Mengatasi Masalah: Dubes UEA tegaskan negaranya aman dan stabil di tengah eskalasi
Dubes UEA Perkuat Pernyataan tentang Kestabilan Negara di tengah Ketegangan Regional
Jakarta, Rabu malam (8/4) – Duta Besar Uni Emirat Arab (UEA) untuk Indonesia, Abdulla Salem Aldhaheri, menyampaikan bahwa negaranya tetap dalam kondisi aman dan stabil meski menghadapi fluktuasi ketegangan di wilayah Timur Tengah. Dalam konferensi pers yang dihadiri oleh berbagai pihak, ia menegaskan bahwa keamanan dan stabilitas UEA tidak terganggu oleh situasi yang sedang berlangsung.
“Saya ingin mengklaim bahwa Uni Emirat Arab masih aman dan stabil. Sistem pertahanan kami berjalan efektif. Institusi kami beroperasi penuh, dan lebih dari 200 warga asing terus berada dalam kondisi aman serta harmonis,” ujar Aldhaheri.
Dalam kesempatan tersebut, Dubes Aldhaheri juga mengungkapkan bahwa sektor ekonomi UEA tetap tangguh, dengan daya tahan yang kuat. Ia menyoroti tingkat likuiditas perbankan yang mencapai lebih dari 146,6 persen, serta rasio kecukupan modal sekitar 17 persen, yang dianggapnya melebihi standar internasional.
“Perbankan kami memiliki aset lebih dari 5,4 triliun dirham, dengan modal dan likuiditas yang kuat,” tambahnya.
Menurut Dubes Aldhaheri, dampak dari konflik saat ini tidak hanya terbatas pada negara-negara Arab di Teluk Persia dan Yordania, tetapi juga mencapai tingkat global. Ia menjelaskan bahwa sekitar 20 persen pasokan minyak dunia dan 20 persen perdagangan gas alam (LNG) melewati Selat Hormuz, tempat sekitar 80–90 persen ekspor energi menuju Asia.
Dubes Aldhaheri menilai gangguan di wilayah tersebut secara langsung memengaruhi pasar global. Diantaranya, terjadi kenaikan harga energi, peningkatan biaya pengiriman, serta tekanan terhadap rantai pasok. Ia menambahkan bahwa Indonesia pun terkena dampak melalui kenaikan harga bahan bakar dan barang, serta gangguan distribusi logistik.
Sebagai akibatnya, UEA menegaskan bahwa isu ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga memiliki dampak luas secara internasional. Konferensi pers tersebut juga dihadiri oleh perwakilan dari Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) serta tokoh agama Indonesia, seperti Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf.
