Key Discussion: Mahasiswi Indonesia di China: “Saya merasa aman dan nyaman”
Mahasiswi Indonesia di China: “Saya merasa aman dan nyaman”
Key Discussion – Mahasiswi asal Indonesia, Maria, menilai bahwa tinggal di Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir telah memberinya pengalaman yang berharga. Ia menyatakan, “Selama menempuh pendidikan di sini, saya merasa aman, nyaman, dan terus belajar hal-hal baru.” Di tengah persiapan untuk menyelesaikan studi sarjana, Maria sudah memiliki perencanaan karier yang jelas. Ia ingin melanjutkan karjernya di salah satu universitas Tiongkok sebagai pengajar bahasa Indonesia atau kembali ke Indonesia untuk terus berkontribusi di bidang pendidikan bahasa Mandarin.
Latar Belakang Pendidikan
Maria, yang berusia 28 tahun, berasal dari Kota Kediri, Jawa Timur. Sebelum memutuskan studi di Tiongkok, ia menempuh pendidikan di Surabaya International Institute of Business and Technology (SIIBT) pada jurusan Bahasa dan Sastra Mandarin. Setelah lulus SMA, ia memilih untuk mempelajari bahasa Tiongkok dengan tekun, yang akhirnya membawanya ke universitas di Chongqing pada 2018 melalui program kerja sama internasional “2+2”. Saat ini, Maria sedang menyelesaikan program pascasarjana di Universitas Ningxia, fokus pada bidang Bahasa dan Sastra Mandarin.
Pengalaman Belajar dan Kegiatan Budaya
Dalam proses belajar, Maria mengakui bahwa bahasa Mandarin menawarkan tantangan yang cukup besar. “Belajar bahasa Mandarin bukanlah hal yang mudah,” katanya. Menurutnya, perbedaan mendasar antara bahasa Indonesia dan Tiongkok terletak pada struktur fonetis versus ideografis. Sementara bahasa Indonesia relatif sederhana dalam pelafalan, Mandarin mengandalkan karakter dan variasi nada yang memengaruhi makna. “Walaupun sulit, justru di situlah letak keunikan bahasa Mandarin,” ujarnya. Kecantikan budaya Tiongkok dan cara penyampaiannya juga memberinya kesan mendalam.
Untuk meningkatkan kemampuan berbahasa, Maria aktif mengikuti berbagai kegiatan yang memperkaya pengalaman. Ia menghabiskan waktu untuk melatih pelafalan, menulis karakter Hanzi, dan menonton drama serta film Tiongkok untuk memperbaiki kemampuan mendengar dan berbicara. Selain itu, ia juga senang berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal, mempelajari cara mereka berkomunikasi, serta memahami pola pikir yang berbeda. “Pengalaman seperti itu sangat membantu dalam memahami perbedaan budaya dan mempercepat penguasaan bahasa,” jelasnya.
Karier dan Harapan di Masa Depan
Sebelum memasuki pendidikan pascasarjana, Maria sempat mengajar bahasa Mandarin di dua sekolah: sekolah tiga bahasa di Bali dan sekolah nasional plus di Surabaya. Dalam pengalaman mengajar tersebut, ia menyampaikan materi kepada siswa dari berbagai latar belakang, termasuk keturunan Tionghoa dan siswa Indonesia. “Di Indonesia, minat belajar bahasa Mandarin sangat tinggi,” katanya. Tidak hanya itu, masyarakat dari berbagai suku juga mulai tertarik mengajarkan bahasa tersebut kepada anak-anak. “Ini menjadi peluang besar bagi kami untuk berkontribusi di bidang pendidikan,” tambahnya.
Pengalaman mengajar selama tiga tahun membuat Maria lebih memahami perbedaan budaya, struktur bahasa, dan cara berpikir antara Indonesia dan Tiongkok. Namun, ia merasa masih perlu memperdalam pengetahuan tentang budaya Tiongkok. Karena itu, ia memutuskan kembali ke Tiongkok untuk melanjutkan studi. “Kesempatan ini membuat saya sangat antusias,” katanya. Setelah menyelesaikan sarjana, Maria berangkat ke Tiongkok kembali pada September 2023, dengan harapan memperoleh pemahaman yang lebih menyeluruh.
