Special Plan: Bank Mandiri Taspen fokus perbesar dana murah demi tekan biaya dana
Bank Mandiri Taspen Berupaya Tingkatkan Dana Murah untuk Kurangi Biaya Dana
Special Plan – Di tengah upaya meningkatkan efisiensi operasional, PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) memprioritaskan peningkatan dana murah, khususnya dari rekening tabungan dan giro, sebagai langkah untuk menekan biaya dana (cost of fund /CoF). Tindakan ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada sumber dana yang lebih mahal, seperti deposito, seiring adanya perubahan strategi penghimpunan dana yang lebih berfokus pada bentuk tabungan dan giro. Direktur Utama Bank Mandiri Taspen, Panji Irawan, mengatakan bahwa penggunaan dana murah dengan bunga lebih rendah dipercaya dapat mengurangi beban biaya perbankan secara signifikan.
Perubahan Strategi Pasca 11 Tahun Ketergantungan pada Deposito
Berbicara di Ubud, Bali, pada hari Sabtu, Panji menjelaskan bahwa selama hampir satu dekade, Bank Mantap lebih mengandalkan deposito sebagai sumber pendanaan utama. Hal ini dikarenakan deposito dianggap cukup efektif dalam mendukung pertumbuhan kredit pensiunan serta menghasilkan margin keuntungan yang memadai. Namun, kini perusahaan mulai mengalihkan strategi tersebut dengan menekankan peningkatan dana murah. “Kita ingin memperluas dana dari tabungan dan giro agar biaya dana bisa turun,” ujarnya.
“Kalau kita bisa mengembangkan tabungan dan giro dengan bunga lebih rendah, biaya dana akan lebih murah dibandingkan jika tetap mengandalkan deposito,” tutur Panji.
Dalam beberapa bulan terakhir, Bank Mantap berupaya memperkuat penarikan dana dari nasabah melalui berbagai inisiatif digital. Layanan seperti aplikasi Movin, transaksi QRIS, serta Mantap Cash Management (MCM) dianggap menjadi alat strategis untuk menarik lebih banyak dana murah. Dengan adopsi teknologi ini, perseroan berharap dapat meningkatkan daya saing di pasar keuangan sekaligus memperluas basis nasabah yang tidak hanya terbatas pada segmen pensiunan.
Dana Murah Melonjak, CASA Mencapai 26,32 Persen
Berdasarkan laporan keuangan hingga akhir Mei 2026, dana murah yang terdiri dari rekening giro dan tabungan telah tumbuh 52,97 persen secara tahunan (year on year/yoy) menjadi sebesar Rp15,67 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya. Meski demikian, rasio dana murah (CASA) perseroan saat ini sekitar 26,32 persen, jauh di bawah target 30 persen yang ingin dicapai. “Kita masih perlu kerja keras agar CASA bisa naik ke level 30-40 persen,” kata Head of Strategic & Performance Management Department, Agus Syaiful Anwar.
“CASA kita selama ini berada di angka 20-23 persen, dan kami ingin meningkatkan ke 30-40 persen agar biaya dana bisa ditekan lebih maksimal,” tambah Agus.
Peningkatan dana murah ini dianggap sebagai hasil dari upaya perusahaan dalam mengoptimalkan layanan digital. Menurut Panji, strategi tersebut telah mendorong penurunan biaya dana hingga 4,02 persen, mendekati level terendah dalam sejarah Bank Mantap. Namun, kenaikan suku bunga pasar sejak Juni 2026 menyebabkan biaya dana kembali naik, meski masih berada di bawah 4 persen. “Cost of fund sempat turun hampir ke 4,02 persen, tapi sejak Juni suku bunga naik, kembali ke level di atas 4 persen,” jelasnya.
Strategi Perluasan Basis Nasabah
Agus menjelaskan bahwa untuk mencapai target peningkatan CASA, Bank Mantap mengambil langkah-langkah konkret. Salah satu cara adalah menawarkan produk giro dengan bunga kompetitif agar menarik lebih banyak nasabah. Selain itu, perusahaan juga sedang menggarap ekosistem perusahaan dan instansi melalui pendekatan value chain, serta mengembangkan fitur aplikasi Movin untuk menjangkau segmen nasabah yang lebih luas.
“Karena income nasabah pensiunan relatif stabil, kami perlu ekspansi ke luar segmen tersebut agar CASA bisa tumbuh secara signifikan,” tutur Agus.
Dalam upaya memperkaya layanan digital, Bank Mandiri Taspen juga menjajaki kerja sama dengan Pegadaian untuk menyediakan layanan emas dan platform crowdfunding. “Kerja sama dengan Pegadaian dan penyedia platform crowdfunding bisa menjadi solusi untuk menarik dana dari kalangan yang lebih beragam,” kata Agus. Ia menegaskan bahwa penghimpunan dana dari segmen pensiunan memang memiliki batasan, karena penghasilan mereka cenderung terbatas. Oleh karena itu, diversifikasi sumber dana menjadi kebutuhan mendesak.
Kondisi Likuiditas dan Margin Operasional
Meski persaingan dalam menghimpun dana semakin ketat, Agus menyatakan bahwa likuiditas Bank Mantap tetap terjaga. Hal ini terlihat dari rasio loan to funding ratio (LFR) yang dipertahankan di kisaran 85-90 persen, lebih rendah dibandingkan 95-96 persen pada tahun lalu. “Dengan LFR yang terkendali, kita bisa menjaga kestabilan likuiditas sambil menekan biaya dana,” imbuhnya.
Dari sisi pertumbuhan, kredit yang dikeluarkan Bank Mantap meningkat 10,21 persen (yoy) menjadi Rp52,52 triliun per akhir Mei 2026. Sementara itu, total dana pihak ketiga (DPK) naik 15,65 persen (yoy) menjadi Rp59,53 triliun. Angka ini menunjukkan bahwa meski fokus utama masih pada dana murah, kinerja perusahaan tetap stabil.
Pengembangan Ekosistem dan Persiapan untuk Masa Depan
Agus mengakui bahwa selama 11 tahun terakhir, Bank Mandiri Taspen lebih menekankan penghimpunan dana dari deposito. Namun, kini perusahaan mengubah pola ini dengan menyoroti pentingnya dana dari tabungan dan giro. “Kita ingin mengembangkan ekosistem perusahaan dan instansi agar bisa menjangkau lebih banyak nasabah,” katanya. Ia menambahkan bahwa perusahaan sedang memperluas jaringan layanan, termasuk memperkuat fitur aplikasi Movin untuk meningkatkan penggunaan digital.
“Karena mengandalkan pensiunan saja tidak cukup, kita perlu menarik dana dari kalangan yang lebih luas. Dengan ekosistem yang lebih besar, CASA bisa tumbuh lebih cepat,” u
