Special Plan: Humaniora kemarin, pengawasan Daycare hingga tiga hal hadapi disrupsi
Humaniora Kemarin: Pengawasan Daycare Hingga Tiga Hal Hadapi Disrupsi
Jakarta – Beberapa berita humaniora hari ini memikat perhatian masyarakat dan tetap relevan untuk dibaca, termasuk isu pengawasan terhadap lembaga daycare serta tiga faktor penting untuk menghadapi disrupsi global. Berikut ringkasan lengkapnya.
Daycare Butuh Pengawasan Berkala
Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) menekankan perlunya pemerintah daerah melakukan pemantauan rutin terhadap daycare yang beroperasi di wilayahnya. Permintaan ini ditujukan khusus kepada Pemerintah Kota Yogyakarta, terutama setelah terjadi kasus penganiayaan anak di sebuah lembaga penitipan anak.
Peran Sains dan Teknologi Hadapi Perubahan Global
Mendiktisaintek Brian Yuliarto mengungkap tiga aspek utama yang perlu diperkuat untuk menghadapi dinamika global yang semakin tidak menentu. Menurutnya, kemajuan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, kolaborasi lintas sektor, serta hubungan internasional menjadi kunci mengurangi risiko dampak negatif pada perdagangan, impor, energi, dan distribusi barang.
Kematian Balita Bukan karena MBG
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Nanik Sudaryati Deyang membantah informasi bahwa kematian balita di Cianjur, Jawa Barat, disebabkan oleh program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam pernyataannya di Jakarta, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak benar.
“Tidak benar meninggalnya bayi usia dua tahun di Cianjur karena program MBG,” ujarnya.
Langkah Pelajar Jaga Keamanan Data di Era AI
Sejumlah mahasiswa pascasarjana di Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, memberikan panduan mengenai cara melindungi informasi pribadi di masa digitalisasi. Salah satu rekomendasi mereka adalah penggunaan password yang teratur dan sering diubah.
Jamaah Haji NTB Padati Stan Penukaran Riyal
Saat ini, jamaah calon haji dari Nusa Tenggara Barat (NTB) membanjiri stan pertukaran uang di Asrama Haji Kota Mataram. Aktivitas ini terjadi sejak pagi hari, dengan banyak orang mengubah rupiah menjadi riyal Arab Saudi guna memudahkan transaksi saat tiba di tanah suci.
