KemenPPPA dan pemda pastikan pemulihan dua santri korban pembakaran

KemenPPPA dan Pemda Pastikan Pemulihan Dua Santri Korban Pembakaran di Lombok Tengah

KemenPPPA dan pemda pastikan pemulihan dua santri – Jakarta — Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) bersama pemerintah daerah telah memastikan pemulihan dua santri yang menjadi korban peristiwa pembakaran di sebuah pondok pesantren. Insiden ini terjadi di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan telah memicu koordinasi intensif antara berbagai pihak terkait. KemenPPPA dan pemda pastikan pemulihan para korban berjalan optimal melalui pendekatan holistik yang mencakup aspek medis, psikologis, dan hukum.

Proteksi dan Pendampingan untuk Korban

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Arifah Fauzi, menyatakan bahwa setiap anak memiliki hak fundamental untuk mendapatkan perlindungan dan pemulihan yang maksimal. KemenPPPA berkomitmen untuk terus mengawal penanganan kasus ini secara menyeluruh. Upaya ini dilakukan bersama-sama dengan pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta berbagai lembaga layanan terkait yang terlibat dalam proses pemulihan korban.

“Setiap anak berhak mendapatkan perlindungan dan pemulihan yang optimal ketika menjadi korban. KemenPPPA akan terus mengawal penanganan kasus ini bersama pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan lembaga layanan agar kebutuhan korban dari sisi perlindungan dan pendampingan psikologis dapat terpenuhi,” kata Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi di Jakarta, Rabu.

Salah satu fokus utama dalam penanganan kasus ini adalah pemenuhan kebutuhan korban sesuai dengan hasil asesmen yang telah dilakukan oleh pemerintah daerah. Termasuk di dalamnya adalah bantuan rehabilitasi medis yang diperlukan untuk membantu proses penyembuhan para korban. KemenPPPA juga menegaskan bahwa mereka akan terus memantau dan mengawal penanganan hukum terkait insiden ini agar tidak ada kelalaian dalam prosesnya.

Rincian Insiden dan Kondisi Korban

Peristiwa yang diduga terjadi pada bulan November 2025 tersebut bermula ketika seorang anak yang berinisial R diduga sedang memainkan api. Anak tersebut menggunakan mika yang telah disiram dengan bensin di dalam kamar gudang pondok pesantren. Kondisi menjadi semakin kritis ketika api kemudian membesar setelah menyambar botol yang berisi bensin di lokasi kejadian.

Dampak dari insiden ini menyebabkan tiga anak berinisial D, S, dan SA mengalami luka bakar dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Korban yang berinisial S meninggal dunia setelah mengalami luka bakar mencapai seratus persen pada tubuhnya. Sementara itu, korban berinisial D juga mengalami luka bakar seratus persen, dan saat ini masih dilakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan kondisi serta keberadaannya.

Sementara itu, korban berinisial SAH yang berusia tiga belas tahun mengalami luka bakar sekitar tujuh puluh lima persen. Anak tersebut telah menjalani operasi dan kini sedang menjalani perawatan rawat jalan sebagai bagian dari proses pemulihan. KemenPPPA dan pemda pastikan pemulihan korban-korban ini berjalan dengan baik melalui berbagai program pendampingan yang telah disiapkan.

Prioritas Pemulihan Komprehensif

Menteri Arifatul Choiri Fauzi menekankan bahwa saat ini perhatian utama adalah memastikan korban mendapatkan layanan yang utuh dan komprehensif. Selain proses hukum yang sedang berjalan, pemulihan fisik dan psikologis korban harus menjadi prioritas bersama. Hal ini dilakukan agar para korban dapat kembali menjalani kehidupan secara aman dan optimal.

“Saat ini yang menjadi perhatian utama adalah memastikan korban mendapatkan layanan yang utuh. Selain proses hukum yang sedang berjalan, pemulihan fisik dan psikologis korban harus menjadi prioritas bersama agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara aman dan optimal,” kata Menteri Arifatul Choiri Fauzi.

Koordinasi antara KemenPPPA dan pemda terus diperkuat untuk memastikan tidak ada aspek yang terlewat dalam proses pemulihan. Berbagai lembaga layanan kesehatan dan psikologis juga dilibatkan untuk memberikan dukungan terbaik bagi para korban. Langkah-langkah ini diharapkan dapat membantu para santri yang menjadi korban untuk pulih secara menyeluruh, baik dari segi fisik maupun mental mereka.

Proses pemulihan ini juga melibatkan pendampingan berkelanjutan yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing korban. Dengan pendekatan holistik, diharapkan para korban dapat kembali aktif dalam aktivitas sehari-hari dan pendidikan mereka di pondok pesantren. KemenPPPA akan terus memantau perkembangan kasus ini hingga semua aspek perlindungan dan pemulihan dapat tercapai sesuai dengan harapan. KemenPPPA dan pemda pastikan pemulihan dua santri korban pembakaran ini menjadi contoh penanganan kasus yang efektif dan berpusat pada kepentingan anak.