FEB UIN Jakarta bidik AACSB menuju “Global Islamic Business School”
Daftar Isi
FEB UIN Jakarta Menargetkan Akreditasi AACSB: Jalan Menuju “Global Islamic Business School”
Ayobantudonasi.com – Di tengah persaingan ketat antarperguruan tinggi bisnis di Asia Tenggara, satu institusi di ibu kota Indonesia tengah menyiapkan langkah besar yang belum pernah dilakukan oleh fakultas ekonomi berbasis pesantren modern. Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta secara resmi membidik pengakuan internasional dari Association to Advance Collegiate Schools of Business (AACSB) — lembaga akreditasi yang selama ini menjadi tolok ukur mutu bagi sekolah bisnis kelas dunia. Target waktu penyusunan dokumen kelayakan (eligibility) ditetapkan pada rentang 2029 hingga 2030, sebuah ambisi yang menuntut transformasi menyeluruh mulai dari komposisi dosen hingga budaya akademik di ruang sidang disertasi.
Visi Transformasi dan Titik Tolak Nasional
Dekan FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Ibnu Qizam, menegaskan bahwa predikat “Unggul” yang telah diraih di tingkat nasional tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti. Baginya, capaian domestik hanyalah fondasi pertama sebelum melangkah ke arena global yang menuntut standar jauh lebih ketat. Ia menekankan bahwa pembenahan kualitas pengajaran, penguatan disiplin layanan bimbingan, serta standardisasi mutu riset mahasiswa doktoral merupakan prasyarat mutlak yang tidak dapat ditunda.
“Kami menetapkan visi transformasi kelembagaan yang kuat untuk menjadi Global Islamic Business School. Persiapan dokumen kelayakan (eligibility) AACSB kami targetkan secara matang pada kurun waktu 2029–2030. Untuk itu, pembenahan kualitas, disiplin pelayanan bimbingan, serta standardisasi mutu penelitian mahasiswa S3 mutlak harus segera diimplementasikan secara konkret.”
Pernyataan tersebut disampaikan dalam keterangan resmi di Jakarta pada hari Rabu. Di balik retorika ambisi itu tersimpan tantangan struktural yang nyata: rasio dosen berkualifikasi Scholarly Academic (SA) — kategori yang mensyaratkan publikasi riset bereputasi dan gelar doktor dari institusi terakreditasi — saat ini baru berada di kisaran 20 persen. Angka itu jauh di bawah ambang yang ditetapkan AACSB melalui ketentuan faculty sufficiency. FEB UIN Jakarta menetapkan target minimal 60 persen pada tahun 2029, artinya dalam kurang dari empat tahun komposisi fakultas harus berlipat tiga.
Perspektif Pakar: Kejujuran Institusional di Atas Sekadar Dokumen Sempurna
Untuk mempercepat pemahaman terhadap lanskap akreditasi global, FEB UIN Jakarta melibatkan sejumlah pakar tata kelola akademik. Salah satu narasumber utama adalah Prof Sri Rahayu Hijrah Hati, Guru Besar sekaligus Ketua Program Studi Pascasarjana Ilmu Manajemen FEB Universitas Indonesia, yang akrab disapa Prof Cici. Dalam paparannya, ia menggarisbawahi pergeseran paradigma pada instrumen akreditasi AACSB edisi 2026: asesor kini lebih menghargai rekam jejak kejujuran institusional (authenticity) dan komitmen perbaikan mutu berkesinambungan (continuous improvement) ketimbang sekadar berkas administratif yang tampak mulus di permukaan.
“Asesor AACSB sangat menghargai keunikan institusi. Keterbatasan regulasi ganda dari Kemenag maupun Kemendiktisaintek di UIN Jakarta justru harus diceritakan dengan jujur sebagai narasi sejarah operasional lembaga. Poin paling krusial adalah bagaimana FEB UIN menonjolkan distingsi mutunya, yaitu integrasi keilmuan ekonomi dan nilai-nilai keislaman (Integration of Knowledge) yang diturunkan secara konkret ke dalam Kurikulum dan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL).”
Pandangan ini membawa implikasi strategis: alih-alih menyembunyikan kompleksitas regulasi yang melekat pada status UIN sebagai perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama sekaligus tunduk pada regulasi Kemendikti-saintek, FEB UIN Jakarta memilih menjadikan dinamika tersebut sebagai bagian dari narasi identitas. Integrasi keilmuan ekonomi dengan nilai-nilai keislaman — yang secara operasional dituangkan ke dalam kurikulum dan Capaian Pembelajaran Lulusan — diposisikan sebagai pembeda utama yang tidak dimiliki sekolah bisnis konvensional.
Inovasi Akademis untuk Mempercepat Masa Lulus
Salah satu hambatan klasik program doktoral di Indonesia adalah durasi penyelesaian disertasi yang kerap melampaui batas wajar. FEB UIN Jakarta merespons persoalan ini dengan paket inovasi yang dirancang memangkas rata-rata masa lulus menjadi 3 hingga 3,5 tahun. Komponen utamanya meliputi:
Kelas khusus Systematic Literature Review (SLR) yang membekali mahasiswa dengan metodologi sintesis literatur secara terstruktur; modul literasi kecerdasan buatan (AI) agar riset doktoral memanfaatkan alat komputasi modern secara etis; pergeseran format disertasi ke model kompilasi tematik (thematic style) yang menekankan koherensi argumen daripada akumulasi bab terpisah; serta relaksasi aturan penulisan yang mengurangi beban formal tanpa mengorbankan substansi ilmiah.
Perombakan Tata Kelola Bimbingan dan Penjaminan Mutu
Di luar aspek metodologis, fakultas menyepakati perubahan fundamental dalam budaya bimbingan akademik. Model hierarkis yang selama ini mendominasi relasi promotor–mahasiswa akan digeser ke arah kemitraan kolaboratif berbasis value co-creation, di mana kedua pihak berkontribusi setara pada proses intelektual. Untuk melindungi hak pendidikan mahasiswa dari proses yang berbelit tanpa ujung, FEB UIN Jakarta menyiapkan mekanisme sanksi berupa penonaktifan sementara (grounding) bagi dosen promotor yang terbukti lalai atau sengaja mempersulit jalannya bimbingan.
Sebagai langkah pamungkas dalam rantai penjaminan mutu, setiap program studi kini mewajibkan pelaksanaan Standard Operating Procedure (SOP) berupa Sidang Komisi tertutup berdurasi 15 menit sebelum mahasiswa diuji. Sesi singkat ini bertujuan menyelaraskan persepsi dan instruksi revisi antar anggota tim penguji sehingga mahasiswa tidak lagi menerima arahan yang saling kontradiktif — kondisi yang selama ini kerap membingungkan dan memperpanjang siklus revisi tanpa kepastian.
Keberhasilan seluruh rangkaian langkah ini akan menentukan apakah FEB UIN Jakarta mampu membuktikan bahwa label “Islamic Business School” bukan sekadar pembeda retoris, melainkan kerangka operasional yang diakui di panggung akreditasi global. Dengan target 2029–2030 yang semakin mendekat, setiap semester ke depan akan diukur bukan lagi oleh predikat nasional, melainkan oleh sejauh mana institusi mampu menunjukkan integritas proses, kedalaman riset, dan keunikan epistemik yang tidak dapat direplikasi oleh sekolah bisnis mana pun.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is FEB UIN Jakarta bidik AACSB menuju?
FEB UIN Jakarta bidik AACSB menuju is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does FEB UIN Jakarta bidik AACSB menuju matter?
FEB UIN Jakarta bidik AACSB menuju matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.