KEK Kura Kura Bali gaet ribuan pengunjung lewat festival bunga
Antusiasme Tinggi Penuhi Bali Flower Festival 2026 di Kawasan Kura Kura
KEK Kura Kura Bali gaet ribuan – Denpasar mencatatkan pencapaian luar biasa ketika Kawasan Ekonomi Khusus Kura Kura Bali berhasil menarik perhatian hampir lima ribu orang selama penyelenggaraan Bali Flower Festival tahun 2026. Acara yang berlangsung selama dua hari ini melampaui target awal panitia yang menargetkan kehadiran antara tiga ribu hingga tiga ribu lima ratus pengunjung. Berdasarkan data resmi yang dihimpun, tercatat sebanyak 4.813 orang memadati area UID Bali Campus yang berada di dalam kawasan KEK Kura Kura Bali.
Yuliana Rara, yang menjabat sebagai Ketua Panitia BFF 2026, menyampaikan bahwa angka kehadiran ini menunjukkan antusiasme masyarakat yang jauh lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa jumlah kunjungan pada tahun ketiga penyelenggaraan festival ini mengalami peningkatan sekitar tiga puluh delapan persen dari ekspektasi para penyelenggara. Peningkatan tersebut membuktikan bahwa pecinta bunga di Pulau Dewata memiliki minat yang sangat kuat terhadap kegiatan semacam ini.
Perayaan Flora dan Kolaborasi UMKM
Festival bunga terbesar di kawasan ini menghadirkan ratusan jenis tanaman hias, termasuk beberapa varietas yang tergolong langka di pasaran. Tujuan utama dari penyelenggaraan acara ini adalah menciptakan ruang kolaborasi bagi para penggiat seni dan pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah yang bergerak di bidang rangkai bunga. Dengan mengangkat tema Grow Authentically, penyelenggara tidak hanya memamerkan keindahan bunga, tetapi juga merangkaikan berbagai agenda pendukung yang menarik.
Agenda-agenda tersebut mencakup seminar, sesi panel bisnis, hingga lokakarya yang setiap kelasnya diikuti oleh ratusan pecinta bunga. Yuliana menyoroti bahwa salah satu pembeda utama antara BFF tahun-tahun sebelumnya dengan edisi 2026 adalah pelibatan UMKM yang lebih masif. Tahun ini, panitia berhasil menjaring banyak pelaku UMKM untuk turut memeriahkan acara. Beberapa dari mereka memang memiliki usaha toko bunga, sementara banyak juga yang membawa ragam usaha lain yang relevan.
“Hal yang membedakan antara BFF sebelumnya dengan 2026 adalah pelibatan UMKM, tahun ini kami menjaring banyak UMKM untuk turut memeriahkan acara, beberapa dari mereka memang memiliki usaha toko bunga, dan banyak juga yang membawa ragam usaha lain,” ujar Yuliana.
Keunikan Lokasi dan Daya Tarik bagi Generasi Muda
Sebagai salah satu daya tarik utama, BFF 2026 menghadirkan Flower Museum di Ruang Melajah, UID Bali Campus. Area tersebut berfungsi sebagai galeri yang memamerkan mahakarya dari belasan desainer floral asal Indonesia. Menurut Yuliana, selain rangkaian festival bunga yang memantik tingginya pengunjung, pemilihan kampus di tengah kawasan yang sedang naik namanya menjadi alasan kuat. Banyak peserta merasa KEK Kura Kura Bali ini tempatnya tidak terlalu formal, dengan konsep kampus, sangat mudah bagi anak-anak Gen Z terlibat dan menyatu, spot-spot di sini juga sangat menarik bagi mereka, apalagi KEK Kura Kura Bali luasnya sangat mendukung kegiatan-kegiatan kreatif seperti ini.
“Banyak peserta merasa KEK Kura Kura Bali ini tempatnya tidak terlalu formal, dengan konsep kampus, sangat mudah bagi anak-anak Gen Z terlibat dan menyatu, spot-spot di sini juga sangat menarik bagi mereka, apalagi KEK Kura Kura Bali luasnya sangat mendukung kegiatan-kegiatan kreatif seperti ini,” kata Yuliana.
President UID Foundation, Tantowi Yahya, menambahkan bahwa kesuksesan festival bunga ini tidak hanya dilihat dari tingginya pengunjung, melainkan keberhasilan kawasan mengakomodir pelaku industri kreatif di bidang seni bunga tersebut. Ia menyatakan bahwa bagi mereka, festival ini bukan sekadar pameran bunga ini adalah tempat bertemunya kreativitas dengan peluang bisnis. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Selandia Baru itu mengatakan ruang ini menjadi tempat belajar, saling menginspirasi, dan menunjukkan karya terbaik kepada masyarakat.
“Karena itu, kami merasa sangat senang Bali Flower Festival berlangsung di UID Bali Campus, KEK Kura Kura Bali, bagi kami festival ini bukan sekadar pameran bunga ini adalah tempat bertemunya kreativitas dengan peluang bisnis,” ujarnya.
Senada dengan visi kawasan yang mendorong bisnis berkembang secara berkelanjutan, manfaatnya tidak berhenti pada keuntungan perusahaan, namun bisa menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi lokal, memberdayakan masyarakat, sekaligus menjaga lingkungan dan budaya. Salah satu pengunjung bernama Celine menyampaikan bahwa ia menemukan kenyamanan tersendiri lewat aktivitas kreatif berkaitan dengan bunga yang dihadirkan. Berawal dari melihat di media sosial, ia yang memang pecinta bunga itu langsung datang ke KEK dan memburu bunga-bunga langka yang jarang dijual di toko bunga di Bali.
“Kegiatan-kegiatan yang memberi pengalaman langsung seperti ini peminatnya sedang sangat tinggi, karena kita semua pada akhirnya butuh tempat untuk rehat sejenak, melepas penat, dan melakukan hal-hal yang menyenangkan hati,” ucapnya.
