175 sentimeter. Namun, yang membuat situasi semakin genting adalah waktu kedatangannya. Banjir datang menjelang subuh saat hujan turun tanpa henti. Ketika sebagian warga telah lebih dulu mengungsi, Ronandi dan istrinya masih terlelap. Mereka baru terbangun ketika air menghantam jendela rumah. Begitu pintu dibuka, arus deras langsung menerobos masuk. Dalam hitungan menit, air terus meninggi.
Evakuasi dengan Pelampung Sederhana
Pasangan lansia itu tak sempat menyelamatkan apa pun selain diri mereka sendiri. Perabotan rumah mulai hanyut dibawa arus cokelat yang mengganas. Untuk menghindari derasnya arus, keduanya naik ke atas pagar rumah. Ronandi bahkan menjebol atap agar mereka dapat naik lebih tinggi jika air terus bertambah. Ketegangan berlangsung hingga fajar mulai menyingsing.
Dari arah jalan terdengar seseorang berteriak, menanyakan apakah masih ada orang di dalam rumah. Ronandi dan istrinya segera menyahut. Pemuda yang berada di tepi jalan itu bertanya apakah Ronandi memiliki benda yang dapat mengapung untuk membantunya menyeberang. Jawabannya tidak. Mereka tidak memiliki apa pun. Tak lama kemudian, pemuda itu memutuskan berenang mendekat dengan membawa batang pisang yang dirakit menjadi pelampung darurat. Dengan alat sederhana itulah Ronandi dan istrinya dievakuasi menuju tempat yang lebih tinggi. Mereka selamat.
Harapan di Balik Ketakutan
Pengalaman nyaris kehilangan nyawa itulah yang mendorong Ronandi membangun shelter darurat. Letak rumahnya yang jauh di bagian belakang kompleks membuatnya khawatir tidak sempat menyelamatkan diri jika banjir datang mendadak. Kekhawatiran itu bertambah karena kini ia tinggal bersama dua cucunya yang masih kecil. Pada 2025 ia sempat membangun shelter setinggi dua meter, menyesuaikan tinggi banjir tahun sebelumnya. Namun, banjir berikutnya ternyata jauh lebih tinggi. Karena itu, ia membangun shelter baru dengan ketinggian tiga meter.
Sebagai penyintas, Ronandi mengaku hanya bisa berusaha melindungi keluarganya sembari menunggu langkah nyata penanganan dari pihak terkait. Di balik sikap pasrahnya, ia masih menyimpan harapan agar suatu hari nanti keluarganya dapat hidup lebih tenang.
