PPIH minta jamaah haji waspadai gejala penyakit setiba di tanah air

PPIH Minta Jamaah Haji Waspadai Gejala Penyakit Setelah Tiba di Tanah Air

PPIH minta jamaah haji waspadai gejala – Medan, 2 Juni 2026 – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Medan memberikan himbauan kepada para jamaah haji asal Sumatera Utara untuk tetap waspada terhadap tanda-tanda penyakit setelah kembali ke Indonesia. Saat menyambut Kloter 06, dr Zulfan Anshori dari Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Medan menekankan pentingnya pengawasan kesehatan setelah fase pemulangan dilakukan. Dalam pesannya, ia meminta para jamaah haji untuk memperhatikan kondisi tubuh secara rutin setelah mendarat di tanah air.

Gejala Penyakit yang Perlu Diwaspadai

Dalam penjelasannya, dr Zulfan menyebutkan tujuh gejala utama yang harus diakui. Gejala-gejala tersebut meliputi demam, batuk, pilek, sesak napas, nyeri tenggorokan, mual dan muntah, serta diare. Ia menambahkan bahwa gejala-gejala ini bisa muncul dalam waktu beberapa hari setelah kembali ke Indonesia, sehingga pemantauan segera diperlukan.

“Kami mengimbau bapak ibu untuk tetap memantau berbagai tanda-tanda penyakit setelah tiba di tanah air,” ujar dr Zulfan saat acara penyambutan Kloter 06 di Asrama Haji Medan.

Menurut dr Zulfan, setiap jamaah haji diwajibkan membawa Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jamaah Haji (K3JH) untuk memudahkan identifikasi dan pengobatan jika menunjukkan gejala tertentu. Dokumen ini menjadi alat penting bagi petugas kesehatan dalam menentukan diagnosis yang tepat dan mempercepat proses penanganan.

PPIH Debarkasi Medan juga menekankan bahwa jamaah haji harus mengenali perbedaan antara gejala ringan dan berat. Jika mengalami keluhan seperti demam tinggi atau sesak napas yang berkepanjangan, segera lakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat. Kebiasaan hidup sehat selama perjalanan di Arab Saudi tetap menjadi fondasi untuk mencegah komplikasi setelah kembali.

Pemulangan Jamaah Haji: Angka dan Jadwal

Dari laporan PPIH Debarkasi Medan, terdapat 5.967 jamaah haji yang melakukan fase pemulangan melalui Bandara Internasional Kualanamu Deli Serdang antara 2 hingga 21 Juni 2026. Angka ini menunjukkan jumlah besar jamaah haji yang kembali ke Indonesia dalam periode tertentu, sehingga kewaspadaan kesehatan menjadi prioritas.

Dalam keterangannya, dr Zulfan meminta jamaah haji untuk tetap mematuhi protokol kesehatan, seperti mencuci tangan secara rutin, menghindari kerumunan, dan mengonsumsi makanan yang terjamin kebersihannya. “Jamaah haji diminta menjaga pola hidup sehat dan beristirahat cukup agar tubuh tidak mudah lelah,” tambahnya.

Peran Kartu Kewaspadaan Kesehatan

Penggunaan Kartu Kewaspadaan Kesehatan Jamaah Haji (K3JH) dianjurkan untuk memudahkan identifikasi penyakit secara dini. Dokumen ini berisi informasi mengenai riwayat kesehatan jamaah haji selama perjalanan, termasuk gejala yang mungkin terjadi. Dengan adanya kartu ini, tenaga medis dapat langsung memberikan respons yang cepat dan tepat.

“K3JH harus dibawa saat memeriksakan diri agar proses penanganan lebih efisien,” jelas dr Zulfan. Ia menambahkan bahwa selain memantau gejala fisik, jamaah haji juga perlu memperhatikan perubahan kondisi mental, seperti kelelahan berlebihan atau penurunan nafsu makan.

Kloter 06: Data dan Detail

Informasi tambahan mengenai Kloter 06 Debarkasi Medan menyebutkan bahwa jumlah jamaah haji yang kembali mencapai 358 orang. Jamaah haji berasal dari lima kabupaten/kota di Sumatera Utara, yakni Mandailing Natal (339 orang), Toba (7 orang), Nias Selatan (4 orang), Nias Utara (1 orang), dan Medan (1 orang). Petugas kloter sendiri berjumlah 6 orang yang membantu dalam pemeriksaan kesehatan dan distribusi bantuan.

Dalam kloter ini, tercatat seorang jamaah haji atas nama Isron bin Baitul Nasution dari Kabupaten Mandailing Natal yang meninggal akibat penyakit di Arab Saudi. “Isron wafat pada Rabu (27/5) lalu, namun kami tetap memantau kondisi jamaah haji lainnya dengan cermat,” ungkap dr Zulfan.

Ia juga menyoroti pentingnya informasi tentang riwayat perjalanan haji untuk memastikan pemantauan kesehatan yang optimal. “Jamaah haji diimbau memberikan data lengkap mengenai keberangkatan dan kegiatan selama di Mekah dan Madinah,” tambahnya. Data ini membantu petugas kesehatan dalam memahami potensi penyakit yang mungkin menyebar dari negara tujuan.

Langkah-Langkah Pemantauan

Dalam rangka mencegah penyebaran penyakit, PPIH Debarkasi Medan menyarankan jamaah haji untuk melakukan pemantauan mandiri selama 21 hari setelah tiba di Indonesia. Hal ini dilakukan karena periode waktu tersebut dianggap sebagai rentang risiko tertinggi bagi munculnya gejala penyakit setelah perjalanan yang melelahkan.

“Kami menekankan bahwa jamaah haji harus waspada terhadap gejala seperti demam, batuk, atau sesak napas,” terang dr Zulfan. Ia menambahkan bahwa setiap jamaah haji perlu mengenali gejala khas yang mungkin terjadi, terutama setelah menjalani ibadah haji di lingkungan dengan kondisi cuaca ekstrem dan kepadatan orang.

Sebagai tindakan pencegahan, PPIH juga mengingatkan para jamaah haji untuk menggunakan masker jika mengalami gejala gangguan pernapasan atau perut. Masker ini dianggap sebagai langkah sederhana namun efektif untuk mencegah penyebaran virus atau bakteri yang bisa menyerang tubuh setelah pulang.

Kebiasaan sehat selama perjalanan tidak boleh dilupakan. dr Zulfan menjelaskan bahwa kebersihan lingkungan, makanan