Main Agenda: Iran menegaskan tidak ada negosiasi dengan AS dalam waktu dekat
Iran menegaskan tidak ada negosiasi dengan AS dalam waktu dekat
Main Agenda – Dalam wawancara dengan para jurnalis, Esmaeil Baqaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran dan perwakilan tim perunding, mengatakan bahwa pemerintah Iran tidak merencanakan pembicaraan dengan Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan. Pernyataan tersebut dikeluarkan pada Senin (29/6) dari Istanbul, menegaskan fokus utama negara tersebut adalah menjaga kepatuhan terhadap perjanjian mengenai penghentian perang.
“Iran saat ini berkomitmen untuk memastikan penerapan ketentuan-ketentuan dalam nota kesepahaman, serta mengejar tuntutan-tuntutannya secara serius,” ujar Baqaei. Ia menambahkan bahwa pihaknya terus memantau pelaksanaan Pasal 10, yang mengatur penjualan minyak, serta proses pencairan aset yang dibekukan dalam Pasal 11.
Negara-negara lain di kawasan juga menyambut baik langkah Iran, yang menegaskan prioritasnya untuk memperkuat kepatuhan terhadap perjanjian internasional. Dalam wawancara, Baqaei menjelaskan bahwa meskipun ada kemungkinan pertemuan teknis di Qatar, tidak ada rencana untuk memulai negosiasi komprehensif dalam waktu dekat.
Pelaksanaan Perjanjian dan Rencana Delegasi
Nota kesepahaman yang ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump pada 18 Juni lalu, mencakup 14 poin penting. Pasal 1 dalam perjanjian tersebut mengatur gencatan senjata, sedangkan Pasal 4 dan 5 menangani operasi militer di wilayah Lebanon serta pengaturan keamanan di Selat Hormuz. Pasal 10 dan 11, di sisi lain, berfokus pada ekspor minyak Iran dan akses ke aset yang dibekukan.
“Pemerintah Iran belum memasuki tahap diskusi mengenai kesepakatan final,” kata Baqaei. Ia menegaskan bahwa pembicaraan komprehensif hanya bisa dilakukan setelah Pasal 1, 4, 5, 10, dan 11 diterapkan secara lengkap, dengan pelaksanaan terus berjalan.
Delegasi ahli Iran dijadwalkan berangkat ke Doha pada akhir pekan ini untuk memastikan keberlanjutan pelaksanaan perjanjian. Baqaei mengatakan bahwa keberadaan pihak AS di Qatar tidak akan terkait langsung dengan misi teknis Iran. “Tidak akan ada pertemuan negosiasi dengan Amerika Serikat pada tingkat apa pun dalam beberapa hari mendatang,” lanjutnya.
Latar Belakang Perjanjian dan Tegangan di Kawasan
Perjanjian ini ditandatangani setelah berlangsungnya ketegangan yang berkepanjangan antara Iran dan AS, yang dipicu oleh serangan terhadap Iran oleh pasukan AS dan Israel. Meskipun terdapat perbedaan pendapat, nota kesepahaman dianggap sebagai langkah penting untuk menciptakan stabilitas di kawasan tersebut.
“Amerika Serikat telah menerbitkan lisensi yang diperlukan untuk penjualan minyak berdasarkan Pasal 10, dan Iran terus memantau pelaksanaannya,” jelas Baqaei. Ia menekankan bahwa penerapan Pasal 11, yang menyangkut pencairan aset Iran, juga sedang berlangsung.
Menurut laporan kantor berita IRNA, pemerintah Iran berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan implementasi perjanjian. Pihaknya yakin bahwa langkah-langkah yang diambil selama beberapa minggu terakhir akan menjadi fondasi untuk hubungan bilateral yang lebih baik di masa depan. Dengan menjaga kepatuhan terhadap ketentuan-ketentuan yang disepakati, Iran berharap bisa menyelesaikan masalah-masalah utama yang dihadapi.
Pembagian Kewenangan dalam Perjanjian
Dalam dokumen perjanjian, Pasal 13 menjelaskan bahwa diskusi mengenai perjanjian komprehensif harus dimulai setelah seluruh pasal yang relevan telah dilaksanakan. Ini berarti Iran tidak akan memulai negosiasi baru sebelum memastikan keberhasilan implementasi Pasal 1, 4, 5, 10, dan 11. Kepuasan pihak Iran terhadap pelaksanaan ini menjadi kunci untuk melanjutkan proses perundingan.
Pasal 1, yang terkait dengan gencatan senjata, menjadi fokus utama dalam mencegah eskalasi konflik. Pasal 4 membahas penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon, sementara Pasal 5 mengatur pelayaran sementara dan koordinasi keamanan di Selat Hormuz. Pasal 10 dan 11, yang berdampak besar pada ekonomi Iran, menjadi bagian krusial dalam memulihkan akses ke pasar internasional.
Dengan memperkuat kepatuhan terhadap pasal-pasal tersebut, Iran berharap bisa mencapai kesepakatan yang lebih luas. Meskipun ada kemungkinan pertemuan antara pejabat AS dan Iran di Doha, hal itu tidak akan menjadi awal dari negosiasi komprehensif. Baqaei mengatakan bahwa delegasi Iran hanya akan fokus pada tugas teknis mereka selama kunjungan tersebut.
Kebijakan Iran dalam memastikan pelaksanaan perjanjian menunjukkan komitmen yang kuat terhadap stabilitas kawasan. Dengan menegaskan bahwa tidak ada negosiasi dalam waktu dekat, negara ini memberi waktu bagi pihak AS untuk memenuhi kewajibannya terlebih dahulu. Pelaksanaan yang bertahap diharapkan bisa menciptakan dasar yang lebih kuat untuk dialog di masa mendatang.
