What Happened During: Psikolog: Victim blaming dapat memperpanjang trauma korban kekerasan

Psikolog: Menyalahkan Korban Kekerasan Bisa Memperpanjang Trauma

What Happened During – Dari Jakarta, ANTARA mengutip pernyataan psikolog Samanta Clara Elsner, S.Psi, M.Psi, Psikolog, yang menekankan bahwa menyalahkan korban dalam kasus kekerasan, seperti yang disebutkan dalam artikel ini, dapat memperpanjang perasaan trauma yang dialami. Ia menjelaskan bahwa respons lingkungan yang mendukung menjadi faktor kunci dalam pemulihan korban. Namun, kebiasaan menyalahkan korban justru bisa memperparah situasi dan menghambat proses penyembuhan. “Lingkungan yang memberikan dukungan adalah salah satu elemen penting untuk pemulihan psikologis korban,” katanya dalam wawancara via telepon, Rabu.

Mengapa Menyalahkan Korban Terjadi?

Samanta mengungkapkan bahwa kebiasaan menyalahkan korban sering terjadi karena masyarakat cenderung mencari keadilan dengan cara yang terburu-buru. Hal ini dipicu oleh keyakinan bahwa dunia ini adil, sehingga orang-orang menganggap korban harus memikul kesalahan atas kekerasan yang dialaminya. Selain itu, ia menyoroti bahwa literasi psikologis tentang dampak kekerasan masih terbatas, yang membuat banyak orang mengambil sudut pandang terbatas saat melihat kasus tertentu. “Kebanyakan orang hanya memahami kekerasan melalui lensa yang mereka sendiri miliki, tanpa mempertimbangkan pengalaman korban secara utuh,” jelasnya.

“Korban bukan hanya menderita akibat kekerasan, tetapi juga harus menghadapi rasa bersalah karena dianggap bertanggung jawab atas kejadian yang menimpa mereka. Akibatnya, mereka bisa semakin malu, kehilangan kepercayaan diri, dan enggan mencari bantuan,” ujar Samanta.

Menurut psikolog yang tergabung dalam pengurus Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) tersebut, kebiasaan ini sering kali terjadi di media sosial, di mana komentar kritis terhadap korban bisa memperburuk luka. “Masyarakat yang sehat bukanlah yang paling cepat menghakimi, melainkan yang mampu menciptakan ruang aman bagi korban untuk berbicara dan mendapatkan bantuan,” tambahnya. Ia menekankan bahwa sebelum menanggapi kasus kekerasan, penting untuk melihat apakah komentar tersebut membantu atau justru merusak psikologis korban.

Peran Psikologis Pelaku dalam Memperpanjang Trauma

Samanta juga menjelaskan bahwa korban kekerasan berkepanjangan sering kali mengalami pengaruh psikologis yang membatasi kemampuan mereka untuk keluar dari situasi membahayakan. “Pelaku kekerasan sering kali menggunakan berbagai metode seperti manipulasi emosional, isolasi sosial, dan ancaman untuk membuat korban merasa terikat,” katanya. Dalam kondisi ini, korban kehilangan kejernihan pikiran dan kesanggupan mengambil keputusan. “Korban tidak selalu takut melarikan diri karena ingin selamat, melainkan karena sistem pertahanan mereka sedang bekerja dalam kondisi trauma ekstrem,” tegasnya.

“Mereka memikul beban fisik, emosional, dan sosial sekaligus. Jadi, keputusan untuk tetap tinggal atau diam bukanlah karena keinginan untuk tetap terluka, tetapi karena tekanan yang mereka alami sehari-hari,” ujar Samanta.

Samanta mengingatkan bahwa kekerasan tidak hanya memengaruhi korban secara langsung, tetapi juga menciptakan dampak kumulatif yang bisa menyebabkan trauma berkelanjutan. Ia menjelaskan bahwa masyarakat sering kali melupakan bahwa korban kekerasan menghadapi ancaman dan kontrol yang terus-menerus. “Trauma ini seperti bayangan yang tak pernah hilang, sehingga mereka membutuhkan dukungan ekstra untuk pulih,” katanya.

Empati sebagai Solusi untuk Mengurangi Trauma

Menurut Samanta, empati adalah kunci untuk memberikan bantuan kepada korban kekerasan tanpa menambahkan luka. “Empati berarti mengakui bahwa korban berhak didengar, diperlakukan dengan hormat, dan tidak disalahkan atas pengalaman mereka,” tambahnya. Ia menegaskan bahwa empati tidak berarti mengabaikan proses hukum atau menghakimi secara langsung, tetapi lebih pada pengenalan bahwa setiap orang, terlepas dari kondisi mereka, memiliki hak untuk mengekspresikan kebenaran.

“Empati memungkinkan kita melihat kasus kekerasan dari perspektif korban, bukan hanya dari sudut pandang yang mengira mereka tahu semua fakta,” ujar Samanta. “Komentar seperti ‘kalau saya jadi korban pasti sudah kabur’ bisa sangat menyakitkan, karena memberi kesan bahwa korban tidak cukup kuat atau tidak bertanggung jawab.”

Samanta berharap masyarakat bisa lebih sadar dalam mengambil sikap terhadap korban kekerasan. Ia menyarankan untuk tidak langsung menyalahkan, melainkan mencari informasi lengkap sebelum berkomentar. “Setiap kasus kekerasan memiliki lapisan kompleks yang tidak selalu terlihat di permukaan. Jadi, perlu kesabaran dan kepedulian untuk memahami kondisi korban secara utuh,” katanya.

Dalam konteks ini, Samanta mengingatkan bahwa korban kekerasan tidak hanya membutuhkan bantuan psikologis, tetapi juga dukungan sosial dan struktural untuk keluar dari situasi yang memperparah trauma. Ia menekankan bahwa sistem pendidikan dan sosialisasi di masyarakat harus mencakup pemahaman tentang dampak psikologis kekerasan, agar masyarakat bisa lebih berempati dan menghindari penyalahgunaan kata-kata yang merugikan korban.

Dengan mempraktikkan empati, Samanta berharap kekerasan bisa dilihat sebagai masalah kolektif, bukan tanggung jawab individu korban. “Kita harus menyadari bahwa setiap orang memiliki peran dalam proses penyembuhan, termasuk masyarakat yang berupaya memberikan dukungan,” pungkasnya. Dalam upaya mempercepat pemulihan, ia menekankan pentingnya membangun lingkungan yang tidak menyalahkan, tetapi mendorong korban untuk bersuara dan bergerak maju.

Kebiasaan menyalahkan korban kekerasan bisa menjadi hambatan dalam proses pemulihan. Dengan memahami hal ini, masyarakat bisa berkontribusi dalam mengurangi trauma dan memperkuat kepercayaan korban pada diri sendiri serta lingkungan sekitar. Samanta berharap langkah-langkah ini bisa mendorong perubahan kecil, tetapi signifikan, dalam membantu korban mencapai kesejahteraan psikologis yang lebih baik.