Dinkes Sumsel catat 380 kasus baru HIV/AIDS hingga Mei 2026

Dinkes Sumsel Catat 380 Kasus Baru HIV/AIDS dalam Periode Awal 2026

Dinkes Sumsel catat 380 kasus baru – Palembang, Sumatera Selatan mengalami lonjakan jumlah penderita HIV dan AIDS yang cukup berarti sepanjang lima bulan pertama tahun ini. Dinas Kesehatan provinsi Sumatera Selatan resmi mencatatkan sebanyak 380 kasus baru selama periode Januari hingga Mei 2026. Angka ini mencerminkan pentingnya pemantauan berkelanjutan terhadap penyebaran penyakit menular tersebut di wilayah Sumatera Selatan. Dari keseluruhan kasus yang teridentifikasi, tercatat 28 orang telah meninggal dunia akibat komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit ini.

Rincian Lengkap Kasus yang Terdeteksi

Ira Primadesa Ogatiyah, selaku Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Dinkes Sumatera Selatan, memberikan penjelasan komprehensif mengenai data terbaru tersebut. Dalam keterangan pers yang disampaikan di Palembang pada hari Minggu, ia menguraikan bahwa 380 kasus baru tersebut terbagi menjadi dua kelompok utama. Sebanyak 249 orang terkonfirmasi positif HIV, sedangkan 131 orang lainnya masuk dalam kategori AIDS.

Temuan kasus baru HIV/AIDS pada Januari-Mei 2026, sebanyak 380 orang. HIV tercatat sebanyak 249 orang dan AIDS 131 orang. Dari total temuan kasus baru, yang meninggal sebanyak 28 orang.

Palembang Menjadi Wilayah dengan Kasus Tertinggi

Dari seluruh kabupaten dan kota di Sumatera Selatan, Kota Palembang menempati posisi teratas dengan jumlah kasus baru mencapai 203 orang. Pembagian di kota ini menunjukkan 133 kasus HIV dan 70 kasus AIDS. Menariknya, dari jumlah tersebut terdapat 10 orang yang dilaporkan meninggal dunia, sehingga Palembang juga menjadi wilayah dengan angka kematian tertinggi dibandingkan daerah lain.

Wilayah lain yang mencatatkan angka signifikan adalah Kota Lubuklinggau dengan 27 kasus baru. Angka ini terdiri dari 12 kasus HIV dan 15 kasus AIDS, dengan dua orang di antaranya meninggal. Kabupaten Musi Banyuasin menyusul dengan 25 kasus, terdiri atas 14 kasus HIV dan 11 kasus AIDS, serta tiga orang meninggal dunia.

Sebaran Kasus di Seluruh Wilayah Sumatera Selatan

Beberapa wilayah lainnya melaporkan angka yang relatif seimbang. Kabupaten OKU Timur mencatat 17 kasus baru. Sementara itu, tiga wilayah berbeda mencatatkan angka yang sama, yaitu 16 kasus masing-masing. Wilayah-wilayah tersebut adalah Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Kabupaten Muara Enim, dan Kota Prabumulih. Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) juga mencatat 16 kasus, sedangkan Kabupaten Banyuasin mencatatkan 14 kasus baru.

Daerah-daerah lainnya melaporkan jumlah kasus yang lebih rendah, yaitu di bawah 10 orang. Kabupaten OKU Selatan mencatatkan angka paling minim dengan hanya satu kasus AIDS yang ditemukan selama periode tersebut.

Profil Kelompok Rentan dan Data Kumulatif

Terkait dengan profil kelompok yang paling banyak terinfeksi, Ira Primadesa Ogatiyah menjelaskan bahwa kategori lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL) mendominasi angka kasus HIV/AIDS di Sumatera Selatan. Kelompok ini menjadi yang paling tinggi dibandingkan kategori lainnya, menunjukkan pola penularan yang perlu mendapat perhatian khusus dari pihak berwenang.

Kelompok dengan jumlah kasus HIV/AIDS terbanyak berasal dari lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL).

Secara kumulatif, sejak tahun 2011 hingga April 2026, total kasus HIV/AIDS di Sumatera Selatan telah mencapai 8.188 orang. Angka ini terdiri dari 4.767 kasus HIV dan 3.425 kasus AIDS. Data ini menunjukkan tren yang konsisten dalam penemuan kasus baru setiap tahunnya, serta pentingnya upaya pencegahan dan pengendalian yang berkelanjutan di seluruh wilayah Sumatera Selatan.

Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan terus melakukan berbagai program untuk meningkatkan deteksi dini dan penanganan kasus HIV/AIDS. Dengan adanya data yang akurat dan terupdate, diharapkan strategi intervensi dapat lebih tepat sasaran untuk menekan angka penularan dan kematian akibat penyakit ini di masa mendatang. Upaya ini sejalan dengan komitmen Dinkes Sumsel catat 380 kasus sebagai bagian dari monitoring rutin untuk evaluasi program kesehatan masyarakat.