Meeting Results: Kemenekraf kembangkan IP film yang angkat ekonomi kreatif daerah
Kemenekraf Terus Dorong Pengembangan IP Film untuk Bangkitkan Ekonomi Kreatif Daerah
Meeting Results – Jakarta, Minggu – Menteri Ekonomi Kreatif dan Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf) Teuku Riefky Harsya menekankan pentingnya memperkuat kekayaan intelektual (IP) dalam industri film, khususnya yang mencerminkan budaya lokal. Menurutnya, film dengan tema budaya daerah tidak hanya menjadi media penghormatan terhadap warisan leluhur, tetapi juga memiliki peran sentral dalam meningkatkan daya saing ekonomi kreatif nasional. “Kita perlu mengubah cara berpikir bahwa budaya bukan sekadar dilestarikan, tetapi bisa dihidupkan kembali melalui inovasi dan kreativitas, sehingga mampu menghasilkan nilai ekonomi yang signifikan,” ujar Riefky dalam pernyataannya. Ia berharap lebih banyak sineas dari berbagai wilayah dapat memanfaatkan potensi lokal mereka untuk menghasilkan karya yang relevan dengan masyarakat.
Foufo: Kolaborasi Kreatif yang Menjadi Tercermin
Kemenekraf aktif mengembangkan film IP yang disebut Foufo, yang dibuat oleh SKAK Studios dan SinemArt. Proyek ini melibatkan rangkaian langkah strategis, termasuk audiensi dengan produser, peluang kerja sama lintas sektor, serta peningkatan kesadaran publik terhadap film. “Tujuan utamanya adalah menunjukkan bahwa kisah lokal bisa menjadi bentuk ekspresi yang menarik sekaligus memiliki dampak ekonomi,” jelas Riefky. Ia menambahkan, film ini menjadi contoh nyata bahwa kekayaan budaya daerah bisa diubah menjadi produk ekonomi kreatif yang bernilai tambah.
“Budaya tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dapat dihilirisasi melalui kreativitas, inovasi, dan teknologi, sehingga memberikan manfaat ekonomi. Kami berharap semakin banyak sineas di berbagai daerah yang berani mengangkat kearifan lokal melalui karya-karya kreatif,”
Foufo dirancang untuk menjadi perwujudan kreativitas lokal, dengan dialog yang dominan menggunakan bahasa daerah. Proses produksi melibatkan sekitar 90 persen talenta muda dari berbagai daerah, serta 120 animator dari Hompimpa Animworks Surabaya yang bertugas mengembangkan karakter utama film ini. “Hari ini kita melihat komitmen tersebut telah terwujud menjadi sebuah karya yang siap dinikmati masyarakat. Ini membuktikan bahwa cerita dari daerah mampu menjadi tontonan yang menarik sekaligus memiliki potensi ekonomi,” tambah Riefky.
Pengembangan IP: Membangun Ekosistem Kreatif yang Berkelanjutan
Peluncuran Foufo tidak hanya berhenti di tahap produksi, tetapi juga dilanjutkan dengan pengembangan IP yang lebih luas. Kemenekraf memberikan dukungan melalui pembuatan merchandise, serta berbagai aktivitas kreatif yang bisa meningkatkan visibilitas film. “Kami ingin menunjukkan bahwa IP film bisa menjadi fondasi untuk ekonomi kreatif yang lebih inklusif,” ungkap Riefky. Ia menekankan bahwa pembangunan ekonomi kreatif tidak bisa dipisahkan dari partisipasi aktif masyarakat lokal.
Dalam konteks ini, Foufo menjadi katalisator bagi talenta baru. Mayoritas pengisi film ini berasal dari kalangan yang belum terkenal, tetapi memiliki potensi besar. “Kerja sama dengan Kemenekraf membantu kami memperluas jaringan dan mengakses sumber daya yang sebelumnya sulit diperoleh,” kata Bayu Skak, sutradara Foufo sekaligus pendiri SKAK Studios. Ia menuturkan, dukungan pemerintah tidak hanya memfasilitasi produksi, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih mendukung kreativitas daerah.
