Rilis Pers

Dari Merak hingga Ketapang, Krueng Mane hingga Tanjungkarang: Cerita Perjalanan dari Ujung Jaringan Kereta Api Jawa–Sumatra

WhatsApp-Image-2026-10-04-at-12.40.19

Merak, Ketapang, Krueng Mane, dan Tanjungkarang: Ujung Rel yang Menghubungkan Wilayah

Ayobantudonasi.com – Dari Merak hingga Ketapang Krueng Mane hingga Tanjungkarang menggambarkan bentang panjang perjalanan kereta api di Jawa dan Sumatra. Keempat stasiun ini berada di titik penting jaringan rel, dengan peran yang berbeda-beda dalam menghubungkan masyarakat, pelabuhan, dan kawasan antardaerah.

Merak berada di ujung barat Pulau Jawa, sedangkan Ketapang menjadi salah satu titik akhir rel di timur Jawa. Di Sumatra, Krueng Mane melayani perjalanan masyarakat di Aceh dan Tanjungkarang menjadi simpul bersejarah perkeretaapian Lampung. Bersama-sama, stasiun tersebut memperlihatkan keterkaitan rel dengan mobilitas antarpulau.

“Menarik melihat bagaimana rel menjangkkau berbagai sisi Jawa dan Sumatra. Di beberapa tempat perjalanan bertemu dengan pelabuhan dan laut, di tempat lain kereta api menjadi penghubung masyarakat antarkota. Jejak sejarah itu masih digunakan masyarakat sampai hari ini,” ujar Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba.

Merak dan pertemuan rel dengan penyeberangan Selat Sunda

Stasiun Merak terletak di wilayah barat Banten, tidak jauh dari Pelabuhan Merak. Posisi ini menjadikannya bagian penting dari perjalanan darat yang dapat diteruskan dengan kapal menuju Bakauheni di Lampung melalui Selat Sunda.

Jalur kereta menuju Merak telah hadir sejak awal abad ke-20 dan kini melayani rute Rangkasbitung–Merak. Bagi penumpang, kereta menuju Merak dapat menjadi pilihan untuk mencapai pesisir barat Jawa sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan angkutan penyeberangan.

Kedekatan stasiun dengan kawasan pelabuhan menunjukkan bagaimana moda transportasi dapat saling melengkapi. Kereta membawa penumpang ke titik barat Jawa, sementara kapal melanjutkan konektivitas menuju Sumatra.

Ketapang, akses rel menuju Banyuwangi dan Bali

Di ujung timur Pulau Jawa, Stasiun Ketapang di Banyuwangi memiliki peran strategis bagi perjalanan menuju Bali. Jalur kereta api menuju Banyuwangi mulai dibuka pada 2 Februari 1903, kemudian jaringan rel berkembang hingga mencapai kawasan Ketapang.

Stasiun Ketapang melayani perjalanan kereta api menuju Banyuwangi dan menjadi akses lanjutan ke Bali melalui penyeberangan Pelabuhan Ketapang–Gilimanuk. Rangkaian perjalanan ini memungkinkan penumpang menggabungkan kereta dan kapal untuk menyeberangi Selat Bali.

Dalam periode Januari hingga September 2026, tercatat 615.161 pergerakan pelanggan naik dan turun di Stasiun Ketapang. Jumlah tersebut terdiri atas 292.618 pelanggan yang berangkat serta 322.543 pelanggan yang tiba.

Angka itu meningkat 8,56 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, saat pergerakan pelanggan mencapai 566.643 orang. Peningkatan tersebut mencerminkan fungsi Ketapang sebagai titik transit sekaligus tujuan perjalanan di kawasan timur Jawa.

Krueng Mane dan layanan kereta di Aceh

Stasiun Krueng Mane di Aceh merupakan salah satu ujung layanan penumpang aktif Kereta Api Cut Meutia. Kereta ini menghubungkan Krueng Geukueh, Bungkaih, dan Krueng Mane, sehingga menyediakan pilihan transportasi bagi warga di wilayah utara Sumatra.

Kehadiran layanan Cut Meutia mempertahankan peran kereta api dalam mobilitas masyarakat Aceh. Di tengah beragam pilihan perjalanan darat, jalur ini tetap menjadi penghubung antarkawasan dan meneruskan jejak sejarah perkeretaapian di daerah tersebut.

Dalam cerita Dari Merak hingga Ketapang Krueng Mane hingga Tanjungkarang, stasiun ini menegaskan bahwa nilai sebuah jalur rel tidak hanya ditentukan oleh besarnya kota atau jumlah perjalanan. Kereta juga penting sebagai akses harian bagi masyarakat setempat.

Tanjungkarang, simpul lama perkeretaapian Lampung

Stasiun Tanjungkarang memiliki hubungan erat dengan perkembangan Lampung dan Pelabuhan Panjang. Pembangunannya dimulai pada 1911 dan stasiun ini diresmikan pada 30 Juni 1914.

Pada awal operasionalnya, Tanjungkarang melayani pergerakan pegawai dan material dari Pelabuhan Panjang. Seiring perkembangan wilayah, stasiun ini tumbuh menjadi salah satu simpul utama perjalanan kereta api di Lampung.

Hubungan antara rel, pelabuhan, dan pertumbuhan kawasan masih menjadi bagian dari arti Tanjungkarang hingga kini. Lebih dari satu abad setelah diresmikan, stasiun tersebut tetap berperan dalam mendukung mobilitas masyarakat Lampung.

FAQ Perjalanan dari Ujung Jaringan Kereta Api

Apakah Stasiun Merak terhubung langsung dengan Pelabuhan Merak?

Stasiun Merak berada tidak jauh dari kawasan Pelabuhan Merak. Penumpang yang melanjutkan perjalanan ke Sumatra dapat meneruskan perjalanan dengan angkutan menuju pelabuhan untuk menyeberang ke Bakauheni.

Bagaimana melanjutkan perjalanan dari Ketapang ke Bali?

Dari Stasiun Ketapang, penumpang dapat melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Ketapang. Dari sana, penyeberangan laut menghubungkan Banyuwangi dengan Gilimanuk di Bali.

Kereta apa yang melayani Stasiun Krueng Mane?

Stasiun Krueng Mane dilayani Kereta Api Cut Meutia yang menghubungkan Krueng Geukueh, Bungkaih, dan Krueng Mane di Aceh.

Mengapa Stasiun Tanjungkarang penting bagi Lampung?

Tanjungkarang merupakan salah satu simpul utama perkeretaapian di Lampung. Sejak awal pembangunannya, stasiun ini berkaitan dengan pergerakan orang dan material dari Pelabuhan Panjang serta perkembangan wilayah sekitarnya.