Strategi Penting: Iran sebut blokade AS di Selat Hormuz sebagai balas dendam

Iran Sebut Blokade AS di Selat Hormuz Sebagai Balas Dendam

Istanbul menjadi tempat pernyataan kritis dari Esmail Baghaei, perwakilan resmi Kementerian Luar Negeri Iran, terhadap tindakan blokade militer Angkatan Laut AS di Selat Hormuz. Ia mempertanyakan dampak negatif dari langkah tersebut terhadap perdagangan internasional.

“Apakah perang bisa dimenangkan dengan membalas dendam terhadap ekonomi dunia? Mengapa tindakan ‘menghancurkan diri sendiri’ dilakukan?” tulis Baghaei di platform X, menyebutkan bahwa AS dianggap memperburuk kondisi dengan cara yang tidak rasional.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengecam keberadaan kapal-kapal Iran yang mendekati Selat Hormuz. Dalam unggahan di Truth Social, ia menyatakan bahwa Angkatan Laut Iran telah “benar-benar dihancurkan” dalam operasi militer sebelumnya.

Trump menegaskan bahwa 158 kapal Iran telah hancur dan memperingatkan kapal-kapal lain untuk menjauh dari wilayah blokade militer AS. Langkah ini diambil setelah perundingan antara Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan selama gencatan senjata.

Blokade yang diterapkan oleh Komando Pusat (CENTCOM) AS dimulai pada Senin (13/4), menargetkan jalur laut strategis tersebut. CENTCOM menyatakan bahwa kebijakan ini berlaku untuk semua kapal yang singgah di pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Teluk Oman, tanpa membeda-bedakan negara asal.

Menurut pernyataan CENTCOM, akses bebas navigasi melalui Selat Hormuz untuk pelabuhan bukan Iran tetap terjamin. Namun, tindakan blokade ini tetap dianggap sebagai upaya AS untuk memperkuat tekanan ekonomi terhadap Iran.