“Visi Kementerian Ekraf membangun ekonomi kreatif dari daerah sangat selaras dengan apa yang kami lakukan melalui Foufo. Kami ingin membuktikan bahwa talenta di daerah memiliki kesempatan yang sama untuk berkarya dan berkembang di industri perfilman Indonesia,”
Bayu menjelaskan bahwa film ini dirancang untuk memperkenalkan narasi lokal yang relevan dengan generasi muda. “Foufo tidak hanya menceritakan cerita, tetapi juga menjadi wadah untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya yang mungkin terabaikan,” ujarnya. Ia berharap film ini mendorong lebih banyak produser untuk memperhatikan potensi daerah dalam menghasilkan konten yang unik.
Kebudayaan sebagai Katalisator Pertumbuhan Ekonomi
Menurut Riefky, keberanian mengangkat bahasa daerah dan budaya lokal adalah langkah kritis dalam membangun ekonomi kreatif. “Kami melihat Foufo sebagai bukti bahwa kearifan lokal bisa menjadi daya tarik ekonomi kreatif,” katanya. Ia menekankan bahwa keterlibatan talenta lokal dalam setiap aspek produksi, dari penulisan skenario hingga animasi, membantu memperkuat ekosistem kreatif nasional.
Foufo diharapkan mampu menginspirasi karya-karya serupa di berbagai daerah. “Kita perlu menumbuhkan kreativitas yang berakar pada budaya lokal, karena itu akan menciptakan nilai tambah yang tidak bisa direplikasi oleh produk dari luar,” tambah Riefky. Ia juga menyoroti pentingnya teknologi dalam mempercepat distribusi dan pemasaran film yang memiliki tema lokal.
Pengembangan Ekonomi Kreatif: Tantangan dan Peluang
Meski berhasil memadukan budaya dengan teknologi, Riefky mengakui masih ada tantangan dalam membangun ekonomi kreatif daerah. “Masih banyak daerah yang belum memanfaatkan sumber daya kreatif mereka secara optimal,” katanya. Ia menambahkan, Kemenekraf akan terus berupaya meningkatkan akses fasilitas produksi, serta memberikan bimbingan teknis kepada sineas lokal.
Kemajuan Foufo juga menunjukkan bahwa kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah bisa menghasilkan karya yang berdampak luas. “Film ini menjadi bukti bahwa kekayaan budaya bisa menjadi jembatan antara seni dan ekonomi,” kata Bayu. Ia menjelaskan bahwa sejak awal, tim produksi berfokus pada pemanfaatan teknologi animasi untuk mewujudkan karakter yang unik, sekaligus memperkenalkan budaya lokal secara kreatif.
Peluncuran Serentak dan Harapan untuk Masa Depan
Foufo rencananya akan tayang secara serentak di seluruh bioskop Indonesia pada 9 Juli 2026. Ini menjadi langkah penting untuk memastikan film tersebut mencapai audiens yang lebih luas, sekaligus mengukuhkan posisi Kemenekraf sebagai penggerak ekonomi kreatif. “Dengan tayang serentak, kita berharap Foufo bisa menjadi pelopor film lokal yang tidak hanya diakui dalam negeri, tetapi juga menjangkau pasar internasional,” ujar Riefky.
Menurutnya, tayangnya Foufo menunjukkan bahwa budaya daerah mampu bersaing dalam industri perfilman. “Kami ingin menunjukkan bahwa kisah dari daerah tidak kalah menarik dibandingkan kisah dari pusat,” tambahnya. Ia juga menyoroti peran distribusi digital dalam mengembangkan film dengan tema lokal, sehingga lebih mudah diakses oleh penonton di berbagai wilayah.
Di sisi lain, Bay
