Ahli jelaskan mengapa ibu hamil lebih sering berkemih
Ahli Jelaskan Mengapa Ibu Hamil Lebih Sering Berkemih
Ahli jelaskan mengapa ibu hamil lebih – Jakarta – Dalam sebuah konferensi pers yang diadakan di Jakarta pada Senin, Prof. Dr. Harrina Erlianti Rahardjo, Sp.U(K), Ph.D, dokter spesialis urologi subspesialis perempuan, fungsional, dan neurologi, menjelaskan fenomena mengapa ibu hamil sering mengalami kebutuhan berkemih yang lebih intens. Menurutnya, pertumbuhan janin di dalam rahim memengaruhi struktur tubuh ibu hamil, khususnya bagian kandung kemih. Tekanan yang dihasilkan oleh janin pada organ tersebut menyebabkan peningkatan sensitivitas dan frekuensi dorongan untuk berkemih. “Pertumbuhan janin di dalam rahim menyebabkan peningkatan tekanan pada kandung kemih, sehingga mengakibatkan keinginan untuk berkemih yang lebih intens,” ujar Prof Rina.
Prof Rina menambahkan bahwa selama kehamilan, perubahan hormonal juga berkontribusi pada kondisi ini. Hormon seperti progesterone dapat mengurangi tonus otot kandung kemih, membuatnya lebih rentan terhadap tekanan dan kebutuhan berkemih yang mendadak. “Perubahan hormonal selama kehamilan berdampak pada fungsi organ-organ dalam tubuh, termasuk kandung kemih,” jelasnya. Hal ini tidak hanya memicu frekuensi berkemih yang lebih tinggi, tetapi juga meningkatkan risiko infeksi saluran kencing (ISK) karena saluran air seni menjadi lebih rentan terhadap bakteri.
Penyebab Utama Frekuensi Berkemih yang Tinggi
Menurut Prof Rina, tekanan janin pada kandung kemih adalah faktor utama yang membuat ibu hamil lebih sering berkemih. Saat janin berkembang, posisinya di belakang kandung kemih menambah tekanan pada area tersebut. “Tekanan ini bisa membuat ibu hamil merasa terganggu bahkan kesulitan menahan keinginan berkemih,” katanya. Kondisi ini sering dianggap sebagai hal wajar oleh banyak wanita, tetapi sebenarnya dapat menjadi tanda adanya masalah kesehatan yang perlu diperhatikan.
Besides tekanan fisik, perubahan hormonal juga berperan penting. Hormon seperti estrogen dan progesterone mengalami peningkatan selama kehamilan, yang dapat mengubah cara tubuh mengatur volume air seni. “Hormon yang diproduksi selama kehamilan mengubah respons kandung kemih, sehingga volume yang bisa ditahan lebih kecil,” tambah Prof Rina. Hal ini membuat ibu hamil lebih rentan mengalami keinginan berkemih yang tak terduga, bahkan di saat malam hari.
Tanda-Tanda dan Dampak ISK pada Ibu Hamil
ISK adalah kondisi yang sering terjadi selama kehamilan, baik karena tekanan janin maupun perubahan hormonal. “ISK merupakan masalah kesehatan yang cukup umum pada ibu hamil karena sistem saluran kencing mengalami adaptasi yang berbeda,” kata Prof Rina. Tanda-tanda utama ISK meliputi nyeri saat berkemih, keinginan berkemih yang terus-menerus, atau rasa tidak nyaman di bagian dasar panggul. Ibu hamil juga bisa mengalami keinginan berkemih yang sangat kuat, bahkan dalam jangka waktu 30 menit hingga satu jam.
Menurut Prof Rina, kondisi ini sering diabaikan karena dianggap sebagai bagian alami dari kehamilan. “Banyak wanita menganggap gejala seperti nyeri panggul atau frekuensi berkemih tinggi sebagai hal yang wajar, padahal bisa jadi tanda adanya infeksi yang membutuhkan penanganan cepat,” katanya. Jika tidak diatasi, ISK bisa berkembang menjadi infeksi yang lebih parah, seperti infeksi ginjal, yang berisiko mengganggu proses kehamilan atau menyebabkan komplikasi.
dr. Grace Frelita, Chief Medical Officer Siloam International Hospitals, menyoroti pentingnya diagnosis dini untuk mengatasi masalah kandung kemih selama kehamilan. “Masih banyak masyarakat yang mengabaikan gejala ini, menganggapnya sebagai bagian dari penuaan atau proses persalinan, padahal diagnosis yang akurat sangat dibutuhkan untuk menentukan terapi yang tepat,” ujarnya. Ia menekankan bahwa ibu hamil yang mengalami kesulitan menahan keinginan berkemih sebaiknya segera memeriksakan diri ke layanan kesehatan untuk mencegah penyebaran infeksi.
Kebutuhan Edukasi dan Deteksi Dini
Menurut Prof Rina, masyarakat perlu lebih memahami bahwa keinginan berkemih yang berlebihan bisa menjadi tanda adanya masalah yang perlu ditangani. “Banyak pasien mengabaikan gejala kecil, seperti rasa terbakar saat berkemih atau sakit di area panggul, karena dianggap normal,” katanya. Hal ini menyebabkan penundaan diagnosis dan tindakan medis yang bisa memperburuk kondisi.
dr. Grace menegaskan bahwa edukasi tentang kondisi ini sangat penting untuk mencegah komplikasi. “ISK bisa menyebabkan kerusakan pada saluran kencing jika tidak diatasi tepat waktu, terutama selama masa kehamilan,” ujarnya. Ia menyarankan ibu hamil untuk mengamati frekuensi dan volume urin, serta mengenali gejala yang mungkin menunjukkan adanya infeksi. “Dengan deteksi dini, kita bisa memberikan pengobatan yang sesuai dan mengurangi risiko komplikasi,” kata dr. Grace.
Selain itu, Prof Rina menjelaskan bahwa kehamilan juga memengaruhi sistem saraf yang mengontrol kandung kemih. “Perubahan pada sistem saraf dapat mengganggu koordinasi antara otot dan saraf, sehingga mengurangi kemampuan ibu hamil untuk menahan keinginan berkemih,” katanya. Hal ini menjelaskan mengapa ibu hamil sering merasa perlu berkemih bahkan dalam jumlah kecil, seperti setiap 15-20 menit.
Diagnosis akurat diperlukan untuk menentukan jenis terapi yang sesuai. “Tidak semua gejala kandung kemih sama, sehingga memerlukan penilaian medis yang detail,” kata Prof Rina. Terapi bisa mencakup penggunaan antibiotik, perubahan pola hidrasi, atau latihan otot pelvic floor untuk meningkatkan kontrol kandung kemih. “Dengan pendekatan yang tepat, kita bisa meningkatkan kualitas hidup ibu hamil dan mencegah risiko komplikasi selama kehamilan,” ujarnya.
dr. Grace menambahkan bahwa pengobatan yang efektif tidak hanya bergantung pada diagnosis, tetapi juga pada pemahaman masyarakat tentang kebutuhan pengelolaan kondisi ini. “Seringkali masyarakat tidak menyadari bahwa gejala yang terlihat bisa menjadi tanda adanya gangguan yang memengaruhi kesehatan ibu dan janin,” katanya. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya konsultasi rutin dengan dokter untuk memantau perubahan fisiologis yang terjadi selama kehamilan.