Keseriusan dalam Belajar
Maria menyadari bahwa keberhasilan belajar bahasa tidak hanya bergantung pada teori, tetapi juga pada konsistensi dan keseriusan. Di Universitas Ningxia, ia merasa bahwa lingkungan belajar sangat kompetitif. “Di Indonesia, perpustakaan adalah tempat yang santai, tetapi di sini, setiap ingin masuk harus datang lebih awal,” ujarnya. Meski begitu, ia tetap termotivasi oleh semangat teman-temannya yang rajin belajar. “Saya merasa lebih termotivasi untuk meningkatkan diri setelah melihat keseriusan mereka,” katanya.
Kegiatan budaya menjadi bagian penting dalam rutinitas Maria. Selama kuliah, ia aktif mengikuti berbagai pertunjukan dan program seperti kaligrafi, seni gunting kertas, dan tai chi. “Mengikuti kegiatan seperti ini membuat saya semakin menghargai warisan budaya Tiongkok yang telah diwariskan selama ribuan tahun,” jelasnya. Ia juga menikmati pertunjukan seni kampus, seperti menyanyikan lagu-lagu Mandarin seperti “Denghuo Li De Zhongguo” dan “Nanniwan”, serta membacakan puisi klasik sambil mengenakan hanfu. “Pertunjukan tersebut memberi saya pengalaman yang tak terlupakan dan memperkaya pemahaman tentang seni tradisional Tiongkok,” ujarnya.
Bagi Maria, Tiongkok bukan hanya tempat belajar, tetapi juga tempat yang menyimpan kenangan berharga. Ia merasa bahwa pengalaman hidup di sini membawanya ke arah yang lebih matang, baik secara akademik maupun pribadi. “China adalah negara yang kaya akan sejarah dan budaya, serta penuh pesona,” katanya. Dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman hidupnya di Tiongkok, Maria optimis akan terus berkembang dalam bidang bahasa dan budaya. Ia juga berharap bisa memberikan kontribusi nyata, baik di Tiongkok maupun kembali ke Indonesia.
Perbedaan Budaya dan Pemahaman Lebih Mendalam
Maria menyatakan bahwa proses belajar di Tiongkok membuatnya lebih sensitif terhadap perbedaan budaya. “Saya mulai mengerti bahwa cara berpikir dan gaya hidup di sini berbeda dengan Indonesia,” katanya. Ia juga menyebutkan bahwa pengalaman ini memperkaya pengetahuan tentang tradisi, nilai, dan kehidupan sosial Tiongkok. “Melalui interaksi langsung dengan masyarakat, saya bisa melihat bagaimana budaya mereka diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Di sisi lain, Maria menyebutkan bahwa suasana belajar di Tiongkok sangat dinamis. “Masyarakat Tiongkok sangat antusias dalam menggali pengetahuan, bahkan di waktu senggang mereka juga menghabiskan waktu untuk belajar,” katanya. Hal ini membuatnya semakin tertarik mengeksplorasi budaya Tiongkok. Dalam pandangannya, Tiongkok tidak hanya sebagai tempat belajar bahasa, tetapi juga sebagai tempat yang memperkaya pengetahuan global dan membangun hubungan yang kuat antara Indonesia dan Tiongkok.
Harapan untuk Masa Depan
Dengan latar belakang pendidikan yang solid dan pengalaman hidup di Tiongkok, Maria berharap bisa menjadi jembatan antara dua budaya. “Saya ingin terus memperdalam pemahaman tentang Tiongkok, baik dalam aspek bahasa maupun budaya,” ujarnya. Ia juga optimis bahwa minat belajar bahasa Mandarin di Indonesia akan terus meningkat, dan ia ingin berperan dalam memperluas akses ke pendidikan ini.
Menurut Maria, Tiongkok adalah negara yang layak dijelajahi secara mendalam. “Saya ingin terus berkunjung ke berbagai daerah di sini untuk mempelajari lebih jauh tentang sejarah, seni, dan kehidupan masyarakat,” katanya. Dengan semangat ini, ia yakin akan terus berkembang dalam bidang pendidikan dan budaya. “Hubungan saya dengan Tiongkok akan terus berlanjut, baik melalui pendidikan maupun pekerjaan di masa depan,” tutupnya.
