Key Issue: Luasan karhutla di Sumsel capai 305,4 hektare hingga Mei 2026
Kebakaran Hutan dan Lahan di Sumatera Selatan (Sumsel) Naik Signifikan pada 2026
Key Issue – Palembang menjadi pusat pengumuman terkini tentang luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di Sumatera Selatan (Sumsel) hingga bulan Mei 2026. Dalam laporan terbaru yang diterbitkan oleh Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera, area yang terbakar mencapai 305,4 hektare selama periode Januari hingga Mei tahun ini. Angka ini menunjukkan tren kenaikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, meski masih lebih rendah dari kejadian karhutla pada masa-masa kritis kemarau.
Wilayah Terdampak Karhutla Menyebar di 12 Kabupaten
Menurut data analisis citra satelit, kebakaran hutan dan lahan menyebar ke 12 kabupaten serta kota di Sumsel. Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera, Ferdian Kristanto, mengatakan bahwa total luasan karhutla mencapai 305,4 hektare. “Area kebakaran hutan dan lahan di Sumsel dari Januari hingga Mei 2026 berdasarkan data citra satelit mencapai 305,4 hektare,” ujarnya.
Beberapa kabupaten menjadi lokasi dengan luasan terbesar. Muara Enim, Ogan Komering Ulu (OKU), dan Musi Rawas Utara (Muratara) tercatat sebagai wilayah dengan tingkat kerusakan tertinggi. Di Muara Enim, luasan yang terbakar mencapai 55,2 hektare, sedangkan OKU dan Muratara masing-masing berkontribusi 54,5 hektare dan 53,2 hektare. Pemantauan menunjukkan bahwa jumlah ini membentuk sebagian besar dari total area yang terdampak.
Kebakaran juga terjadi di beberapa daerah lain. Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) mengalami karhutla seluas 36,4 hektare, sementara Ogan Ilir dan OKU Selatan masing-masing mencatat 27,5 hektare. OKI, Banyuasin, Lahat, serta PALI juga terkena dampak, dengan luasan masing-masing sekitar 23,1, 9,4, 6,0, dan 5,9 hektare. Kota Prabumulih tercatat dengan 4,8 hektare, dan OKU Timur hanya 1,9 hektare. Total ini menunjukkan bahwa sebagian besar kejadian karhutla masih terkonsentrasi di wilayah tertentu.
Kebakaran Terbesar Terjadi di Lahan Mineral
Dari seluruh luasan yang tercatat, hampir seluruhnya berada di lahan mineral. Ferdian menyebutkan bahwa hanya 1,1 hektare yang berada di lahan gambut, dengan lokasi khusus di Kabupaten Muara Enim. “Di Muara Enim saja, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di lahan gambut mencapai 1,1 hektare,” terangnya. Sementara itu, 304,3 hektare lainnya terjadi di lahan mineral, yang mencerminkan dominasi tipe lahan ini dalam kontribusi karhutla.
Perluasan kebakaran di lahan mineral disebabkan oleh berbagai faktor seperti aktivitas manusia dan kekeringan yang berlangsung sepanjang musim kemarau. Ferdian menekankan bahwa lahan gambut meskipun memiliki risiko tinggi, tetapi kontribusinya masih relatif kecil dibandingkan lahan mineral. Hal ini mungkin disebabkan oleh faktor-faktor geografis, seperti ketersediaan air atau struktur tanah yang berbeda.
Daerah yang Masih Aman dari Karhutla
Berdasarkan Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi), terdapat lima daerah di Sumsel yang belum tercatat mengalami kebakaran hutan dan lahan selama Januari hingga Mei 2026. Daerah-daerah tersebut meliputi Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musi Rawas, Kota Palembang, Kabupaten Empat Lawang, dan Kota Pagar Alam. Meski tidak terjadi kebakaran, keempat wilayah ini tetap menjadi fokus perhatian untuk pencegahan di masa depan.
Kehadiran daerah yang aman dari karhutla menjadi indikator penting bagi upaya pengendalian kebakaran. Ferdian mengatakan bahwa beberapa faktor seperti kebijakan pemerintah daerah, pengawasan masyarakat, serta peningkatan kesadaran lingkungan mungkin berkontribusi pada tingkat kejadian yang lebih rendah di wilayah tersebut. Namun, pihaknya tetap memantau dengan ketat karena kemarau puncak masih mengancam.
Kenaikan Area Karhutla pada 2026 dibandingkan Tahun Sebelumnya
Menurut Ferdian, kejadian karhutla tahun ini mengalami kenaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Januari-Mei 2025, luasan yang terbakar hanya sekitar 43,1 hektare, sedangkan pada tahun 2024 mencapai 184,1 hektare. Meski demikian, angka 305,4 hektare pada 2026 masih tergolong rendah jika dibandingkan tahun-tahun dengan kejadian karhutla yang parah, seperti 2023 yang mencapai 1.046,2 hektare, 2022 dengan 1.977,7 hektare, dan 2020 sebesar 626,7 hektare.
Naiknya area karhutla pada 2026 dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan aktivitas manusia. Ferdian menjelaskan bahwa musim kemarau yang lebih awal atau lebih panjang dapat meningkatkan risiko kebakaran. Selain itu, kondisi lahan yang kering dan mudah terbakar juga berperan dalam meningkatkan luasan kebakaran. Dengan adanya data ini, pihaknya berupaya memperkuat langkah pencegahan untuk menghadapi musim kemarau yang berpotensi lebih ekstrem.
Koordinasi Pihak Terkait untuk Pengendalian Karhutla
Pihak Balai Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Wilayah Sumatera terus berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, Manggala Agni, TNI, dan Polri. Ferdian menjelaskan bahwa upaya ini bertujuan memperkuat tindakan pencegahan sebelum musim kemarau puncak 2026. “Koordinasi dengan pihak-pihak terkait menjadi kunci untuk mengurangi dampak karhutla,” kata dia.
Koordinasi dilakukan melalui berbagai program dan kegiatan, seperti pelatihan pengelolaan lahan, sosialisasi kesadaran lingkungan, serta penguatan sistem pemantauan. Ferdian menegaskan bahwa pihaknya akan terus memperbarui data dan memverifikasi kejadian di lapangan untuk menghasilkan laporan yang akurat. “Data saat ini masih bersifat sementara, dan akan diperbarui sesuai hasil pemantauan terbaru,” imbuhnya.
Dengan luasan karhutla yang terus meningkat, pentingnya kerja sama antar instansi dan masyarakat semakin
