Key Strategy: ‎Sejumlah bangunan di Kampus Untad rusak akibat gempa di Palu

Kerusakan di Kampus Untad Akibat Gempa Palu, Tidak Ada Korban Jiwa

Key Strategy – Palu – Sebuah gempa berkekuatan 6,7 skala Richter mengguncang wilayah Palu, Sulawesi Tengah, pada Selasa siang. Guncangan ini menyebabkan sejumlah bangunan di Kampus Universitas Tadulako (Untad) mengalami kerusakan. Rektor Untad, Prof Amar, mengatakan bahwa hasil pemeriksaan awal menunjukkan beberapa gedung kampus mengalami kerusakan, meskipun tidak ada laporan korban jiwa atau cedera.

Gempa Terjadi di Wilayah Tenggara Kota Palu

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa gempa terjadi pada pukul 11.27 Waktu Indonesia Tengah (WITA). Episenter gempa berada di koordinat 1,03 derajat lintang selatan (LS) dan 120,24 derajat bujur timur (BT), atau sekitar 42 kilometer ke arah tenggara Kota Palu. Kedalaman gempa mencapai 10 kilometer, sehingga dampaknya terasa cukup kuat di area kampus.

“Kami menyampaikan perkembangan hasil asesmen dan kebijakan terkait pelaksanaan kegiatan akademik melalui kanal resmi Universitas Tadulako,” ujar Prof Amar.

Pasca-gempa tahun 2018 yang melibatkan bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi, kampus Untad telah menjalani proses rehabilitasi dan rekonstruksi. Namun, kembali terjadi guncangan akibat gempa yang lebih baru, menyebabkan sebagian bangunan kembali mengalami kerusakan. Meski dibangun ulang, beberapa bagian gedung belum sepenuhnya stabil.

Kerusakan di Berbagai Bangunan Kampus

Dilaporkan bahwa beberapa gedung mengalami retakan pada dinding, material pelapis terlepas, serta kerusakan pada plafon. Fasilitas pembelajaran juga terkena dampak, dengan beberapa elemen tidak berfungsi seperti yang dijelaskan oleh Prof Amar. Selain itu, kaca pada beberapa bangunan pecah karena guncangan yang cukup kuat.

“Gedung Rektorat Untad yang telah direkonstruksi mengalami retakan dan material dinding terkelupas di beberapa bagian, termasuk kerusakan plafon. Keretakan juga ditemukan pada Gedung Media Center (GMC),” tambahnya.

Beberapa bangunan kampus utama seperti Auditorium dan Rumah Sakit (RS) Untad juga mengalami kerusakan. Di Auditorium, sebagian plafon runtuh, sementara videotron mengalami gangguan. Di Rumah Sakit Untad, retakan muncul di bagian non-struktural bangunan. Fakultas Teknik melaporkan adanya laporan plafon yang roboh, dan Gelanggang Mahasiswa juga mengalami retakan di beberapa area, yang masih dalam pemeriksaan lebih lanjut.

Asesmen Teknis untuk Memastikan Keamanan Bangunan

Prof Amar menegaskan bahwa tim teknis dan Badan Barang Milik Negara (BMN) sedang melakukan identifikasi sementara terhadap kerusakan. Hasil evaluasi ini akan menjadi dasar untuk menentukan langkah tindak lanjut, termasuk peningkatan ketahanan bangunan terhadap risiko kebencanaan.

“Asesmen teknis segera dilakukan menyeluruh, guna memastikan tingkat keamanan seluruh bangunan kampus,” ujarnya.

Rektor menyampaikan bahwa evaluasi tersebut juga bertujuan untuk menilai kembali efektivitas program rehabilitasi dan rekonstruksi yang telah dijalani selama beberapa tahun. Dengan mengevaluasi kerusakan saat ini, pihak universitas berharap bisa memperbaiki standar keselamatan bangunan pendidikan tinggi di masa depan.

Pengaruh Gempa 2018 terhadap Infrastruktur Kampus

Pasca-gempa 2018, kampus Untad mengalami kerusakan signifikan yang memaksa pihak universitas mengambil langkah-langkah pemulihan. Banyak gedung yang hancur sempurna harus diperbaiki dan dibangun ulang dari nol. Namun, meskipun telah direkonstruksi, kembali terjadi gempa di Palu mengingatkan bahwa tugas pemulihan infrastruktur masih belum selesai sepenuhnya.

Pada saat itu, bencana yang melibatkan gempa dan tsunami menghancurkan banyak bangunan, termasuk beberapa fasilitas pendidikan. Dengan pemulihan yang berlangsung, kampus kini lebih siap menghadapi bencana. Namun, peningkatan kembali keguncangan mengisyaratkan bahwa kekuatan alam masih menjadi ancaman besar bagi bangunan yang sudah dibangun ulang.

Peran Pemerintah dan Pengelolaan Sumber Daya

Kerusakan akibat gempa ini menunjukkan pentingnya pengelolaan sumber daya secara hati-hati, terutama dalam hal keamanan struktur bangunan. BMKG menyatakan bahwa gempa berkekuatan 6,7 skala Richter termasuk dalam kategori gempa dangkal, sehingga dampaknya lebih terasa di permukaan.

Prof Amar menekankan bahwa pihak universitas akan terus memantau kondisi bangunan, terutama di sekitar zona yang rentan terhadap gempa. Evaluasi ini tidak hanya untuk memastikan keselamatan civitas akademika, tetapi juga untuk menilai apakah konstruksi yang telah dibangun bisa mencegah kerusakan serupa di masa depan.

Langkah Pemulihan dan Pemantauan Lanjutan

Saat ini, pihak rektorat sedang berkoordinasi dengan tim teknis untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh. Selain itu, pihak universitas juga berupaya mempercepat pemulihan fasilitas yang rusak agar tidak mengganggu proses belajar mengajar.

“Kami berkomitmen untuk memastikan keselamatan seluruh bangunan dan penggunaannya,” tambah Amar.

Prof Amar menjelaskan bahwa evaluasi ini akan menjadi bahan perbaikan dalam program rehabilitasi infrastruktur pendidikan tinggi pascabencana. Dengan memahami titik lemah dari bangunan yang telah dibangun ulang, pihak universitas bisa meningkatkan kehandalan struktur bangunan di masa depan.

Penelitian terkait ketahanan bangunan terhadap gempa terus dilakukan. Pemulihan di Kampus Untad dianggap sebagai contoh bagus dalam upaya mengembangkan infrastruktur pendidikan yang tahan bencana. Namun, tantangan tetap ada karena sifat alam bencana yang tidak bisa diprediksi sepenuhnya.