New Policy: Tekan penyebaran TBC, Dinkes Kota Malang gencarkan screening mobile
Program Screening Mobile untuk Deteksi Dini Tuberkulosis di Kota Malang
Upaya Dinkes Kota Malang Mengurangi Penyebaran Penyakit Menular
New Policy – Dinas Kesehatan Kota Malang (Dinkes) terus melakukan inisiatif untuk menekan penyebaran tuberkulosis (TBC) di tengah tantangan kesehatan yang terus menghadang. Salah satu strategi yang dijalankan adalah program screening mobile, yang memberikan akses lebih luas kepada masyarakat yang kurang terjangkau oleh fasilitas kesehatan umum. Melalui pendekatan ini, petugas kesehatan datang langsung ke berbagai kelurahan, memberikan pemeriksaan cepat dan mengurangi risiko penyebaran penyakit yang bisa terjadi karena keterlambatan diagnosis.
Screening mobile berupa kombinasi pemeriksaan kesehatan dasar dan foto rontgen dada menjadi metode utama dalam program ini. Dengan menggabungkan dua metode, Dinkes Kota Malang berusaha mendeteksi gejala TBC secara lebih efektif. Program ini telah berjalan sejak April 2026, dan hingga kini telah melibatkan hampir tiga ribu warga yang menjalani pemeriksaan. Banyak dari peserta ini adalah keluarga yang tinggal di area pedesaan atau perumahan yang jauh dari pusat kota, sehingga program ini dinilai sebagai langkah penting dalam meningkatkan kesadaran akan penyakit menular ini.
Achmad Saif Hajarani/Chairul Fajri/Roy Rosa Bachtiar
Menurut data yang dihimpun, keberhasilan program screening mobile ini tergantung pada kerja sama antara tim medis, tenaga kesehatan desa, dan masyarakat setempat. Kedatangan tim ke kelurahan membuat warga lebih mudah mengakses layanan kesehatan tanpa harus mengeluarkan biaya transportasi atau waktu yang berlebihan. Selain itu, metode ini juga membantu mempercepat identifikasi pasien TBC yang mungkin tidak menyadari gejalanya. “Screening mobile ini memberikan manfaat besar karena memudahkan masyarakat untuk memeriksa kesehatan secara berkala,” ujar salah satu petugas yang terlibat dalam program tersebut.
Program ini tidak hanya fokus pada pemeriksaan fisik dan rontgen, tetapi juga menyediakan edukasi mengenai cara mencegah TBC. Petugas memberikan informasi tentang gejala, tanda-tanda, serta upaya preventif seperti penggunaan masker dan peningkatan ventilasi di ruangan. Dinkes Kota Malang juga menjelaskan bahwa TBC bisa menyebar melalui udara, terutama saat penderita batuk atau bersin, sehingga deteksi dini menjadi kunci untuk menghambat penularan.
Sejak dimulai pada April 2026, kegiatan screening mobile telah mencakup lebih dari 20 kelurahan di berbagai kecamatan. Tim medis bergerak rutin setiap minggu, menyasar area yang kurang dilayani oleh rumah sakit umum. Angka peserta yang terus meningkat menunjukkan respons positif dari masyarakat. “Kami menargetkan 5.000 orang dalam setahun, dan saat ini sudah mencapai 3.000, sehingga progresnya sangat baik,” tambah salah satu perwakilan dari Dinkes Kota Malang.
Metode screening mobile ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk organisasi kesehatan lokal dan komunitas warga. Kombinasi antara pemeriksaan fisik dan foto rontgen memungkinkan tim medis mengidentifikasi penyakit pada tahap awal, sehingga perawatan bisa segera dilakukan. Dengan demikian, risiko penyebaran TBC di lingkungan sekitar bisa diminimalkan. “Program ini membantu mengurangi stigma terhadap TBC karena masyarakat merasa lebih nyaman mengikuti pemeriksaan di lingkungan mereka sendiri,” kata salah satu penyuluh kesehatan yang terlibat.
