Special Plan: PBNU: Perbaikan tata kelola kelembagaan NU mulai dari penguatan adab
Special Plan PBNU: Perbaikan Tata Kelola Kelembagaan NU dari Penguatan Adab
Special Plan – Jakarta – Dalam rangka meningkatkan tata kelola kelembagaan Nahdlatul Ulama (NU), PBNU mengusung strategi khusus yang menitikberatkan pada penguatan adab internal. KH. Ma’shum Faqih, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU, menekankan bahwa perbaikan sistem organisasi NU dimulai dari pengembangan nilai-nilai adab yang menjadi dasar harmoni dan efektivitas kehidupan jam’iyah. Menurutnya, adab tidak hanya tentang sopan santun, tetapi juga memegang peran penting dalam membentuk identitas NU dan menjaga solidaritas anggota organisasi.
Special Plan dan Peran Adab dalam Kehidupan Organisasi
Di tengah dinamika modern, Special Plan PBNU menyoroti bahwa adab merupakan pondasi utama dalam keberlanjutan tata kelola. Gus Ma’shum menjelaskan bahwa NU, sebagai organisasi yang didirikan oleh para ulama pesantren, harus memperkuat aspek adab untuk memastikan kesatuan antaranggota dan kepercayaan publik. Ia menambahkan bahwa keberhasilan NU bergantung pada keselarasan antara kebijakan organisasi dan nilai-nilai adab yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Dalam Special Plan ini, adab menjadi penyangga utama kekuatan spiritual dan institusional NU. Pesantren, sebagai tempat lahirnya nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah, harus menjadi model dalam menjaga tata kelola yang khas,” ujar Gus Ma’shum, yang menekankan bahwa adab tidak bisa dipisahkan dari keberadaan pesantren dalam membangun NU yang lebih kuat.
Special Plan: Warisan Adab dan Tradisi Musyawarah
Di Munas-Konbes NU yang akan dihelat di Pondok Pesantren Al Falah, Kediri, pada 20–21 Juni 2026, Ma’shum menyampaikan rekomendasi khusus untuk menghidupkan kembali tradisi adab. Ia menyatakan bahwa adab dalam musyawarah dan interaksi antaranggota adalah kunci dalam mempertahankan keharmonisan organisasi. “Special Plan ini mengajak kita untuk kembali pada akar sejarah, di mana pesantren menjadi sumber utama adab dan nilai-nilai luhur,” tambahnya.
Dalam penerapan Special Plan, Ma’shum menyoroti pentingnya menjaga kesetiaan terhadap prinsip musyawarah yang menjadi ciri khas NU. Ia menjelaskan bahwa adab dalam berdiskusi dan menghormati ulama adalah bagian integral dari tata kelola organisasi. “Dengan menanamkan adab dalam setiap tahap pengambilan keputusan, NU bisa memastikan bahwa kekuatan moral dan spiritual tetap menjadi kekuatan utama,” katanya.
Special Plan dan Kesiapan Pesantren dalam Berperan Strategis
Menurut Ma’shum, pesantren memiliki peran sentral dalam mewujudkan Special Plan PBNU. Ia menegaskan bahwa kebijakan organisasi harus berakar pada kebutuhan nyata pesantren, karena dari sana NU memperoleh dasar yang kuat. “Adab dan pesantren adalah dua aspek yang saling melengkapi dalam upaya memperkuat tata kelola,” papar Gus Ma’shum, yang juga menyoroti bahwa pesantren menjadi tempat pelatihan ulama dan penyaring nilai-nilai syariat.
Di masa depan, Ma’shum berharap Special Plan bisa mendorong pesantren untuk lebih aktif dalam memimpin tata kelola organisasi. Ia menambahkan bahwa nilai-nilai adab yang diwariskan dari pesantren harus terus dipertahankan, agar NU tetap menjadi organisasi yang harmonis dan berakar pada tradisi luhur. “Special Plan ini bukan sekadar rencana, tetapi kewajiban untuk menjaga keberlanjutan NU di tengah tantangan global,” jelasnya.
Special Plan: Penguatan Adab sebagai Strategi Konsistensi
Ma’shum menekankan bahwa tata kelola NU yang baik tidak bisa terlepas dari penguatan adab. Ia menjelaskan bahwa dengan adab yang kuat, organisasi bisa menjaga keseimbangan antara pengambilan keputusan dan keharmonisan internal. “Special Plan ini mengajak kita untuk mengubah cara berpikir dan berinteraksi dalam mengelola NU, agar tetap relevan dan memiliki daya tarik bagi masyarakat,” katanya.
Menurut Ma’shum, adab dalam hubungan antaranggota organisasi akan menjadi jaminan bahwa kebijakan PBNU di masa depan tidak hanya berbasis pada kepentingan politik, tetapi juga kepercayaan spiritual dan sosial. “Dengan menanamkan adab sebagai bagian dari kebijakan, Special Plan bisa menjadi kekuatan utama dalam memperkuat tata kelola kelembagaan NU,” ujarnya.
“Dalam Special Plan, pesantren dan adab tidak hanya menjadi nilai, tetapi juga mekanisme untuk menjaga kekuatan NU. Kedua aspek ini harus dipertahankan dan ditingkatkan, agar organisasi tetap bisa menjaga integrasi antara spiritual dan institusional,” tutur Gus Ma’shum, yang menggarisbawahi pentingnya memperkuat nilai-nilai luhur dalam kehidupan NU.
