Program Terbaru: Gagas Energi ungkap manfaat BBG sebagai solusi energi ramah lingkungan
Gagas Energi ungkap manfaat BBG sebagai solusi energi ramah lingkungan
Jakarta – Perusahaan energi PT Gagas Energi Indonesia, yang merupakan anak perusahaan dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN), menjelaskan keunggulan bahan bakar gas (BBG) sebagai alternatif energi yang efisien dan ramah lingkungan untuk sektor transportasi nasional. Direktur Operasi dan Komersial, Maisalina, dalam pernyataannya di Jakarta, Rabu, menekankan bahwa BBG menjadi bagian dari upaya menjaga ketahanan energi, sambil mendorong penggunaan sumber daya yang lebih bersih menghadapi pertumbuhan permintaan bahan bakar kendaraan.
Kelengkapan Sistem BBG
Dari sudut pandang keamanan, Maisalina menyebutkan kendaraan yang menggunakan BBG dilengkapi dengan tangki khusus berstandar internasional, mampu menampung hingga 15 liter gas per tangki. Sistem ini dirancang agar gas cepat menguap ke udara jika terjadi kebocoran, sehingga mengurangi risiko terjadinya ledakan. “Masyarakat tidak perlu cemas terkait aspek keamanan, karena pemasangan converter kit maupun tangki BBG dilakukan sesuai standar keselamatan global dan oleh tenaga ahli terlatih,” jelasnya.
“Masyarakat tidak perlu khawatir mengenai aspek keamanan, karena pemasangan setiap converter kit maupun tangki BBG melalui standar yang keselamatan internasional, dan oleh tenaga ahli yang kompeten,” ujar Maisalina, menjelaskan.
Kinerja Teknis BBG
Secara teknis, BBG dianggap sebagai alternatif bahan bakar yang lebih modern, karena mampu meningkatkan efisiensi mesin kendaraan dibandingkan bahan bakar minyak (BBM). Menurut Maisalina, BBG memiliki keunggulan berupa nilai oktan tinggi, berkisar antara 120 hingga 130. Karakteristik ini memungkinkan mesin bekerja dengan rasio kompresi lebih optimal, sehingga memperbaiki efisiensi termal.
Lebih lanjut, BBG sebagai bahan bakar berbasis metana (CH4) memberikan pembakaran yang lebih sempurna. Hasilnya, emisi karbon berkurang sekitar 20 persen dibandingkan BBM. Selain itu, BBG tidak meninggalkan residu di komponen mesin, yang berdampak positif pada umur mesin dan pengurangan biaya perawatan kendaraan.
Ekosistem BBG dan Akses Layanan
Sebagai bahan bakar, BBG memiliki konsumsi bervariasi tergantung jenis kendaraan. Kendaraan pribadi rata-rata menghabiskan 10 liter setara pertalite (LSP) per hari, sementara taksi membutuhkan sekitar 20 LSP per hari. Angkutan umum seperti bajaj dan angkot menggunakan 15–20 LSP per hari. Di sisi lain, kendaraan besar seperti truk dan bus memerlukan 125–165 LSP per hari, dengan jarak tempuh hingga 10 kilometer per LSP.
“Harga BBG stabil di angka Rp4.500 per LSP, yang sangat ramah karena sumber gas berasal dari dalam negeri,” tambah Maisalina. Dengan banyak manfaat yang ditawarkan, ia optimis minat masyarakat terhadap BBG akan semakin meningkat.
Dalam penerapannya, BBG dapat digunakan pada kendaraan berbasis dedicated gas atau sistem dual fuel melalui pemasangan converter kit. Sistem ini memberikan fleksibilitas, sekaligus meningkatkan jarak tempuh kendaraan. Untuk memperkuat ekosistem BBG, Gagas Energi juga menjalin kerja sama dengan Komunitas Mobil Gas (Komogas). Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan infrastruktur dan edukasi publik, termasuk peluncuran bengkel keliling BBG guna memudahkan akses layanan.
