Key Strategy: Trio Lestari ajak penonton Java Jazz 2026 bernostalgia

Trio Lestari Pancing Kenangan Melalui Lagu Lama di Java Jazz 2026

Key Strategy – Tangerang, 29 Mei 2026 – Festival musik Java Jazz 2026 menjadi panggung yang tak hanya menghibur, tetapi juga menghadirkan momen nostalgia bagi para penonton. Kelompok musik Trio Lestari, yang sejak tahun 2013 telah mengukir nama di industri musik Indonesia, memilih untuk memperingati masa lalu dengan membawakan lagu-lagu klasik mereka dalam acara yang berlangsung di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK, Tangerang, Banten, pada Jumat (29/5) malam. Penampilan ini berbeda dari biasanya, karena di sini mereka mempersembahkan karya-karya yang telah mengiringi banyak kenangan pendengarnya.

Setelah kehilangan salah satu anggota utamanya, Glenn Fredly, pada 8 April 2020, grup ini kini hanya tersisa dua musisi, yakni Tompi dan Sandhy Sondoro. Kehadiran keduanya di panggung Telkomsel Java Jazz Festival 2026 mengingatkan para penonton pada perjalanan musik yang telah berlangsung selama hampir tiga dekade. “Kita terdampar bingung, apakah harus mengikuti ke surga atau tetap berada di bumi. Tapi akhirnya, kita memutuskan kembali ke dunia ini dan melanjutkan perjalanan musik,” ujar Tompi dalam wawancara yang disisipkan selama pertunjukan.

Kelompok musik yang terkenal dengan genre pop rock ini memulai penampilan mereka dengan lagu ceria berjudul “La La Song,” yang sebelumnya menjadi hits yang dikenang oleh banyak orang. Dalam lantunan nada yang penuh semangat, Tompi mengajak penonton untuk bersama-sama merasakan kembali energi dan kehangatan masa lalu. “Sebelum kita mulai lagu, izinkan saya memberikan tepuk tangan buat Glenn Fredly yang sekarang berada di sana,” tambahnya, sebelum menyetir musik yang penuh nostalgia.

“Kita pernah mengalami masa-masa yang tak terduga. Setelah kehilangan arah, akhirnya kita menemukan jalan kembali melalui musik,” kata Tompi, yang juga dikenal sebagai vokalis dan produser dari band yang telah menginspirasi banyak generasi musisi.

Setelah memainkan “La La Song,” mereka melanjutkan dengan lagu-lagu yang lebih dalam, seperti “Malam Biru (Kasihku)” dan “Nurlela.” Kedua lagu ini membangkitkan emosi yang kuat di antara penonton, terutama bagi yang masih mengingat masa-masa pertama kali mengenal Trio Lestari. “Lagu-lagu ini seperti cermin, mengingatkan kita pada masa-masa ketika musik adalah jalan kehidupan,” sambung Sandhy, yang juga menjadi salah satu vokalis utama.

Di tengah pertunjukan, Sandhy memutuskan menyanyikan “Tak Pernah Padam,” sementara Tompi mengambil alih untuk “Selalu Denganmu.” Lagu-lagu ini menggambarkan perjalanan cinta dan kesetiaan, tema yang konsisten dalam karya Trio Lestari. Selain itu, penampilan mereka juga memasukkan lagu “Human Nature” dari Michael Jackson, yang menjadi pengalaman baru bagi banyak penggemar, karena kali pertama grup ini membawakan karya luar negeri dalam konser besar seperti ini.

Menariknya, anak Tompi, Malaka Ayesha, turut berpartisipasi dalam pertunjukan tersebut. Kehadirannya menambah kesan personal dan hangat, seperti saat keduanya berdiri berdampingan di panggung. Malaka, yang belum lama tampil di beberapa acara musik, terlihat bersemangat saat menyanyikan bagian tertentu dari lagu-lagu yang dibawakan. “Keluarga musik ini selalu menjadi bagian dari kami, baik sebagai musisi maupun sebagai penggemar,” ujarnya dalam wawancara singkat setelah pertunjukan.

