Latest Program: Komisi VII dorong eksplorasi budaya daerah perkuat industri film
Komisi VII Dorong Eksplorasi Budaya Daerah untuk Perkuat Industri Film Nasional
Latest Program – Komisi VII DPR RI mengusulkan pengembangan industri film nasional melalui penguasaan budaya lokal. Dalam kunjungan kerja ke Yayasan Sinema Yogyakarta, anggota Komisi VII Hendry Munief mengatakan bahwa mengeksplorasi kekayaan budaya setempat bisa menjadi pendorong utama bagi kualitas konten film dalam negeri. Ia menekankan pentingnya sinergi antara wilayah, pemerintahan pusat, dan para pemain industri film untuk memperkuat produksi serta penyebaran karya lokal. “Eksplorasi film berbasis kearifan lokal masih terbatas, dan distribusi film belum merata di seluruh daerah,” tambah Hendry, Sabtu, saat memaparkan pendapatnya di Jakarta.
Potensi Daerah sebagai Pendorong Industri Film
Hendry menyoroti potensi Provinsi Riau sebagai salah satu titik baru pengembangan perfilman nasional. Menurutnya, daerah ini memiliki kekayaan budaya yang bisa menjadi fondasi untuk menghasilkan karya film yang unik dan berdaya tarik. “Kita perlu membangun ekosistem film yang kuat di setiap wilayah, sehingga bisa memperkuat identitas nasional,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa perlu kerja sama strategis antara pemerintah daerah, lembaga pemerintah pusat, dan industri film untuk memastikan pertumbuhan yang seimbang.
Kunjungan kerja Panitia Kerja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional (Panja KDFN) ke Yayasan Sinema Yogyakarta disampaikan dalam rangka mendukung pembangunan industri film melalui festival Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF). Hendry mengatakan bahwa kolaborasi dengan lembaga seperti JAFF dapat membuka peluang besar melalui program roadshow, kurasi film, hingga inkubasi komunitas kreatif lokal. “Industri film ini tidak bisa berkembang hanya dengan satu sentral, tapi harus dimulai dari daerah-daerah,” katanya.
Kebijakan dan Kapasitas SDM sebagai Faktor Kunci
Dalam menumbuhkan industri film nasional, Hendry menekankan bahwa penguatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) merupakan elemen penting. Menurutnya, sineas lokal harus ditingkatkan kemampuannya secara teknis dan manajerial. “Kreativitas saja tidak cukup; SDM kita harus naik kelas dan memiliki standar yang konsisten,” jelas Hendry. Ia juga menyebutkan bahwa dukungan kebijakan pemerintah daerah, seperti insentif pajak, ruang kreatif, serta fasilitasi festival, dapat menjadi penggerak utama.
Dukungan kebijakan juga diperlukan untuk meningkatkan distribusi film yang lebih merata. Hendry menyoroti bahwa selama ini distribusi tidak seimbang, sehingga membatasi akses kekayaan lokal ke pasar nasional. “Pemerintah daerah harus bukan hanya menjadi regulator, tetapi juga sebagai fasilitator dan akselerator,” imbuhnya. Ia berharap lembaga pemerintah daerah bisa berperan aktif dalam membantu pengembangan film lokal melalui program-program yang sesuai.
Pembelajaran dari Negara-Negara Asia
Hendry menambahkan bahwa Indonesia bisa mengambil pelajaran dari negara-negara Asia yang sukses mengembangkan industri film. Ia mengungkapkan bahwa Korea Selatan mengandalkan kebijakan kuota layar untuk melindungi film lokal, India mengembangkan jaringan bioskop hingga pelosok daerah, sementara Filipina membangun pusat film komunitas berbasis pemerintah. “Indonesia bisa meniru praktik terbaik ini, tentu dengan penyesuaian konteks lokal,” katanya.
Kebijakan kuota layar di Korea Selatan, misalnya, berhasil menjaga eksistensi film nasional di tengah persaingan global. Sementara India membangun jaringan bioskop yang luas, yang membantu distribusi film ke berbagai wilayah. Filipina, di sisi lain, mengintegrasikan pemerintah dalam pengembangan infrastruktur film. Hendry menilai pengambilan pelajaran dari negara-negara tersebut bisa menjadi referensi untuk memperkuat industri film Indonesia. “Kita perlu menyesuaikan strategi sesuai kondisi lokal agar lebih efektif,” ujarnya.
Peran Festival dalam Membangun Ekosistem Lokal
Festival film seperti JAFF juga dianggap sebagai alat penting dalam memperkenalkan budaya lokal ke pasar nasional dan internasional. Hendry menilai bahwa program-program seperti roadshow dan kurasi film bisa membantu memperluas jaringan kreatif dan meningkatkan visibilitas karya daerah. “Koordinasi dengan lembaga-lembaga kreatif seperti JAFF bisa menjadi jembatan antara daerah dan industri film,” katanya.
Selain itu, Hendry menekankan perlunya program magang dan pelatihan intensif untuk meningkatkan keterampilan sineas lokal. Ia berharap para pemain film muda bisa menyerap pengalaman dari ekosistem yang sudah mapan, seperti di Yogyakarta. “Melalui pelatihan, mereka bisa memperkaya kreativitas dan membangun standar teknis yang lebih baik,” jelas Hendry. Ia juga mengungkapkan bahwa keberhasilan industri film nasional bergantung pada kemampuan daerah dalam mengelola sumber daya dan membangun kolaborasi yang efektif.
Strategi Kolaborasi untuk Pertumbuhan Merata
Komisi VII menilai bahwa kolaborasi lintas daerah adalah kunci untuk menyebarluaskan kekayaan budaya ke berbagai penjuru Indonesia. Hendry mengatakan bahwa ekosistem film yang kuat di satu wilayah bisa menjadi contoh untuk wilayah lain. “Transfer pengetahuan dari ekosistem yang sudah matang, seperti Yogyakarta, sangat bermanfaat,” tegasnya. Ia menyarankan agar pemerintah daerah bisa memberikan dukungan lebih besar kepada kreativitas lokal, termasuk akses ke sumber daya dan fasilitas yang dibutuhkan.
Menurut Hendry, pengembangan industri film nasional harus didasari oleh keberlanjutan dan keberagaman. Ia mengatakan bahwa budaya setempat bisa menjadi ciri khas yang membedakan film Indonesia dari negara lain. “Kita harus berinovasi dengan mempertahankan nilai-nilai lokal,” katanya. Dengan memadukan budaya daerah dengan teknologi dan pasar modern, Hendry berharap industri film Indonesia bisa berkembang secara signifikan dan menghasilkan karya yang bersaing secara global.
Kesimpulan dan Harapan Masa Depan
Menutup pembicaraannya, Hendry menyatakan bahwa perlu komitmen bersama antara pemerintah, daerah, dan pemain industri film. Ia berharap ada kebijakan yang konsisten dan program yang mendukung pertumbuhan ekosistem lokal. “Industri film tidak bisa berkembang sendirian, tapi harus dijalan bersama,” katanya. Hendry menekankan bahwa dengan memperkuat budaya daerah, Indonesia bisa memiliki basis yang kuat untuk menghadapi tantangan global. “Kita harus mulai dari dalam, lalu merambah ke luar,” pungkas Hendry.
