Key Strategy: Indef sebut industri halal & keuangan syariah harus saling menguatkan
Indef: Strategi Utama untuk Konsolidasi Industri Halal & Keuangan Syariah
Key Strategy – Indef menegaskan bahwa Key Strategy dalam pengembangan industri halal di Indonesia harus mencakup sinergi antara sektor halal dan keuangan syariah. Konsistensi integrasi keduanya, menurut Nur Hidayah, Kepala Center for Sharia Economic Development (CSED) Institut untuk Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (Indef), menjadi kunci untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional. Dalam sebuah agenda virtual, ia menyoroti bahwa industri halal dan keuangan syariah saat ini masih beroperasi secara terpisah, meskipun potensinya sangat besar.
Potensi Keterpaduan untuk Pertumbuhan Ekonomi
Nur Hidayah menjelaskan bahwa keberhasilan industri halal tidak bisa terlepas dari dukungan keuangan syariah yang memadai. Kedua sektor ini, jika diintegrasikan, bisa saling memperkuat dan menciptakan ekosistem yang lebih mandiri. Ia menyoroti bahwa saat ini, keuangan syariah masih dianggap sebagai pelengkap, bukan pendorong utama dalam pembiayaan industri halal. “Kita harus mengintegrasikan rantai halal sebagai satu kesatuan yang terpadu, mulai dari produksi hingga distribusi,” tegasnya.
“Keterkaitan antara industri halal dan keuangan syariah belum optimal, sehingga ada celah dalam implementasi UU Jaminan Produk Halal,” ujarnya.
Sektor keuangan syariah, menurut Nur Hidayah, belum mampu menjadi mesin pembiayaan utama bagi industri halal, terutama untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Meski banyak pelaku usaha sudah memperoleh sertifikasi halal, mereka masih bergantung pada skema konvensional karena keterbatasan akses ke produk pembiayaan syariah yang kompetitif. “Dengan Key Strategy yang tepat, keuangan syariah bisa menjadi pilihan utama bagi UMKM halal,” tambahnya.
Kebijakan Pemerintah untuk Mendorong Sinergi
Nur Hidayah menekankan bahwa pemerintah perlu memainkan peran aktif dalam mengoptimalkan peran keuangan syariah. Kebijakan afirmatif, seperti pengurangan beban administratif atau insentif fiskal, diperlukan untuk mendorong lembaga keuangan syariah menjadi bagian integral dari sistem perekonomian halal. “Key Strategy yang terencana akan membantu keuangan syariah berkembang, sehingga bisa mendukung ekspor produk halal yang terus meningkat,” jelasnya.
Menurut laporan ekonomi Islam internasional, Indonesia termasuk dalam kelompok utama negara-negara perekonomian halal global. Ekspor produk halal mencapai 41,42 miliar dolar AS pada Januari–Oktober 2024, dengan surplus perdagangan hingga 29,09 miliar dolar AS. Meski pertumbuhan ini menggembirakan, Nur Hidayah menyoroti bahwa ekosistem halal masih bergantung pada keuangan konvensional, sehingga perlu Key Strategy untuk memperkuat keterpaduan.
Di sisi lain, sektor makanan olahan masih menjadi kontributor utama dalam ekspor halal, diikuti oleh fesyen Muslim, farmasi, dan kosmetik. Namun, keberhasilan sektor tersebut tidak bisa terlepas dari kemampuan keuangan syariah yang mumpuni. “Dengan Key Strategy yang terpadu, kita bisa memperkuat daya saing industri halal di tingkat internasional,” katanya.
Indef mengingatkan bahwa pengembangan industri halal dan keuangan syariah tidak bisa dipisahkan. Sinergi yang optimal antara keduanya akan menjadi dasar untuk mencapai ekosistem mandiri, yang diharapkan bisa berkontribusi lebih besar pada Produk Domestik Bruto (PDB) nasional. Dengan Key Strategy yang terarah, industri halal Indonesia bisa menjadi motor penggerak ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
