Main Agenda: Komisi VII: Pengguna internet bisa perluas pasar film Indonesia

Komisi VII: Pengguna internet bisa perluas pasar film Indonesia

Main Agenda – Dalam upaya meningkatkan ekosistem perfilman nasional, Komisi VII DPR RI menggarisbawahi peran penting pengguna internet dalam membuka peluang pasar film Indonesia. Wakil Ketua Komisi VII dari Fraksi Golkar, Lamhot Sinaga, menyoroti pertumbuhan jumlah pengguna internet yang mencapai 235 juta jiwa, atau sekitar 81 persen dari populasi total Indonesia. Angka tersebut, menurut Lamhot, menjadi salah satu faktor penentu dalam mendorong ekspansi distribusi film melalui platform digital. Ia menekankan bahwa sejumlah besar masyarakat yang memiliki akses internet bisa menjadi basis penonton potensial, sehingga memungkinkan film-film Indonesia mencapai audiens yang lebih luas.

Kreativitas sebagai Motor Ekonomi

Lamhot juga menyoroti bahwa dalam era globalisasi, sektor kreatif, termasuk perfilman, semakin menjadi penggerak utama perekonomian negara. Di banyak negara, film tidak hanya menjadi hiburan tetapi juga alat promosi budaya dan ekonomi. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi besar untuk memanfaatkan ini, terutama dengan jumlah penduduk yang mencapai 280 juta jiwa. “Kita perlu memastikan bahwa kreativitas dari sineas lokal tidak hanya dihargai secara lokal tetapi juga mencapai pasar internasional,” jelas Lamhot dalam Rapat Dengar Pendapat Umum Panja Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin.

“Hampir tadi dikatakan 235 juta pengguna internet, berarti kan yang berpotensi sebagai penonton film,”

Dalam wawancara tersebut, Lamhot memaparkan bahwa penyebaran layar lebar masih tidak merata. Hanya sekitar 70 persen dari total layar bioskop yang berada di Pulau Jawa, khususnya kota-kota besar, sementara 30 persen lainnya terdapat di luar wilayah tersebut. “Kesamaan akses antara penonton di Kalimantan, Papua, Sumatera, dan daerah lain masih terbatas dibandingkan dengan penduduk di Jawa,” katanya. Monopoli tiga bioskop besar, khususnya XXI, di pulau Jawa menciptakan ketimpangan dalam distribusi film, karena banyak karya dari sineas daerah kesulitan mendapatkan tempat tayang yang memadai.

Kebutuhan pemerataan akses ke seluruh pelosok negeri menuntut investasi infrastruktur yang signifikan. Lamhot menjelaskan bahwa keberadaan platform digital bisa menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan ini. “Dengan berbagai keadaan dan keterbatasan fisik, distribusi film secara daring membuka jalan bagi ekosistem yang lebih sehat,” tambahnya. Ia mengapresiasi peran PT Rangkai Kreativitas Indonesia sebagai penggerak distribusi film nasional melalui media daring, karena karya-karya yang tidak bisa tayang di bioskop komersial kini memiliki peluang lebih besar untuk dilihat oleh penonton.

Kondisi Saat Ini dan Peluang Masa Depan

Menurut Lamhot, penggunaan media digital tidak hanya mengurangi ketergantungan pada layar lebar fisik tetapi juga membuka ruang bagi film-film dokumenter panjang, karya sineas daerah, atau film indie yang sebelumnya kesulitan ditemukan pasar. “Distribusi yang terpusat di Jawa membuat kreativitas dari wilayah lain terabaikan, padahal mereka mampu menghasilkan film berkualitas tinggi,” ujarnya. Selain itu, ia menyoroti bahwa tantangan utama dalam distribusi film nasional adalah ketidakseimbangan akses antar daerah, baik dari segi geografis maupun infrastruktur teknologi.

“Tidak ada kesamaan akses antara orang di Kalimantan, di Papua, di Sumatera terhadap sebuah film dibandingkan di pulau Jawa. Karena di pulau Jawa ini 70 persen layar lebar yang dimonopoli oleh 3 bioskop besar, terutama XXI,”

Pertumbuhan jumlah pengguna internet juga didukung oleh adopsi teknologi digital yang semakin cepat di masyarakat. Dengan 81 persen populasi Indonesia terhubung ke internet, penggunaan platform daring menawarkan peluang ekspansi pasar yang lebih inklusif. “Kita perlu memanfaatkan ini untuk mengembangkan industri film lokal, agar tidak hanya berkonsentrasi pada kota-kota besar,” tambah Lamhot. Ia menegaskan bahwa kreativitas sineas daerah tidak hanya berkualitas tapi juga memiliki daya tarik yang bisa dikenalkan secara nasional dan internasional.

Adopsi platform digital juga dianggap sebagai langkah strategis dalam mengatasi keterbatasan geografis. Di daerah-daerah yang kurang memiliki bioskop, pengguna internet bisa menjadi jembatan untuk mengakses film secara langsung. “Ini akan mengurangi kesenjangan ekonomi yang terjadi karena ketimpangan distribusi,” kata Lamhot. Ia menambahkan bahwa sinema digital bisa menjadi perantara yang lebih efektif dalam menjangkau penonton, terutama di wilayah yang sulit dijangkau oleh layanan tradisional.

Keseimbangan Ekosistem Profilman

Salah satu keuntungan utama dari distribusi digital adalah kemampuannya untuk menciptakan ekosistem perfilman yang lebih seimbang. Lamhot menjelaskan bahwa ketika penonton bisa mengakses film secara daring, maka monopoli eksibitor yang juga terkait dengan rumah produksi tertentu bisa diminimalkan. “Kita perlu memastikan bahwa sineas tidak hanya tergantung pada distributor besar, tetapi juga bisa berinovasi dengan cara yang lebih fleksibel,” katanya.

Pada sisi lain, Lamhot menyoroti bahwa pengembangan platform daring tidak cukup hanya bergantung pada sektor swasta. Pemerintah dan institusi terkait perlu mendukung agar infrastruktur digital berkembang secara merata. “Pemerataan akses internet dan koneksi jaringan tetap menjadi kunci utama, karena tanpa itu platform tidak bisa berjalan optimal,” jelasnya. Ia menegaskan bahwa investasi di sektor teknologi dan digital adalah jalan untuk menjaga keberlanjutan industri perfilman Indonesia.

“Dengan adanya platform penayangan film secara daring dapat menjadi solusi alternatif untuk mencapai ekosistem perfilman yang lebih sehat dan tidak ada monopoli oleh eksibitor yang juga berafiliasi dengan rumah produksi tertentu,”

Sebagai contoh, Lamhot menyebut bahwa banyak sineas daerah telah mampu menghasilkan puluhan film dalam kurun waktu tertentu. Namun, karya-karya tersebut kesulitan ditemukan oleh penonton, karena terbatasnya akses ke bioskop. Dengan platform daring, film-film ini bisa ditampilkan ke berbagai lapisan masyarakat, termasuk di daerah terpencil. “Ini bukan hanya tentang jangkauan geografis, tetapi juga tentang kesetaraan peluang bagi semua kalangan,” uj