Important Visit: BPBD Magetan catat 500 pendaki tirakatan Sura di Gunung Lawu
BPBD Magetan Catat 500 Pendaki Tirakatan Sura di Gunung Lawu
Important Visit – Gunung Lawu, yang terletak di perbatasan Kabupaten Magetan (Jatim) dan Karanganyar (Jateng), kembali menjadi tempat yang ramai dikunjungi oleh warga untuk merayakan hari besar Islam, 1 Muharam 1448 Hijriah, yang jatuh pada tanggal 1 Sura. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Magetan mencatat jumlah pendaki yang memadati jalur pendakian Cemorosewu mencapai lebih dari 500 orang. Angka ini menunjukkan minat masyarakat yang tinggi terhadap ritual tirakatan yang diadakan setiap tahun di puncak gunung tersebut.
Persiapan dan Pengamanan
Dalam rangka menjaga keamanan dan keselamatan selama event tersebut, BPBD Magetan bersama tim gabungan dari beberapa instansi sudah melakukan persiapan sejak beberapa minggu sebelum hari raya. Tim yang terlibat mencakup BPBD Magetan, Kodim Magetan, Polres Magetan, Perhutani KPH Lawu dan Sekitarnya, serta relawan dari Paguyuab Giri Lawu (PGL). Mereka berperan dalam pemantauan dan pengamanan jalur pendakian, terutama di zona rawan dan area basecamp.
“Sekitar 500 pendaki tercatat beraktivitas di Jalur Cemorosewu. Mereka berasal dari berbagai wilayah untuk menunaikan ritual tirakatan 1 Sura di puncak Gunung Lawu,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Magetan, Eka Radityo.
Berdasarkan laporan dari Pos Pengamanan Gunung Lawu via Cemorosewu, Desa Ngancar, Kecamatan Plaosan, jumlah pendaki meningkat signifikan dibandingkan hari biasa. Pihak BPBD menyatakan bahwa kenaikan volume pengunjung memerlukan koordinasi lebih ketat, karena di masa tirakatan biasanya terjadi lonjakan kegiatan yang mengubah kondisi jalur dan sekitarnya.
Jalur Cemorosewu: Pilihan Utama
Jalur Cemorosewu tetap menjadi pilihan utama para pendaki karena medan yang relatif jelas dan menjadi rute tercepat menuju puncak Gunung Lawu. Sepanjang perjalanan, para pendaki akan menempuh jarak sekitar 6,5 kilometer. Mulyadi, Asper BKPH Lawu Selatan KPH Lawu dan Sekitarnya, menjelaskan bahwa jalur ini juga populer karena bisa dilalui dengan waktu antara lima hingga delapan jam, tergantung pada kecepatan dan ritme santai yang dipilih oleh para pendaki.
“Jalur Cemorosewu memiliki panjang sekitar 6,5 kilometer. Pendaki biasanya membutuhkan waktu antara lima hingga delapan jam untuk menyelesaikan perjalanan tersebut, dengan mengikuti ritme santai agar bisa menikmati suasana alam yang sejuk,” katanya.
Sementara itu, Perhutani KPH Lawu dan Sekitarnya memastikan bahwa penjagaan dan pemantauan di jalur tersebut dimulai sejak tanggal 14 Juni 2026 hingga 18 Juni 2026. Tanggal tersebut dipilih sebagai jangka waktu untuk mengantisipasi kepadatan pengunjung dan mengurangi risiko kecelakaan atau kerusakan lingkungan. Hal ini menjadi tugas penting bagi semua pihak untuk menjaga keseimbangan antara antusiasme masyarakat dan perlindungan alam.
Ketertiban dan Etika Pendaki
Pengelola Gunung Lawu menekankan pentingnya disiplin dalam mengikuti aturan konservasi dan keselamatan. Pendaki diwajibkan melakukan registrasi resmi di basecamp sebelum memulai pendakian. Selain itu, larangan melakukakan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran hutan, seperti membakar sampah atau menggunaikan alat api, juga diterapkan secara ketat. Aparat kepolisian setempat, Kapolsek Plaosan AKP Agus Budi, mengimbau para pendaki untuk menjaga ketertiban, terutama saat berada di titik istirahat atau kawasan puncak yang kerap dipadati pengunjung.
“Kami berharap para pendaki menjadikan momen Sura sebagai peluang untuk saling bersilaturahmi, menjaga kelestarian alam, dan memastikan pengalaman yang menyenangkan bagi seluruh pengunjung,” imbuh AKP Agus Budi.
Meskipun jumlah pengunjung meningkat, BPBD Magetan berharap semua pendaki tetap mematuhi protokol yang berlaku. Pihaknya juga menekankan peran relawan dan petugas pengamanan dalam menjaga kondisi jalur serta mengantisipasi kejadian tak terduga. Kehadiran mereka membantu memastikan bahwa semua pendaki dapat menikmati kegiatan tirakatan tanpa mengganggu ekosistem gunung yang merupakan bagian dari alam Indonesia.
Kultural dan Religius
Gunung Lawu, yang memiliki ketinggian 3.265 meter di atas permukaan laut, tidak hanya menjadi destinasi wisata alam tetapi juga memiliki makna spiritual bagi masyarakat Jawa. Dalam bulan Sura, gunung ini menjadi tempat ziarah atau tirakat yang penting. Masyarakat percaya bahwa berada di puncak gunung pada hari pertama Muharam membawa berkah dan keselamatan. Oleh karena itu, setiap tahun selalu terjadi lonjakan jumlah pendaki yang ingin merayakan hari raya tersebut.
Sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan wisata, BPBD Magetan dan mitra kerjanya terus meningkatkan kesiapan menghadapi kepadatan pengunjung. Mereka melakukan pemeriksaan terhadap fasilitas, seperti toilet portable, tempat parkir, dan jalur evakuasi, serta memastikan jadwal pengelolaan kegiatan tidak mengganggu kegiatan sehari-hari warga sekitar. Koordinasi ini mencakup diskusi antarinstansi yang rutin dilakukan untuk memperbaiki sistem pengamanan secara berkala.
Menurut Mulyadi, jalur Cemorosewu terus menjadi primadona karena kemudahannya dalam akses dan lingkungan alam yang asri. Ia menambahkan bahwa jalur ini juga memiliki keunikan karena menjaga kebersihan dan kejelasan lintasan, sehingga mengurangi risiko kecelakaan selama perjalanan. Meskipun begitu, ada beberapa bagian yang perlu diperhatikan, seperti curah hujan yang bisa meningkatkan risiko longsor atau banjir di area lembah.
Dengan persiapan yang matang, BPBD Magetan dan pihak terkait berharap seluruh pendaki bisa menikmati kegiatan tirakatan Sura tanpa mengganggu alam atau membahayakan diri sendiri. Pemantauan yang terus dilakukan di jalur Cemorosewu dan kecamatan terkait menjadi penjamin bahwa kegiatan ini berjalan aman dan kondusif. K
