Special Plan: Anggota DPR: Evaluasi latsarmil KDMP-KNMP pascadua orang meninggal
Anggota DPR: Evaluasi Latsarmil KDMP-KNMP Usai Dua Orang Meninggal
Special Plan – Jakarta – Seorang anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia, TB Hasanuddin, mengusulkan pemerintah melakukan evaluasi terhadap latihan dasar kemiliteran (latsarmil) yang diikuti peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP). Permintaan ini muncul setelah dua peserta mengalami kejadian fatal selama mengikuti pelatihan tersebut.
Dalam wawancara di Gedung DPR, Rabu, Hasanuddin menekankan pentingnya pemeriksaan kesehatan terhadap calon peserta sebelum mereka menghadapi latihan fisik yang intens. Ia menjelaskan bahwa langkah ini bertujuan memastikan peserta dalam kondisi optimal dan siap menghadapi aktivitas yang berat, terutama di lingkungan dengan suhu tinggi.
“Sumber kematian mereka adalah karena sakit dan serangan panas. Menurut hemat saya, harus dievaluasi, terutama mereka yang ingin mengikuti pelatihan seperti ini harus dicek kesehatannya secara mendalam agar mampu menjalani kegiatan fisik dalam kondisi cuaca ekstrem,” kata Hasanuddin.
Legislator bidang pertahanan ini menilai latsarmil merupakan bagian penting dari program SPPI yang bertujuan melatih calon pengelola KDMP dan KNMP. Namun, ia menyoroti perlunya perbaikan pada materi pelatihan agar lebih sesuai dengan kebutuhan peserta. “Mungkin materinya saja. Jika dihentikan, saya rasa tujuannya baik, melatih mereka menjadi manajer koperasi desa. Tapi seharusnya lebih menekankan pelatihan manajemen koperasi daripada latihan kemiliteran yang terlalu berat, seperti menembak atau baris-berbaris di bawah panas,” terangnya.
Kementerian Pertahanan Konfirmasi Dua Kematian Selama Latsarmil
Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengakui bahwa dua peserta program SPPI KDMP-KNMP, Anisa Muyassaroh dan Yonanda Muhammad Taufiq, meninggal dunia saat menjalani latsarmil. Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait, Selasa (23/6), menjelaskan bahwa kejadian tersebut terjadi di dua lokasi berbeda.
Menurut Rico, Anisa meninggal dunia saat mengikuti pendidikan di Satuan Diklat Dodikjur Rindam VI/Mulawarman Balikpapan. Kematian terjadi karena serangan panas yang mengakibatkan gangguan kejang. Sementara itu, Yonanda mengalami kejadian serius ketika mengikuti pendidikan di Satuan Diklat Puslatpur Kodiklatad Baturaja. Sebelumnya, ia mengalami penurunan kondisi fisik pada Senin (15/6) dan sempat dirujuk ke rumah sakit.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, Yonanda dinyatakan meninggal akibat henti jantung. Meski demikian, semua peserta telah menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum dinyatakan layak mengikuti pelatihan,” ujar Rico.
Kemhan menyatakan akan terus melakukan evaluasi terhadap program latsarmil agar peserta dapat mengikuti materi dengan aman. Meski sudah ada prosedur kesehatan yang dijalani, pihaknya ingin mengecek ulang metode pelatihan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.
Persiapan dan Tanggung Jawab Lembaga Pendidikan
Program SPPI KDMP-KNMP dirancang untuk membangun kompetensi kepemimpinan di kalangan masyarakat desa dan nelayan. Namun, kematian dua peserta menimbulkan pertanyaan tentang kesiapan lembaga pendidikan dalam memastikan keselamatan peserta. Hasanuddin menyoroti bahwa latsarmil yang terlalu keras bisa berdampak negatif, terutama bagi individu yang kurang siap secara fisik.
Menurutnya, pemerintah perlu mempertimbangkan penyesuaian durasi dan intensitas latihan. “Kemiliteran dalam konteks SPPI tidak harus identik dengan latihan seperti militer. Lebih baik fokus pada pengembangan keterampilan manajemen koperasi, seperti pengelolaan keuangan atau strategi pemasaran, karena itu lebih relevan dengan tujuan program,” lanjut Hasanuddin.
Kemhan menyatakan bahwa seluruh peserta telah melewati pemeriksaan kesehatan sebelum dinyatakan layak mengikuti latsarmil. Namun, kejadian ini mendorong mereka untuk meninjau kembali standar evaluasi tersebut. Rico Ricardo Sirait menegaskan bahwa pihaknya berkomitmen untuk memperbaiki prosedur dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Perhatian Penuh untuk Keluarga Korban
Di sisi lain, Kemhan memastikan memberikan perhatian penuh kepada keluarga Anisa dan Yonanda. Dalam pernyataannya, Rico menyebutkan bahwa Kementerian Pertahanan bersama TNI telah melakukan pendampingan terhadap keluarga kedua peserta. “Semua proses penanganan telah dilakukan sesuai prosedur yang berlaku, termasuk pemrosesan administrasi dan dukungan emosional bagi keluarga korban,” jelas Rico.
Hasanuddin juga mengapresiasi upaya Kemhan dalam memberikan respons cepat terhadap insiden tersebut. Ia menilai kejadian dua peserta meninggal dunia menjadi momentum untuk mengevaluasi seluruh aspek pelatihan, termasuk lingkungan fisik dan kondisi mental peserta. “Kita perlu memastikan bahwa latihan ini tidak hanya membangun kemampuan tetapi juga melindungi kesehatan peserta,” tambahnya.
Langkah Selanjutnya dan Harapan Masa Depan
Kemhan menargetkan evaluasi akan dilakukan dalam waktu dekat, melibatkan tim khusus yang meninjau seluruh aspek program SPPI. Pemimpin program menegaskan bahwa kejadian ini tidak mengurangi pentingnya latsarmil sebagai bagian dari pembentukan SDM yang berkualitas. “Kami ingin memastikan bahwa kegiatan ini tetap bermanfaat, tetapi lebih aman bagi peserta,” kata Rico.
Hasanuddin berharap hasil evaluasi bisa menjadi referensi untuk penyempurnaan program di masa depan. Ia menekankan bahwa kesehatan peserta adalah prioritas utama, terutama dalam lingkungan yang berisiko tinggi seperti kondisi panas yang ekstrem. “Materi latihan kemiliteran bisa disesuaikan agar tidak terlalu berat, sehingga peserta tetap bisa memperoleh kemampuan yang diperlukan tanpa membahayakan kesehatan mereka,” katanya.
Di samping itu, pihaknya juga ingin meninjau kembali jadwal dan durasi pelatihan. Hasanuddin mengusulkan adanya jeda untuk pemeriksaan kesehatan lebih lanjut atau simulasi aktivitas fisik sebelum pelatihan dimulai. “Dengan cara ini, peserta dapat mengetahui apakah mereka mampu mengikuti pelatihan, termasuk faktor cuaca yang mungkin memengaruhi performa mereka,” papar legislator tersebut.
Evaluasi ini diharapkan tidak hanya fokus pada penyebab langsung kejadian, tetapi juga mencakup aspek pembinaan kesehatan dan keselamatan selama pelatihan. Hasanuddin menambahkan bahwa kejadian ini bisa menjadi pelajaran penting untuk memperkuat sistem pengawasan di lembaga pendidikan militer. “Selain itu, kita juga perlu melibatkan para ahli kesehatan dalam merancang program ini agar lebih menyeluruh,” tutupnya.