Dalam sesi pertunjukan, Tompi juga menyampaikan rencana besar untuk mengadakan tur konser di seluruh Indonesia. “Kami sedang merencanakan sebuah perjalanan musik ke berbagai kota, agar bisa merasakan kehangatan penonton di setiap lokasi,” katanya. Rencana ini menjadi bagian dari strategi mereka untuk memperkuat koneksi dengan para penggemar, terlepas dari perubahan yang terjadi dalam komposisi band.

“Kami ingin memberikan pengalaman yang sama seperti dulu, tetapi dengan semangat baru. Musik adalah jembatan antara masa lalu dan masa depan, dan kami ingin tetap menjadi bagian dari perjalanan itu,” tambah Tompi, yang juga menjadi tokoh penting dalam industri musik Tanah Air.

Penampilan Trio Lestari di Java Jazz 2026 tidak hanya menjadi nostalgia bagi pendengarnya, tetapi juga memperlihatkan komitmen mereka untuk terus berkarya. Lagu-lagu yang dipilih menggambarkan kehidupan bermusik yang berkesinambungan, meskipun dengan jumlah anggota yang berkurang. “Setiap lagu yang kami bawakan adalah cerita, dan kami ingin menceritakannya kembali kepada Anda,” ujar Sandhy, yang memperkuat sentuhan emosional dalam penampilan tersebut.

Dalam kesempatan ini, seluruh penonton tampak terlibat sepenuhnya, baik melalui tepuk tangan, nyanyian, maupun keheningan yang penuh perhatian. Atmosfer yang tercipta seolah membawa kembali era 90-an, ketika Trio Lestari menjadi bagian dari hiburan populer yang tak terlupakan. Lagu-lagu lama seperti “Menghujam Jantungku” dan “Gelora Cintaku” yang ditutup pertunjukan menjadi penutup yang memukau, menegaskan bahwa kekuatan musik mereka tidak pernah berkurang meskipun komposisinya berubah.

Dengan kehadiran Tompi dan Sandhy, Java Jazz 2026 bukan hanya menjadi ajang untuk mengapresiasi musik Indonesia, tetapi juga menjadi saksi bisu perjalanan emosional kelompok musik yang telah menjadi bagian dari sejarah. Mereka menunjukkan bahwa meskipun menghadapi tantangan, cinta terhadap musik tetap menjadi pendorong utama. “Java Jazz adalah kesempatan yang baik untuk kembali membangun jembatan antara musisi dan penonton,” pungkas Tompi, sebelum mengakhiri pertunjukan dengan lagu yang menjadi andalan mereka.

Penampilan ini juga menjadi jembatan bagi generasi muda dan lama untuk saling menyambut, sekaligus memperingati perjuangan musisi dalam menghadirkan karya yang tahan lama. Dengan menggabungkan lagu-lagu klasik dan inovasi baru, Trio Lestari menunjukkan bahwa musik adalah alat yang tak pernah usang. Mereka berharap, melalui pertunjukan ini, para penonton kembali merasakan kehangatan dan makna yang terkandung dalam setiap lagu yang mereka bawakan.

Selama pertunjukan, para penonton tampak bersemangat, baik ketika mengikuti alunan musik maupun ketika berdiri bersama untuk menyanyikan lirik yang familiar. Kehadiran Malaka Ayesha di panggung juga menambah kesan kekeluargaan, mengingatkan bahwa musik bisa menjadi jembatan antara generasi. “Kami ingin menyampaikan pesan bahwa musik tidak hanya untuk orang dewasa, tetapi juga untuk anak muda yang ingin merasakan makna dalam setiap nada,” kata Sandhy, yang menjadi pusat perhatian selama pertunjukan.

Dengan demikian, Java Jazz 2026 menjadi bukti bahwa nostalgia bisa hidup kembali melalui musik. Trio Lestari, meskipun telah kehilangan salah satu anggotanya, tetap menjadi simbol kekuatan dan ketekunan dalam dunia hiburan. Mereka menunjukkan bahwa meskipun perjalanan musik berubah,