Historic Moment: IAEA sebut akses ke fasilitas nuklir Iran tergantung perundingan AS

IAEA Sebut Akses ke Fasilitas Nuklir Iran Masih Bergantung pada Perundingan AS

Historic Moment – Moskow, Antaranews – Akses Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) ke fasilitas nuklir Iran tergantung pada proses perundingan antara Amerika Serikat dan Iran, demikian diungkapkan Rafael Grossi, Direktur Jenderal IAEA, dalam wawancara dengan RIA Novosti. Menurut Grossi, hingga saat ini, IAEA belum mampu memperoleh akses penuh ke berbagai lokasi penting di Iran yang terkait dengan program nuklir. Namun, ia menekankan bahwa hubungan antara IAEA dan Iran terus dipengaruhi oleh dinamika negosiasi yang berlangsung antara dua negara tersebut.

Perundingan AS-Iran Menjadi Faktor Kunci

Dalam pernyataannya, Grossi menyampaikan bahwa keterbukaan Iran terhadap inspeksi nuklir tidak bisa dipisahkan dari kemajuan dalam perundingan dengan AS. “Saya rasa, hal ini secara resmi maupun tidak resmi masih bergantung pada hasil perundingan antara kedua belah pihak,” jelasnya. Pernyataan ini mengingatkan bahwa sejak konflik militer antara AS dan Iran memanas pada 28 Februari 2025, akses IAEA ke fasilitas nuklir Iran sempat terbatasi.

“Hingga saat ini, akses itu belum dimungkinkan. Tetapi di sini, saya pikir kita perlu menyadari fakta bahwa hal ini, saya dapat katakan, terhubung atau bergantung dalam arti tertentu, bahkan secara tidak resmi, tetapi pada kenyataannya, ini yang terjadi, dipengaruhi… oleh perundingan yang tengah berlangsung antara Amerika Serikat dan Iran seputar Nota Kesepahaman,” kata Grossi.

Perjanjian yang dimaksud adalah Nota Kesepahaman yang ditandatangani oleh Iran dan AS pada 18 Juni 2026. Dokumen ini menandai akhir dari konflik militer yang terjadi sejak Februari 2025, ketika AS meluncurkan serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Dalam perjanjian tersebut, Iran memperoleh jaminan bahwa konflik tersebut akan berakhir, sementara AS diwajibkan mencabut blokade angkatan lautnya terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Selain itu, Iran juga diharuskan memulihkan pelayaran di Selat Hormuz, yang menjadi jalur vital untuk eksportasi minyak.

Histori Konflik dan Akibatnya

Sebelumnya, pada akhir Mei 2025, AS menggempur fasilitas nuklir Iran di wilayah dekat Iran, mengakibatkan kerusakan signifikan pada infrastruktur milik negara tersebut. Serangan ini menjadi titik awal dari pembatasan akses IAEA ke fasilitas nuklir Iran. Sebagai respons, Iran memutus hubungan kerja sama dengan IAEA, dengan menyatakan bahwa semua keputusan terkait interaksi dengan badan tersebut dibuat oleh Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (Supreme National Security Council) Iran.

Keterbatasan akses ini menyebabkan hambatan dalam upaya IAEA untuk memantau aktivitas nuklir Iran secara penuh. Meski demikian, nota kesepahaman yang ditandatangani pada Juni 2026 memberikan harapan baru bagi pengembalian akses tersebut. Dokumen ini tidak hanya menjamin akhir dari perang, tetapi juga mencakup komitmen untuk memulihkan kepercayaan antara kedua negara.

Peran IAEA dalam Verifikasi Nuklir

Sebagai lembaga internasional yang bertugas memastikan kepatuhan negara-negara anggotanya terhadap perjanjian nuklir, IAEA memiliki peran penting dalam mengawasi program nuklir Iran. Akses ke fasilitas nuklir, termasuk reaktor, pusat pengayaan uranium, dan depot senjata nuklir, menjadi kunci dalam memverifikasi apakah Iran benar-benar mematuhi kesepakatan. Dengan melibatkan inspeksi yang ketat, IAEA dapat menjamin bahwa program nuklir Iran tidak digunakan untuk tujuan militer.

Kendati telah menandatangani nota kesepahaman, Iran masih menuntut lebih banyak jaminan dari AS. Salah satu syarat utama dalam perjanjian adalah penghapusan semua pembatasan terhadap kegiatan nuklir Iran, termasuk pemulihan akses ke fasilitas yang telah terganggu. Dalam konteks ini, Grossi menyatakan bahwa IAEA akan terus bersinergi dengan Iran untuk mempercepat proses verifikasi, meskipun ada tantangan yang dihadapi.

Nota kesepahaman yang ditandatangani pada 18 Juni 2026 juga mencakup rencana untuk memperkuat kerja sama bilateral antara AS dan Iran. Dalam perjanjian tersebut, Iran memperoleh manfaat dari pemulihan hubungan diplomatik, sementara AS berharap dapat mengurangi risiko ancaman terhadap keamanan laut di Selat Hormuz. Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena menjadi jalur utama pengiriman minyak ke seluruh dunia, dan gangguan pada pelayaran di sana bisa memicu krisis energi global.

Kemajuan dalam perundingan AS-Iran berpotensi mempercepat proses akses IAEA ke fasilitas nuklir Iran. Namun, Grossi mengingatkan bahwa proses ini membutuhkan kesabaran dan kepercayaan yang saling tumbuh antara kedua belah pihak. “Perundingan ini menjadi jembatan untuk membangun kembali hubungan yang terputus, dan IAEA berharap dapat berkontribusi dalam mengawasi proses tersebut,” tutur direktur jenderal IAEA tersebut.

Konteks Global dan Dampak Perjanjian

Perjanjian yang ditandatangani pada Juni 2026 menggambarkan perubahan kebijakan luar negeri AS yang mulai memprioritaskan dialog dengan Iran. Setelah membatalkan sanksi ekonomi dan mengakhiri konflik militer, AS menawarkan komitmen untuk memperkuat hubungan dengan Iran. Sebaliknya, Iran berharap dapat memperoleh akses ke pasar internasional, terutama dalam hal energi dan perdagangan.

Perjanjian ini juga menunjukkan bahwa IAEA tidak hanya menjadi pengawas nuklir, tetapi juga pihak yang terlibat langsung dalam mediasi konflik antar-negara. Dengan memperoleh akses ke fasilitas nuklir Iran, IAEA dapat menghasilkan laporan objektif yang mendukung kepercayaan internasional terhadap program nuklir Iran. Hal ini berdampak pada keputusan negara-negara lain dalam memberikan dukungan atau bantuan teknis kepada Iran.

Kendati demikian, beberapa ahli menyatakan bahwa akses IAEA ke Iran masih tergantung pada kemampuan AS untuk memenuhi klausul dalam nota kesepahaman. Jika AS tidak terpenuhi, Iran dapat kembali mengambil langkah-langkah terbatas untuk mengendalikan akses tersebut. Ini menunjukkan bahwa hubungan antara AS dan Iran tidak hanya bersifat politik, tetapi juga memengaruhi operasional lembaga internasional.

Dalam wawancara terbarunya, Grossi meminta kepada pihak-pihak terkait untuk tetap konsisten dalam menjalankan perjanjian. “Kami ingin melihat pembangunan kembali kepercayaan yang telah tergores, dan ini memerlukan komitmen yang sama dari kedua belah pihak,” kata dia. Dengan keberhasilan perundingan, IAEA dapat menjalankan tugasnya secara optimal, dan dunia dapat mengantisipasi perubahan dalam kebijakan nuklir Iran.