Keberhasilan screening mobile juga diukur melalui data penurunan kasus TBC di wilayah yang telah diberi layanan. Dinkes Kota Malang melaporkan bahwa sejumlah pasien yang terdeteksi lebih dini telah menjalani pengobatan sejak dini, sehingga tingkat kesembuhan meningkat. “Dengan diagnosis lebih cepat, kita bisa memutus rantai penyebaran TBC sebelum kasusnya menyebar lebih luas,” jelas staf Dinkes Kota Malang dalam sebuah wawancara.
Program ini juga mengintegrasikan teknologi digital untuk mempercepat proses pemeriksaan. Hasil foto rontgen dianalisis secara langsung oleh tim medis, dan data dilengkapi dengan catatan kesehatan pribadi peserta. Selain itu, hasil pemeriksaan dibagikan ke rumah sakit rujukan, sehingga pasien yang ditemukan bisa langsung mendapatkan perawatan lebih lanjut. “Teknologi ini membuat proses lebih efisien, dan kita bisa memantau kasus TBC secara real-time,” kata seorang dokter spesialis paru yang terlibat dalam program.
Upaya Dinkes Kota Malang ini menjadi contoh baik bagi daerah lain yang ingin menerapkan pendekatan serupa. Selain meningkatkan aksesibilitas, program ini juga membantu membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan. Dengan kehadiran petugas di tempat tinggal mereka, warga lebih mudah berpartisipasi dan memahami pentingnya pemeriksaan berkala. “Kami berharap program ini bisa terus berlanjut dan membantu menurunkan angka kasus TBC di Kota Malang,” tutur salah satu pejabat Dinkes dalam diskusi terpisah.
Keberlanjutan program screening mobile juga tergantung pada kesinambungan dana dan dukungan masyarakat. Dinkes Kota Malang berencana melanjutkan kegiatan ini hingga akhir tahun 2026, dengan target menjangkau lebih banyak kelurahan. “Kami sedang berupaya memperluas cakupan program, karena TBC adalah masalah kesehatan publik yang membutuhkan perhatian serius,” jelas pejabat tersebut. Selain itu, Dinkes juga berencana bekerja sama dengan organisasi swadaya untuk memperkuat upaya pencegahan TBC di tingkat komunitas.
Program screening mobile ini menggabungkan upaya preventif dan deteksi dini, yang sangat penting dalam menekan penyebaran TBC. Dengan menjangkau masyarakat yang lebih luas, Dinkes Kota Malang berharap bisa mengurangi angka kasus TBC secara signifikan. Selain itu, kegiatan ini juga memperkenalkan kebiasaan hidup sehat kepada warga, seperti kebersihan lingkungan dan pola makan yang seimbang. “TBC bukan hanya soal diagnosis, tapi juga tentang gaya hidup dan pola perawatan yang teratur,” tambah seorang ahli kesehatan masyarakat yang terlibat.
Dengan memperkuat sistem deteksi dini melalui program mobile, Dinkes Kota Malang mencoba memastikan bahwa TBC tidak lagi menjadi penyakit yang diabaikan oleh masyarakat. Selain itu, upaya ini juga mempercepat respons terhadap pasien yang terdeteksi, sehingga potensi penyebaran bisa dikurangi. Dinkes menekankan bahwa pencegahan TBC memerlukan kolaborasi antara pemerintah, organisasi kesehatan, dan masyarakat, dan program mobile menjadi salah satu inisiatif yang bisa memperkuat hubungan ini.
Keberhasilan program ini diharapkan bisa menjadi pelajaran bagi daerah lain, terutama dalam mengatasi masalah kesehatan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan pendekatan yang lebih inklusif, Dinkes Kota Malang berkomitmen untuk terus mengoptimalkan kegiatan screening mobile dan memperluas cakupannya. “Kami ingin program ini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga mereka terbiasa memeriksa kesehatan secara rutin,” pungkas salah satu perwakilan Dinkes Kota Malang.
